Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

9 Jenis Imunisasi untuk Bayi 0-12 Bulan yang Wajib Diketahui Para Orang Tua

by Ayunindya Annistri on 9 Juli, 2020

Anak adalah anugerah terindah yang sudah seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik. Makanya sejak ia dilahirkan, orang tua wajib memberikan imunisasi agar anak terhindar dari berbagai penyakit. Nah, kalau saat ini kamu baru menjadi seorang ibu, berarti penting bagimu memahami jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan.

Jenis Imunisasi untuk Bayi 0-12 Bulan

Mengapa Imunisasi itu Penting?

Apabila kamu baru melahirkan anak pertama, ya wajar saja jika masih belum paham akan ragam jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan. Imunisasi ini penting untuk diberikan kepada buah hati, mengingat diusia tersebut, bayi sangat rentan terkena penyakit berbahaya yang dapat mengancam kesehatannya.

Memang sih, kalau dipikir-pikir kembali bayi yang baru lahir sebetulnya telah memiliki antibodi alami yang didapat sejak dia masih berada dalam kandungan.

Namun, faktanya antibodi tersebut tidak dapat bertahan lama, bahkan hanya dalam hitungan bulan saja. Nah, disinilah imunisasi dibutuhkan, yang mana prosesnya sendiri dilakukan dengan cara menyuntikkan vaksin atau tetes mulut, agar tubuhnya kebal terhadap penyakit.

Jenis-jenis Imunisasi untuk Bayi 0-12 Bulan

Gimana, sudah tahu kan pentingnya imunisasi bagi buah hati kamu? Kalau begitu, sekarang cek yuk apa saja jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan yang wajib diberikan.

1. Imunisasi Hepatitis B (HB)

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan yang pertama dan wajib hukumnya adalah Hepatitis B. Ini merupakan vaksin yang mesti diberikan saat bayi baru lahir. Terlebih jika sang ibu mengidap penyakit hepatitis B, yang mana bayinya pun juga harus diberikan vaksin Hepatitis B, setidaknya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam usai dilahirkan.

Vaksin ini juga harus digabungkan dengan Imunoglobulin Hepatitis B untuk kekebalan tubuhnya, kemudia disuntikan pada bagian paha setelah mendapat suntikan Vitamin K1 minimal setengah jam sebelumnya.

Pemberian imunisasi Hepatitis B bertujuan agar sang bayi tidak rentan terkena penyakit Hepatitis B, yang diketahui menyerang hati dan dapat menimbulkan komplikasi, seperti kanker hati.

Imunisasi ini tak hanya diberikan saat bayi baru lahir saja, melainkan pula harus kembali diberikan saat bayi berusia 2, 6, dan 12 bulan.

2. Imunisasi Polio (IPV)

Imunisasi polio atau IPV diberikan supaya bayi tidak tertular penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, di mana penyakit ini menyerang sistem saraf otak sekaligus saraf tulang belakang.

Penyakit ini berbahaya bagi bayi dan anak-anak, karena menyebabkan kelumpuhan pada saraf motoriknya. Pada kasus tertentu, polio bahkan bisa membuat penderitanya mengalami sesak napas hingga berujung kematian.

Oleh karena itu, imunisasi polio wajib dilakukan guna mencegah si kecil tertular penyakit ini. Biasanya vaksin yang diberikan pada imunisasi polio adalah vaksin polio oral.

Namun ada juga beberapa rumah sakit maupun puskesmas yang masih menyediakan vaksin polio dalam bentuk suntikan, yang diberikan cukup satu kali saja, saat si kecil berusia 4 bulan.

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan ini wajib diberikan paling tidak sebanyak 4 kali dalam bentuk vaksin polio oral atau tetes. Di mana jadwal pemberian pertamanya bisa dilakukan saat bayi baru lahir, dan kemudian dilanjutkan secara berurut-turut saat dia menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

(Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Bagi Anak)
3. Imunisasi BCG

Supaya bayi terlindungi dari kuman penyebab penyakit tuberkulosis yang menyerang paru-paru, maka kamu perlu membawanya ke puskesmas atau mungkin rumah sakit terdekat untuk diberikan vaksin BCG.

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan ini bahkan masuk dalam daftar imunisasi wajib, mengingat angka kasus penyakit tuberkulosis di Indonesia yang masih sangat tinggi.  

Imunisasi BCG sendiri hanya dilakukan satu kali, yakni diantara usia 1 sampai dengan 3 bulan dengan cara menyuntikkan vaksin pada salah satu bagian kulit bayi.

4. Imunisasi DPT

Imunasi berikutnya yang tidak kalah penting untuk diberikan pada si kecil yaitu imunisasi DPT. DPT adalah singkatan dari Difteri, Pertusis, dan Tetanuss. Difteri merupakan infeksi yang menyerang bagian hidung dan tenggorokan.

Sementara pertussis merupakan infeksi saluran napas berat, dan tetanus adalah infeksi bakteri yang mengakibatkan saraf otot menjadi kaku. Ketiga penyakit ini sangatlah berbahaya jika sampai menyerang buah hatimu.

Untuk itu, dibutuhkan vaksin yang diberi nama DPT agar terlindung dari penyakit Difteri, Pertusis, dan Tetanuss. Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan ini diberikan setidaknya 3 kali secara berturut-turut, yakni DPT I saat bayi berusia 2 bulan, DPT II saat usia 3 bulan, dan DPT III saat bayi berusia 4 bulan.

Kamu juga bisa kembali memberikan imunisasi ini atau biasa disebut dengan booster (penguat vaksin), saat anak menginjak usia 18 bulan, 5 tahun, 10 tahun, dan 18 tahun.

5. Imunisasi Hib

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan selanjutnya adalah Imunisasi Hib. Imunisasi ini diberikan sebagai bentuk pencegahan agar bayi tidak mengalamai infeksi saluran nafas berat atau biasa dikenal dengan sebutan pneumonia, dan radang selaput otak (meningitis). Hib sendiri merupakan singkatan dari Haemophilus influenza tipe B.

Pemberian imuninasi Hib bisa dilakukan saat bayi berusia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian dapat diulangi kembali ketika ia menginjak usia 12 bulan hingga 15 bulan, dengan ketentuan dosis tergantung dari usia si bayi.

6. Imunisasi Pneumokukus (PCV)

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan berikutnya adalah imunisasi PCV. Vaksin ini diberikan supaya bayi tidak terserang infeksi bakteri penyebab meningitis, infeksi telinga dan pneumonia. Imunisasi PCV biasanya dilakukan selama 2 kali saat bayi berusia 7 sampai 12 bulan, dengan jarak waktu pemberian yakni 2 bulan.

7. Imunisasi Rotavirus

Infeksi rotavirus dapat menyerang saluran pencernaan bayi, sehingga membuatnya terkena penyakit diare. Rotavirus dapat menular lewat makanan dan minuman yang tidak higienis, atau melalui kontak fisik terhadap tinja yang mengandung virus tersebut.

Untuk mencegahnya, terutama pada si kecil, kamu perlu membawanya ke puskesmas atau rumah sakit agar nantinya diberikan imunisasi rotavirus. Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan ini sangat direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, terutama bagi bayi yang usianya di bawah 6 bulan. Pemberiannya sendiri bukan melalui suntikan, namun lewat tetes mulut atau oral.

8. Imunisasi Campak

Campak merupakan penyakit yang menyebar lewat batuk dan juga bersin. Gejalanya dapat berupa ruam pada seluruh tubuh dan tak jarang mengakibatkan radang paru, diare, hingga kematian.

Penyakit ini rentan menyerang bayi dan anak-anak. Makanya, pemerintah Indonesia mewajibkan para orang tua untuk membawa anaknya ke rumah sakit, guna mendapatkan imunisasi campak

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan  ini biasanya dilakukan saat si kecil berusia 9 bulan. Selain diberikan imunisasi campak, bayi juga akan mendapatkan vaksin lainnya untuk mencegah campak, yaitu vaksin MR (mencegah penyakit campak dan rubella), serta vaksin MMR (mencegah penyakit gondongan, campak dan rubella). Pemberian vaksinnya dilakukan ketika bayi berusia 12 hingga 15 bulan.

9. Imunisasi Influenza

Jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan berikutnya yang enggak kalah penting dengan imunisasi campak adalah imunisasi influenza. Pemberian vaksin influenza ini dimaksudkan agar bayi kamu terhindar dari penyakit flu berat.

Soalnya jika sudah terkena flu, si kecil dapat mengalami demam tinggi, sesak nafas, bahkan beberapa kasus terparah bisa menyebabkan kematian.

Imunisasi ini merupakan jenis imunisasi tambahan yang mana biasanya diberikan saat si kecil berusia di atas 6 bulan dan dapat diulang kembali setiap tahunnya hingga berusia 8 tahun.

(Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak Terlengkap)
Adakah Efek Samping dari Imunisasi?

Sembilan jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan tersebut tentu saja memiliki efek samping atau biasa juga disebut dengan kejadian ikutan pasca imunisasi. Efeknya bisa berupa demam baik ringan maupun tinggi, nyeri di area bekas suntikan, dan biasanya si kecil juga menjadi agak rewel. Namun, efeknya sendiri akan hilang kira-kira dalam waktu empat hari.

Apabila anak mengalami reaksi tersebut, maka berikan ia asupan ASI lebih sering dan kompres dengan air hangat. Jangan lupa untuk memperhatikan nutrisi tambahannya, bisa dari buah maupun makanan lainnya.

Namun yang perlu dinggat juga, manfaat imunisasi itu jauh lebih besar dari efek samping yang ditimbulkannya. Jadi, sangat jarang terjadi efek samping dalam waktu lama pada bayi, dan jika iya pun segeralah periksakan anak ke dokter.

Berikan juga Proteksi Tambahannya dengan Asuransi Kesehatan

Selain memberikan kesembilan jenis imunisasi untuk bayi 0-12 bulan tersebut, kamu dan pasangan juga mesti memiliki asuransi kesehatan sebagai bentuk perlindungan tambahan bagi buah hati. Salah satu produk asuransi kesehatan yang dapat kamu gunakan adalah dari CekAja.com.

Melalui CekAja, kamu bisa ajukan asuransi kesehatan dengan perlindungan yang lengkap dan juga diterima segala rumah sakit, serta dengan bantuan klaim cepat.

Bahkan sebelum mengajukannya pun, kamu bisa membandingkan terlebih dulu mengenai produk asuransi kesehatan yang paling bagus dan sesuai kebutuhanmu.

Beberapa produk asuransi kesehatan unggulan yang dimiliki CekAja seperti PFI Mega Life, Ciputra Life, dan Asuransi Cigna. Nah, kamu bisa mencari tahu lebih dulu diantara ketiga produk asuransi ini yang sekiranya paling sesuai kebutuhan dan juga perlindungannya paling banyak. 

Yuk, miliki asuransi kesehatan dari CekAja.com agar keluarga kecilmu tetap terlindungi dari berbagai risiko penyakit dan tentram dari segi finansial pula.

Tentang Penulis

Ayunindya Annistri

Penulis amatir yang hobi merantau