Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

6 menit waktu bacaan

11 Hal dari Sejarah yang Bisa Jadi Pembelajaran Bisnis

by Sindhi Aderianti on 26 Oktober, 2018

Bisnis merupakan hal yang dinamis dan terus berkembang. Baik dalam skala yang kecil atau besar, bisnis selalu mengajarkan setiap pelakunya untuk bisa lebih cermat mengelola keuangan, menyusun strategi penjualan, sekaligus mengasah kreatifitas. Simak 11 hal dari sejarah yang bisa jadi pembelajaran bisnis.

bisnis miliaran - CekAja.com

Melihat perkembangan teknologi yang juga kian pesat, tak heran hal itu pada akhirnya digunakan banyak orang untuk ikut terjun di dunia bisnis. Tak sedikit dari mereka yang kemudian berhasil membangun bisnisnya tersebut. Lantas, dari mana mereka semua belajar bisnis?

Belajar bisnis sebenarnya bisa dari mana saja. Bahkan ada yang belajar sembari menjalankan bisnis itu sendiri. Tapi ada beberapa hal dari sejarah bisnis yang bisa diambil nilai-nilai positifnya. Hitung-hitung sebagai memotivasi diri agar bisa menjadi entrepreneur yang lebih lebih baik lagi adi masa depan.

Jangan lupakan sejarah, begitu kata orang. Dilansir dari World Economic Forum, berikut 11 hal dari sejarah bisnis yang bisa Anda pelajari.

(Baca juga: 5 Bisnis Franchise Minuman Hits yang Keuntungannya Menggiurkan)
Sempat tidak mengalami perubahan

Dahulu, bisnis cukup sulit untuk mengalami perubahan. Tidak seperti sekarang yang segalanya berkembang amat cepat. Terlalu banyak orang yang serakah dan memikirkan egonya sendiri pada saat itu.

Beberapa di antaranya malah ada yang berbuat curang seperti pada kasus penipuan Charles Ponzi and Bernie Madoff. Padahal jika banyak yang mau bersaing demi perubahan dunia bisnis, maka seharusnya bisnis dari zaman dulu sudah bisa lebih maju.

Peluang ketika harga beli turun

Ketika ingin melakukan suatu perubahan dalam bisnis, minimnya teknologi dahulu membuat pebisnis lebih mengarahkan peluangnya pada saat harga beli turun.

Karena saat harga suatu produk produk atau bahan mentah turun, di situlah kemungkinan besar akan berdampak besar. Dan ketika volume produksi meningkat, upaya memajukan bisnis mereka melalui pantauan harga dikatakan berhasil.

Bangun suatu sistem

Ingin memenangkan pasar dalam jangka waktu yang lama? Bangunlah suatu sistem terlebih dulu. Henry Ford, pemilik Ford Motor Company menilai sistem sebagai hal mendasar yang perlu dikuasai.

Lini perakitan dan rantai suplai terpadu adalah contoh sistem paling terkenal dari sejarah bisnisnya. Bila dikaitkan dengan bisnis masa kini, sistem yang dimaksud sederhananya dapat berupa metode pembayaran.

Beberapa toko online biasanya menerapkan sistem virtual account yang memudahkan pembeli tanpa harus repot mengkonfirmasi pembayarannya lagi. Sistem tersebut secara tidak langsung mampu mengikat pangsa pasar di era yang serba praktis seperti sekarang.

Perlahan tapi pasti

Bisnis tak pernah ada habisnya. Selalu ada hal yang baru untuk dijadikan sebuah keuntungan. Lalu semua itu harus dilakukan dengan cepat. Namun di beberapa sektor bisnis, prinsip perlahan tapi pasti justru akan lebih baik.

Misalnya, ada beberapa orang yang mungkin ingin menciptakan evolusi teknologi robot dengan cepat, prosesnya tentu tidak mungkin instan. Segala hal perlu dipikirkan dengan matang, karena berkaitan dengan penerapannya selama 30 tahun ke depan atau lebih.

(Baca juga: 5 Bisnis dengan Modal Rp1 Juta yang Bisa Beri Untung Maksimal)
Memahami kebutuhan konsumen

Belajar bisnis berarti juga mengharuskan setiap orang untuk memahami kebutuhan konsumen secara matang. Ambil contoh di Swedia puluhan tahun silam. Saat itu seorang sosiologis menunjukkan betapa besanya jumlah pasangan yang menikah di usia muda pasca Perang Dunia II.

Otomatis, para pasangan muda ini membutuhkan furnitur yang nyaman tapi terjagkau dari segi harga. Melihat peluang ini, sebuah perusahaan bernama IKEA tak tinggal diam. Mereka lantas menciptakan furnitur yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumen tadi. Dari situ, namanya pun berhasil mendunia.

Fokus pada bisnis jangka panjang

Selama 50 tahun terakhir, pasar modal menunjukkan bahwa internet telah memberi pengaruh yang cukup besar pada dunia bisnis. Perusahaan e-commerce seperti Amazon contohnya. Ia terbukti mampu bertahan dalam jangka waktu yang panjang, yakni  sejak 24 tahun silam.

Bisnis yang dapat bertahan lama tentu merupakan impian setiap orang. Maka dari itu bagaimana gaya berbisnis Amazon bisa menjadi contoh yang paling relevan dengan era digital seperti sekarang.

(Baca juga: Laris Manis, Ini 5 Bisnis Fashion Wanita yang Paling Diminati)
Dahulukan integrasi horizontal, baru vertikal

Kebanyakan orang selalu berpikir kalau perusahaan minuman ringan seperti Coca-Cola pasti competitor utamanya adalah Pepsi. Padahal sesungguhnya secara horizontal, Coca-Cola harus mampu menguasai produsen botol dan gula terlebih dahulu dibandingkan memikirkan kompetitor yang apple to apple, karena cost terbesarnya ada di kedua hal tersebut. Setelah itu barulah Coca-Cola secara vertical memikirkan pangsa pasar tertentu melalui pertumbuhan organik, merger, dan akuisisi.

Seimbangkan jiwa kepemimpinan dan manajemen

Sepanjang sejarah ada banyak contoh perusahaan yang tersendat karena mereka telah kurang bisa mengelola manajemennya. Umumnya karena leader yang masih kurang berperan dengan baik.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, agar bisnis dapat terus berkembang, Anda harus memiliki kepemimpinan dan manajemen yang mampu bergotong royong satu sama lain dengan seimbang.

Banner Kartu Kredit Oktober 2018

Miliki 3 sosok pemimpin yang dibutuhkan

Melanjutkan poin di atas, seorang pemimpin yang diperlukan dalam konteks ini adalah mereka yang memiliki watak segigih dan penuh ide seorang pengusaha. Ditambah sifat manajer yang mampu mengatur ide menjadi eksekusi sesuai tujuan.

Dari itu semua, barulah lahir pemimpin yang diharapkan. Hanya sangat jarang seorang pemimpin bisnis bisa menjadi tiga hal sekaligus.

Tidak selamanya harus selalu “win-win”

Di bisnis dengan skala yang lebih besar, konsep “win-win” tidak selamanya harus selalu diterapkan. Dalam sebagian besar kasus, “win-win” hanya akan membebani tujuan bisnis. Terutama ketika Anda baru saja memulai bisnis.

Kerugian bisa saja terjadi, seperti memberi promo diskon demi dapat mengejar banyak target konsumen. Asalkan nantinya Anda bisa menutupi kerugian yang pernah muncul dengan angka penjualan lebih besar ke depannya.

(Baca juga: 5 Tips Sukses Bisnis Pet Shop)
Bisnis nirlaba sempat diprioritaskan

Bisnis secara alamiah mampu mendorong kemajuan ekonomi dan inovasi di masyarakat. Termasuk bisnis yang bergerak di sektor nirlaba. Dahulu, beberapa perusahaan nirlaba sempat lebih dikedepankan. Namun seiring dengan munculnya tujuan-tujuan baru dalam berbisnis, perlahan prioritas pada perusahaan nirlaba pun berangsur menurun.

Tertarik untuk belajar bisnis lebih dalam? Jangan takut untuk mengambil beberapa pembelajaran dari 11 sejarah bisnis di atas dan mencobanya. Sebab bekal utama dalam berbisnis yang sering terlupa sebenarnya adalah keberanian. Singkatnya Anda tidak akan tahu, jika Anda tidak mencoba.

Tentang Penulis

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.