Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

5 menit waktu bacaan

5 Keuntungan Pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali

by Miftahul Khoer on 9 Oktober, 2018

Pertemuan tahunan antara International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia yang digelar di Bali pada tanggal 8-14 Oktober 2018 ternyata tidak hanya mengangkat martabat Indonesia sebagai tuan rumah di mata dunia. Terdapat sejumlah keuntungan lain yang bisa didapatkan. Simak lima keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali.

Sebenarnya apa saja benefit yang bisa diambil dari ajang pertemuan tersebut bagi pemerintah dan masyarakat Bali pada umumnya? Langsung simak saja yuk keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali!

Sektor pariwisata makin terangkat

Bagi sebagian wisatawan asing, Bali merupakan salah satu destinasi wisata tujuan yang paling dicari dari sekian tempat wisata dunia. Sebab, pamor Bali menyuguhkan beragam eksotika yang banyak mencuri perhatian wisatawan.

Dengan digelarnya ajang tersebut, maka keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali adalah membuat pamor Pulau Dewata itu makin terangkat. Tak terkecuali nama Indonesia sebagai negara yang menaungi ribuan pulau termasuk Bali.

Pihak penyelenggara mengestimasikan jumlah tamu undangan yang hadir ke ajang bergengsi tersebut mencapai 34.000 orang dari seluruh dunia. Para tamu yang hadir tersebut berasal dari para menteri keuangan, gubernur bank, ekonom, pengusaha hingga kalangan akademisi dunia.

Secara otomatis, jumlah kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Bali pada bulan ini mengalami peningkatan. Sekedar informasi, pada 2017 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai sekitar 5,7 juta orang atau mengalami peningkatan dibandingkan pada 2013 yang mencapai 3,28 juta orang.

Hingga Agustus 2018 saja, tercatat wisatawan asing yang berkunjung ke Bali mencapai sekitar 4 juta orang. Adapun, khusus untuk jumlah wisatawan lokal pada 2017 yang berkunjung ke Bali mencapai 8,74 juta orang atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 6,98 juta orang.

Ekonomi Bali menggeliat

Membincang peningkatan sektor pariwisata di Bali dari dampak positif ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia, tentu berkaitan dengan peningkatan ekonomi di pulau tersebut.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengestimasikan ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia tersebut diprediksi bakal memberikan nilai tambah terhadap ekonomi Bali yang mencapai sekitar Rp6 triliun.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo bahkan mengklaim perhelatan tersebut berdampak secara langsung terhadap perekonomian Bali sekitar Rp1,1 triliun. Nilai estimasi tersebut berasal dari sektor hotel, makan dan minum, tranportasi, belanja, hingga penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WBG.

Bukan hanya keuntungan ekonomi secara makro, dampak positif dari perhelatan tersebut juga berimbas terhadap ekonomi skala kecil dan menengah. Pelaku usaha mikro kecil dan menengah hingga pengrajin pernak-pernik di Bali juga bakal ketiban untung.

Pasalnya, selain wisatawan reguler yang datang ke Bali, para delegasi pertemuan IMF dan Bank Dunia juga diperkirakan akan banyak memborong oleh-oleh khas kerajinan Bali yang diproduksi oleh masyarakat setempat.

(Baca juga: Cek, Fakta Unik Dibalik Perjuangan Orang-orang Terkaya!)
Buktikan kondisi ekonomi negara

Pro dan kontra terhadap pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali memang terus mengemuka. Tudingan bahwa Indonesia terus bertekuk lutut terhadap IMF dan Bank Dunia juga seringkali terdengar.

Namun, ajang tersebut justru mengkonfirmasi bahwa meski Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan IMF dan Bank Dunia 2018, bukan berarti Indonesia akan mengutang terhadap IMF.

Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF justru menuturkan kondisi perekonomian Indonesia dinilai dalam kondisi stabil karena dikelola secara baik oleh pemerintah. Meskipun kabar duka seperti bencana alam melanda di beberapa wilayah Indonesia.

Lagarde bahkan mengklaim Indonesia merupakan tempat terbaik diselenggarakannya ajang tahunan tersebut. Padahal tiga tahun sebelumnya ia tidak membayangkan bahwa Indonesia akan dilanda bencana alam seperti di Lombok dan Palu. Meski demikian, ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia tetap berjalan.

Pernyataan Lagarde tersebut diperkuat oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyatakan bahwa ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali bukanlah kesempatan Indonesia untuk berutang.

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa IMF hanya akan memberikan pinjaman terhadap negara-negara yang mengalami krisis keuangan. Misalnya, pada 1997-1998 ketika Indonesia mengalami krisis yang berutang pada IMF mencapai 9,1 miliar dolar AS. Adapun, Indonesia sudah tidak berutang kepada IMF sejak 2006.

(Baca juga: Digital Onboarding di Industri Keuangan? Ini Fitur-fitur Lengkapnya)
Diyakini banjir investasi

Banyak keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali. Dari sekian ratusan negara dan puluhan ribu delegasi termasuk para pengusaha dunia, pemerintah meyakini bakal banyak investasi masuk.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah menawarkan investasi senilai Rp522 triliun kepada para tamu undangan ajang tersebut. Adapun, investasi yang ditawarkan berasal dari sektor infrastruktur seperti proyek pembangunan bandara dan jalan tol serta sektor pariwisata dan perkebunan.

Solidaritas untuk korban bencana

Pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali ini banyak dicibir oleh sebagian masyarakat dan juga para tokoh politik yang menilai ajang tersebut tidak pantas digelar di Indonesia karena sedang berduka. Ajang tersebut juga dinilai tidak memberikan rasa empati terhadap korban bencana.

Namun, pihak penyelenggara membuktikan bahwa ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia justru tidak melupakan tragedi bencana Tanah Air. Misalnya, di salah satu venue terdapat kedai kopi solidaritas untuk korban bencana. Hal itu menjadi keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali.

Setiap kopi yang diminum akan dihargai senilai Rp100.000 per cangkir. Kemudian total dana dari kopi tersebut akan diberikan kepada korban bencana di Lombok dan Palu. Diperkirakan selama ajang tersebut digelar, tersedia sekitar 10.500 cangkir kopi solidaritas yang akan habis untuk donasi korban bencana.

Jika diakumulasikan, akan terkumpul lebih dari Rp1 miliar donasi dari kopi solidaritas tersebut. Hal itu akan sangat membantu bagi para korban bencana.

Selain menjadi ajang untuk solidaritas, adanya kedai kopi di venue pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali juga sekaligus mengenalkan kopi nusantara terhadap dunia. Sebab para tamu yang hadir berasal dari berbagai penjuru dunia dan banyak dari mereka yang pecinta kopi.

Nah, itulah beberapa keuntungan pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali. Semoga ajang tersebut bermanfaat bagi bangsa dan negara. Setuju?

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.