Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

6 Fakta Dibalik Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia

by Anes Saputra on 20 Maret, 2020

Tahukah kamu bahwa ada peringatan penting di seluruh dunia pada tanggal 21 Maret setiap tahunnya? Ya, pada tanggal tersebut dunia memperingati yang namanya Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia.

Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia

Peringatan apakah itu dan sejak kapan ada hari seperti itu? Bagaimana cara merayakan atau memperingatinya? Pertanyaan itu mungkin muncul di kepala banyak orang karena selama ini masyarakat Indonesia memang jarang mengetahui soal hari internasional tersebut.

Untuk mengetahui lebih lanjut soal sejarah dan fakta lain di balik Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial sedunia, simak yuk fakta-fakta berikut ini.

  1. Cerita di balik pemilihan tanggal 21 Maret

Kamu pasti sudah menebak bahwa pemilihan tanggal 21 Maret tidak mungkin dilakukan secara acak. Tentu ada alasan atau peristiwa penting yang melatarbelakangi pemilihan tanggal tersebut. Ya, kamu benar. Tepat pada tanggal 21 Maret 1960 ada sebuah tragedi bersejarah di wilayah Sharpeville, Afrika Selatan.

Pada hari itu ada aksi damai untuk menentang hukum apartheid yang saat itu masih berlaku. Aparteid sendiri merupakan politik yang membeda-bedakan orang berdasarkan ras, agama hingga kelas sosial. Menurut sistem itu, orang berkulit hitam dianggap memiliki kelas yang lebih rendah dibanding kulit putih.

Sekitar 200 ribu orang bergabung dalam aksi di Sharpeville. Mereka terdiri dari laki-laki, perempuan, bahkan ada anak-anak. Sayangnya aksi itu menjadi tidak terkontrol dan polisi menembak para peserta yang sedang melakukan aksi.

Ada 69 korban yang meninggal dunia termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak. Selain itu tercatat ada ratusan orang yang menderita luka-luka akibat peristiwa brutal tersebut.

  1. Pengesahan oleh PBB

Peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial sedunia tidak langsung ditetapkan tepat setelah peristiwa Sharpeville. Enam tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1966, negara-negara yang menjadi anggota Majelis Umum PBB baru mengesahkan sebuah resolusi yang secara resmi menetapkan bahwa 21 Maret akan diperingati sebagai Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia.

  1. Pengumuman dari MU PBB

Setelah pengesahan resolusi tersebut, tidak berarti semua negara di dunia langsung ikut serta dalam peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial. Mejelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) baru memberikan pengumuman resmi yang meminta seluruh negara untuk memperingati hari tersebut pada tahun 1979.

MU PBB meminta agar peringatan diselenggarakan selama satu minggu. Bukan hanya untuk mengenang apa yang sudah terjadi dalam sejarah, peringatan ini juga bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada orang-orang yang telah atau sedang berjuang menghadapi diskriminasi dan rasisme.

(Baca juga: Diskriminasi Rasial, Sakitnya Tuh Di Sini!)

Peringatan tersebut juga diharapkan mampu mengingatkan kita untuk melawan diskriminasi rasial dan kekerasan fisik maupun tindakan diskriminatif lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Segala prasangka buruk dan stereotype terhadap orang dengan warna kulit, budaya, atau ras yang beda tidak boleh dilestarikan lagi.

  1. Memiliki tema

Setiap tahunnya PBB memberikan tema yang berbeda untuk peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial sedunia. Berikut ini adalah beberapa tema yang pernah digunakan: Diskualifikasi Rasisme (2010), Peran Pemimpin dalam Melawan Rasisme dan Diskriminasi Ras (2014), Belajar dari Tragedi untuk Menghapuskan Diskriminasi Ras Saat Ini (2015), dan Mitigasi dan Melawan Meningkatnya Supremasi Nasionalisme dan Ideologi Ekstrem (2019).

  1. Kegiatan selama peringatan

Setelah kamu mengetahui sejarah dan tujuan peringatan hari internasional ini, kamu pasti akan bertanya juga “apa yang harus kamu lakukan untuk ikut berpartisipasi?”. Setiap tahunnya biasanya masing-masing negara akan memiliki cara tersendiri. PBB biasanya akan membuat webcast yang menampilkan pemimpin dunia atau petinggi PBB.

Ada juga berbagai macam diskusi tentang penghapusan atau cara melawan diskirimasi ras yang melibatkan pemuda. Berbagai kampanye di media sosial juga bisa dilakukan dengan menggunakan hashtag tertentu. Ada juga publikasi essay, foto, dan artikel terkait diskriminasi dan rasisme.

(Baca juga: Dunia Berduka Akibat Corona, Kamu Kok Masih Rasis Aja?)

Karena saat ini sedang ada penyebaran Covid-19, PBB sendiri sudah mengumumkan tidak ada peringatan yang melibatkan kerumunan. Masyarakat diimbau untuk tidak mengadakan acara seperti parade atau sejenisnya dan lebih mengedukasi diri sendiri dengan membaca atau menonton tentang isu diskiriminasi ras, xenophobia, dan intoleransi.

  1. Kampanye di media sosial

Mengajak orang lain untuk tidak bersikap diskriminatif, tidak harus dengan parade. Sekarang ini kamu bisa ikut kampanye dan diskusi secara online di media sosial.

UN Human Rights Office sudah meluncurkan sebuah hashtag yang layak untuk kamu ikuti yakni #FightRacism. Kamu juga bisa memberikan dukungan bagi mereka yang saat ini masih mengalami diskriminasi dan kekerasan dengan menggunakan hashtag #FightRacism.

Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia sebenarnya hanya pengingat supaya kita tidak bersikap rasis dan diskriminatif kepada siapapun. Intinya, kita harus menjunjung toleransi dan kesetaraan setiap hari dalam kehidupan bukan hanya saat peringatan tertentu saja.

Setelah mengedukasi diri sendiri, tidak ada salahnya kamu juga mengedukasi orang lain agar tidak rasis. Belakangan xenophobia makin meningkat dan banyak orang di dunia ini yang masih menderita karena rasisme. Yuk, kita sama-sama melawan ketidakadilan tersebut dan saling membantu apabila ada teman yang membutuhkan.

Seperti halnya Kredivo, perusahaan peer to peer (P2) lending yang telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang selalu siap membantu semua kebutuhan finansial kamu yang lagi membutuhkan.

Ajukan pinjaman online dari Kredivo, lewat CekAja.com sekarang juga!

Tentang Penulis

Anes Saputra

Artikulasi Sinekdoke