Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

4 Fakta Minuman Berpemanis Bakal Kena Cukai, Boba Wassalam?

by Anes Saputra on 24 Februari, 2020

Selain plastik, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga mengusulkan pengenaan tarif cukai untuk produk minuman berpemanis. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan usulan ini didasarkan pada fenomena banyaknya masyarakat Indonesia yang terkena penyakit akibat gula dan makanan berpemanis.

Bahkan Sri Mulyani menyebutkan kalau prevelensi diabetes melitus dan obesitas meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 11 tahun.

Sebagai informasi, cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang konsumsinya perlu dikendalikan dan peredarannya perlu diawasi. Sebab pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat atau lingkungan hidup.

Sehingga benda-benda yang dikenakan cukai selama ini adalah rokok, produk hasil tembakau, vape, sampai minuman beralkohol. Nah, berikut adalah 4 fakta dibalik wacana Kemenkeu mengusulkan pungutan cukai bagi minuman berpemanis. Simak yuk.

1. Objek cukai

Adapun objek cukai minuman berpemanis adalah minuman yang mengandung pemanis baik gula dan pemanis buatan yang siap untuk dikonsumsi, dan minuman yang konsentratnya dikemas dalam bentuk penjualan eceran dan konsumsinya masih memerlukan proses pengenceran.

Meski begitu ada pengecualian untuk produk yang dibuat dan dikemas secara non pabrikasi, barang diekspor dan untuk produk madu dan jus sayur tanpa tambahan gula. Sementara itu, subjek cukai untuk minuman berpemanis yaitu pabrikan dan importir dan untuk tarif cukai sifatnya spesifik multi tarif atau berdasarkan kandungan gula dan pemanis buatan.

Salah satu produk yang akan dikenakan adalah teh kemasan. Minuman yang diproduksi sebanyak 2.191 juta liter per tahun, maka apabila dikenakan tarif cukai Rp1.500 per liter maka potensi penerimaannya sebesar Rp2,7 triliun.

(Baca juga: 8 Fakta Tarif Cukai Kantong Plastik. Cuma Demi Kas Negara?)

Untuk produk minuman karbonasi biaya tarifnya Rp2.500 per liter dan produk minuman lainnya seperti energy drink, kopi konsentrat dan sejenisnya dikenakan biaya yang sama yaitu sebesar Rp2.500 per liter.

2. Berdampak pada Inflasi

Pengenaan cukai bakal berdampak signifikan terhadap inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, andil kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau adalah yang tertinggi kedua setelah kelompok makanan.

Ditambah lagi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) masih menganalisis dampak pengenaan cukai terhadap minuman berpemanis terhadap industri minuman di Tanah Air.

Meski kajian masih berjalan, diprediksi kebijakan itu akan berdampak terhadap penurunan permintaan. Selain itu, kinerja produksi juga diproyeksi akan menurun dan berdampak terhadap pertumbuhan industri minuman.

3. Cukai minuman berpemanis di negara lain

Langkah Sri Mulyani menarik cukai dari minuman berpemanis bukan hal yang aneh di berbagai negara. Bahkan sejumlah negara menarik cukai dari barang lain misalnya, kendaraan ber-AC. Kanada menerapkan cukai untuk kendaraan ber-AC sebesar US$ 100 per kendaraan yang dibeli di Kanada atau diimpor dari Amerika Serikat (AS).

Lebih aneh lagi, Jerman mengenakan cukai untuk kopi dengan nilai yang lumayan, yakni 2,19 euro per kilogram (kg) untuk produk kopi roasted dan 4,78 euro per kg untuk yang instan.

Sementara itu, Inggris mengenakan cukai produk perjudian, termasuk permainan bingo, tiket lotre, dan mesin perjudian. AS juga punya cukai serupa, termasuk transaksi perjudian legal dan ilegal.

Adapun Denmark, Finlandia, Hungaria, Perancis, Meksiko, Inggris, Australia, India, Malaysia, dan AS telah melakukan cukai terhadap minuman bersoda dan jus.

4. Minuman manis kekinian milenial

Banyak kekhawatiran soal cukai minuman berpemanis akan berpengaruh pada industri. Tentu saja, hal ini masuk akal mengingat generasi milenial tanah air gemar sekali minum-minuman manis, antara lain:

  • Boba

Boba menjadi urutan teratas karena kerap menjadi fenomena, yaitu tiap ada gerai baru dari merek internasional antreannya sangat tidak manusiawi. Berasal dari Taiwan, minuman ini memiliki beragam rasa, namun yang paling hits tentu saja varian brown sugar.

(Baca juga: Hitsnya Boba Drink, Bikin Antrian Mengular Sampai Meninggal Karena Tersedak)

Tak hanya itu, topping berupa bubble yang terbuat dari tepung tapioka membuat minuman ini kian digemari. Bukan hanya merek internasional, saat ini banyak pengusaha lokal yang juga mengembangkan minuman ini dengan ciri khas masing-masing.

  • Kopi Susu

Minuman kopi susu gandrung sejak 2017 dan masih berlanjut hingga kini. Gerai kopi susu bahkan menjamur di mana-mana, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga di sepanjang jalan bisa dengan mudah ditemukan.

Selain kopi hitam dan latte, varian kopi susu kekinian berupa campuran brown sugar sangat diminati. Selain membuat rasanya lebih gurih, brown sugar juga dianggap bisa meng-highlight rasa kopi jadi lebih nikmat.

  • Thai Tea

Thai Tea menjamur lebih dahulu sebelum kopi susu maupun boba, minuman berwarna oranye ini berasal dari Negeri Gajah Putih ini sempat gandrung dan menjamur. Minuman yang pahit dan manis getir ini juga menjadi salah satu minuman manis favorit milenial.

Citi Cash Back Card

Nah, bagi kamu pecinta jajan minuman manis, sangat tepat kalau kamu memiliki kartu kredit dari CitiBank, yaitu Citi Cash Back Card. Pasalnya, kalau kamu jajan minuman kesukaanmu kamu bisa mendaptkan cashback 1 persen untuk semua transaksi tanpa limit cashback, tanpa batas waktu penukaran, dan tanpa belanja minimum.

Apalagi cashback bagi pemegang kartu kredit dari Citibank ini berlaku selamanya, meski hanya di merchant pilihan. Kalau gitu, tunggu apalagi, yuk jajan sekarang dengan Citi Cash Back Card, mumpung minuman manis kegemaran kamu belum kena cukai!

Tentang Penulis

Anes Saputra

Artikulasi Sinekdoke