Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

5 Risiko Berbahaya yang Pernah Terjadi di Pesawat

by Rafly Aditia on 14 Januari, 2016

pilot - CekAja

Tidak ada sarana transportasi yang bebas risiko. Mulai dari mobil, kereta hingga kapal punya risiko yang bisa saja menimpa semua orang. Tidak terkecuali pesawat yang notabene alat transportasi paling aman di dunia.

Lantas apa saja sih risiko yang mengancam keselamatan penumpang dan pernah terjadi di pesawat terbang? Berikut ini daftarnya:

(Baca juga: Ini Penyebab Kecelakaan Transportasi Fatal di Indonesia Sepanjang 2015)

Pembajakan pesawat

Pembajakan atau aksi teror di dalam pesawat adalah salah satu resiko yang bisa dan pernah terjadi. Bahkan sebuah maskapai lokal terkenal seperti Garuda Indonesia pun pernah mengalami hal ini. Pada 28 Maret 1981 silam, pesawat Garuda Indonesia penerbangan 206 yang berangkat dari bandara Talang Betutu, Palembang menuju Bandara Internasional Polonia, Medan dimasuki lima orang teroris yang melakukan pembajakan.

Dalam aksinya, teroris menciderai 2 penumpang serta membunuh 1 orang pilot dan 1 orang anggota Kopasus. Pembajakan yang dikenal dengan nama Peristiwa Woyla ini berakhir setelah empat hari dimana proses penyelamatan dilakukan oleh 35 Komando Kopassus dan 20 Komando RTAF Thailand.

Widget TRV Insurance

Ban pesawat tidak keluar saat mendarat

Setiap komponen yang ada pada pesawat memiliki fungsinya masing-masing, termasuk ban pesawat yang memiliki peran penting untuk pendaratan. Ban pesawat berfungsi menahan beban pesawat saat mendarat dan memperlambat laju pesawat ketika sudah menyentuh daratan. Bisa kamu bayangkan apabila ban pesawat tidak keluar ketika pilot ingin mendaratkan pesawatnya. Apa yang akan terjadi? Malapetaka!.

Pada anggal 10 November 2009 silam pesawat Sriwijaya Air yang memiliki rute Banda Aceh-Jakarta dengan nomor penerbangan SJ011 mengalami gangguan saat ingin mendarat di bandara Internasional Polonia, Medan. Ban depan pesawat tersebut tidak bisa keluar sehingga sang pilot harus berputar-putar di sekitar bandara selama 35 menit, hal ini membuat para penumpang khawatir. Namun, untunglah para mekanik yang bertugas sigap dan berhasil mengatasi masalah tersebut sehingga akhirnya pesawat bisa mendarat dengan mulus.

Pintu terbuka

Kalau yang satu ini merupakan kesalahan yang dilakukan oleh pihak maskapai terutama teknisi dan crew pesawat yang kurang memperhatikan keadaan pesawat. Padahal umum diketahui seluruh bagian pesawat harus dicek terlebih dahulu sebelum pesawat lepas landas.

Sayangnya, hal kecil seperti ini pun bisa luput dari perhatian. Pesawat Lion Air GT 926 yang melakukan penerbangan dari Bali ke Makasaar pada tanggal 27 Desember 2015 mengalami kejadian ini. Seorang penumpang pesawat mengatakan bahwa beberapa menit setelah pesawat lepas landas terdengar suara gemuruh yang keras.

Pilot yang bertanggung jawab dalam penerbangan tersebut pun memilih untuk kembali ke bandara karena melihat indikator tanda bahaya menyala. Bisa kamu bayangkan kalau sang pilot tetap memaksakan perjalanan di udara pada saat itu, udara dan angin kencang bisa memasuki pesawat dari pintu yang tidak tertutup rapat dapat membuat tekanan udara meningkat dan pesawat mengalami gangguan serius dan berpotensi besar mengalami kecelakaan.

(Baca juga: 5 Kecelakaan Transportasi Fatal di Dunia Sepanjang 2015)

 

Pilot mabuk saat terbang

Ketika kamu memutuskan untuk menggunakan pesawat saat berpergian, maka keselamatan kamu berada di tangan para kru terutama pilot Tapi, apa jadinya kalau pilot yang menerbangkan pesawat tidak sepenuhnya sadar?

Lagi-lagi maskapai Lion Air yang bermasalah, seorang Pilot Lion Air pesawat 990 yang bertanggung jawab pada penerbangan dari Surabaya ke Denpasar diduga dalam keadaan teler saat menerbangkan pesawat. Bagaimana tidak, pilot ini bertingkah aneh seperti meracau hingga terdengar suara desahan dari ruang pilot saat pesawat sedang mengudara

Kasus ini pun menjadi polemik karena pihak Lion Air melakukan pembelaan dengan bersikukuh pilot tidak dalam keadaan mabuk pada saat menerbangkan pesawat.

Pendaratan di air (Ditching)

Ditching merupakan proses pendaratan di perairan atau laut yang dilakukan oleh kapten penerbang atau pilot in command karena terpaksa. Proses pendaratan di air ini sangat sulit dilakukan dan sangat berisiko. Tetapi, sebuah pendaratan di air berhasil dilakukan oleh Abdul Rozak, pilot pesawat Garuda bernomor penerbangan GA421 rute Lombok-Yogyakarta pada 16 Januari 2002.  Aksi heroik ini dilakukan oleh kapten Rozak di sungai Bengawan Solo. Karena aksinya ini, Rozak mendapatkan pernghargaan dari dunia penerbangan.

Widget TRV Insurance

Tentang Penulis

Rafly Aditia

Writer. Fitness enthusiast.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami