Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

7 Masalah Keuangan yang Biasanya Dihadapi Milenial

by Sindhi Aderianti on 31 Januari, 2019

Tahun ini merupakan masa-masa dimana para milenial sedang menapaki usia produktif di dunia kerja. Namun, tidak sedikit milenial di usia awal membangun karier, justru salah dalam mengelola keuangan. 

atur uang thr

Jika dilihat dari segi usia, generasi dengan tahun lahir 1984-2000 itu termasuk ke dalam rentang yang telah sepatutnya mandiri secara finansial. Dengan apa yang dimiliki sekarang, bangga pastinya karena dapat menghasilkan uang sendiri tanpa difasilitasi orangtua lagi. Euphoria gaji pertama pun terus berlanjut hingga melupakan fokus keuangan untuk kebutuhan masa depan.

Walau saat ini dampaknya belum terlihat nyata, tapi cepat atau lambat beban finansial tersebut pasti akan terasa. Apalagi hidup tidak sebatas hura-hura, ada fase lain yang nantinya harus dihadapi, seperti menikah dan punya anak. Bila kondisi finansial masih ‘pincang’, tentu akan sulit untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kurangnya Ilmu Pengelolaan Uang Sejak Dini

Pernahkah Anda berpikir jika seandainya pengelolaan uang dijadikan mata pelajaran di bangku sekolah, seberapa besar manfaatnya kelak? Ini yang perlu diakui, ilmu tersebut tidak pernah didapat oleh generasi manapun. Bukan hanya milenial, tapi juga generasi sebelumnya seperti baby boomer dan generasi X.

Ada memang pelajaran ekonomi. Namun, fokusnya lebih kepada cara mengelola keuangan perusahaan, seperti yang diajarkan pada kelas Akuntansi. Itupun jika dulu Anda mengambil kelas IPS begitu penjurusan saat SMA. Secara tidak langsung, ‘nasib’ keuangan pribadi pun lama-lama terabaikan. Padahal mengelola keuangan yang baik itu haruslah dimulai sejak dini.

(Baca juga: INTERVIEW: Siasat Membeli Rumah untuk Milenial)
Punya Uang Jangan Lengah, Hindari Kebiasaan Ini!
  • Tuntutan gaya hidup

Milenial sering kali mudah tergoda dengan gaya hidup yang cukup menguras kantong. Kendati sudah punya uang sendiri, mereka pun dapat bebas meggunakannya sesuka hati. Kadang tujuannya pun hanya agar diterima oleh pergaulan. Mungkin sekilas yang terlihat hanya sekedar ‘nongkrong’ di kafe beberapa kali dalam sebulan, tapi pengeluaran untuk hal tersebut justru kalau dihitung-hitung sangat besar, lho.

  • Habis di sewa tempat tinggal

Dengan alasan efisiensi dan kenyamanan, banyak pula milenial akhirnya memilih untuk tinggal sendiri di dekat area kantornya. Nah, mengeluarkan lebih dari 30 persen pendapatan untuk menyewa tempat tinggal adalah suatu kesalahan yang seharusnya bisa dihindari. Kalau memang kebutuhan ini tak bisa dipangkas, maka cari pos pengeluaran lain yang kiranya bisa dihilangkan.

  • Work hard, travel harder

Tujuh dari sepuluh generasi milenial menganggap bahwa liburan bisa menstimulus ide-ide segar. Rata-rata anggaran liburan mereka berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Destinasinya beragam, bisa dalam ataupun luar negeri.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kebiasaan traveling, hanya saja perlu lebih perhitungan dalam mengatur anggarannya. Terutama dari segi transportasi dan akomodasi. Menginap di villa misalnya, mungkin lebih nyaman dan terjaga privasinya. Namun, hitung lagi tarif per malamnya, jika akan menguras hampir setengah pengeluaran, untuk apa? Lagipula, saat ini juga sudah banyak tour & travel yang menawarkan paket wisata murah, kok. Anda bisa memilih alternatif tersebut agar bisa jalan-jalan tanpa ‘merusak’ anggaran.

  • Beli barang serba nyicil

Hidup dengan juga menjadi salah satu yang diidentikkan oleh generasi milenial. Ada gadget keluaran terbaru? Rasanya wajib punya, meskipun harga yang ditawarkan selangit bahkan melebihi jumlah gaji. Bukan hanya itu, melihat barang mewah lain seperti tas atau sepatu niatnya pun akan sama. Tak ayal, banyak diantara mereka yang berani membeli semua barang tersebut dengan cara menyicil. Tenor maksimal 24 bulan juga berani dijabani.

  • Pakai kartu kredit tanpa berpikir panjang

Kemudahan ‘tinggal gesek’, bukan dimaksudkan untuk selalu menggantungkan pembayaran berbagai transaksi dengan kartu kredit. Survei yang dilakukan oleh perusahaan multinasional PricewaterhouseCoopers (PwC) menemukan bahwa 41 persen milenial merasa sulit untuk memenuhi pengeluaran rumah tangga bulanan mereka karena upah yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Oleh karena itu, 45 persen dari mereka terpaksa menggunakan kartu kredit untuk melakukan beberapa pembelian apabila nominalnya cukup besar.

  • Acuh terhadap reputasi kredit

Terlalu sering menggunakan kartu kredit hingga sengaja menunggak, akibatnya cukup fatal. Sebab, penunggakan tersebut akan berimbas pada reputasi kredit Anda nantinya. Bila suatu hari membutuhkan kredit atau pinjaman dari bank, Anda akan sulit mendapatkannya hanya lantaran di masa lalu Anda pernah mencatat reputasi kredit yang buruk. Selagi masih muda, justru Anda perlu membangun reputasi kredit sebaik mungkin supaya kebutuhan finansial di masa mendatang tidak terhambat.

  • Mengabaikan pentingnya asuransi

Sering ditawarkan untuk membeli asurasi, tapi ditolak mentah-mentah. Ya, kebanyakan milenial umumnya merasa belum butuh asuransi. Apapun jenis asuransi itu, termasuk kesehatan atau jiwa. Preminya juga dirasa masih kurang terjangkau. Padahal asuransi mengambil peran amat penting, terlebih jika Anda belum punya dana darurat. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan medis, ketika tiba-tiba jatuh sakit.

(Baca juga: 4 Tantangan Keuangan yang Harus Dijawab Generasi Milenial)
Investasi dengan Asuransi

Masalah keuangan yang kerap mendera kaum milenial tersebut, bukan tidak mungkin akhirnya menimbulkan efek buruk yang berkepanjangan. Karena itu, gunakanlah dana yang Anda miliki secara bijak, salah satunya dengan cara berinvestasi lewat asuransi (unit link).

Sebagai bagian dari asuransi, unit link sering disebut sebagai asuransi dengan dua kantong. Maksudnya adalah kantong untuk proteksi dan kantung investasi. Jadi, nantinya uang premi yang dibayarkan sebagian digunakan untuk membayar proteksi, kemudian sebagian lagi ditempatkan pada reksa dana dalam bentuk unit link.

Banyak instrumen investasi yang digunakan untuk mendukungnya, seperti saham, obligasi, campuran dan pasar uang. Karena itu, produk unit link ini dianggap menarik karena menawarkan imbal hasil yang jauh diatas tabungan atau deposito.

Sebagai marketplace produk keuangan pertama di Indonesia, CekAja memberikan informasi serta perbandingan produk unit link ini secara lengkap. CekAja juga Bermitra dengan banyak perusahaan asuransi ternama. Prosesnya cepat, mudah dan aman dalam pengajuan unit link. Kunjungi website resmi CekAja sekarang juga, untuk langsung merasakan layanan terbaiknya!

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami