Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

5 Alasan Ilmiah Kenapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal

by Ariesta on 3 Januari, 2017

Tahun baru harapan baru. Tahun baru biasa disambut dengan beragam resolusi, salah satunya resolusi keuangan. Walau sudah direncanakan secara matang, tapi kenapa masih gagal?

Dalam kamus bahasa Indonesia, resolusi merupakan pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Karenanya, resolusi harus ditulis supaya tidak dilupakan.

Keinginan untuk berubah ke hal yang lebih positif di tahun baru memang baik. Rupanya keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik juga dimiliki oleh 50 persen orang Amerika.

Tapi faktanya, berdasarkan penelitian Richard Wiseman, 88 persen orang gagal mewujudkannya. Ini artinya, ada sekitar 156 juta resolusi yang gagal terwujud setiap tahun.

Tapi ternyata melupakan resolusi merupakan hal alamiah. Berikut adalah alasan ilmiah kenapa resolusi tahun baru sering gagal.

Resolusi ternyata bikin otak capek

Supaya resolusi bisa terwujud, yang kamu butuhkan adalah tekad. Nah, bagian otak yang mengontrol tekad ini terletak di bagian prefrontal cortex, tepatnya di belakang kening.

Ketika Anda membuat resolusi, sejumlah besar tekad dibutuhkan dan inilah yang tidak mampu dipenuhi oleh otakmu. Untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan prefrontal korteks, Prof. Baba Shiv menjelaskannya dengan penelitian berikut ini:

“Sekelompok mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diberi dua digit nomor untuk diingat. Yang lain diberi tujuh digit nomor untuk diingat. Kemudian, setelah berjalan melalui lorong, mereka ditawarkan pilihan dua makanan ringan yakni sepotong kue coklat atau semangkuk buah.”

“Yang mengejutkan: Para siswa dengan tujuh digit nomor untuk diingat dua kali lebih besar untuk memilih sepotong cokelat dibandingkan dengan siswa yang hanya mengingat dua digit nomor.”

Bagaimana ini bisa terjadi? Menurut Prof. Baba Shiv, “Banyaknya nomor yang harus diingat menyita ruang lebih banyak di otak, sehingga membuat mereka menolak sesuatu yang terkesan banyak (semangkuk buah).

Otak bagian korteks pre-frontalmu sama dengan otot di tubuh ketika mengangkat beban. Semakin sering dilatih, semakin kuat. Jadi saat kamu ingin melatih otak dengan resolusi tahun baru seperti berhenti merokok, lebih rajin berolahraga, atau jadi lebih langsing, ini sama dengan beban 150 kg yang harus diangkat tanpa latihan.

Resolusi yang dibuat bukan harus sejalan dengan kebiasaan

“Kesalahan yang sering dilakukan orang dalam membuat resolusi tahun baru adalah tidak memilih resolusi spesifik dan malah resolusi abstrak,” kata BJ Fogg dari Stanford University.

Masalahnya jelas, resolusi abstrak yang tidak berkaitan dengan kebiasaanmu hampir tidak mungkin menjadi fokus otak. Inilah yang membuat resolusi gagal untuk diwujudkan.

Jadi kalau ingin membuat peruabahan besar dalam setahun, fokus saja dulu pada perubahan kecil untuk membiasakan otak. Seperti ini contohnya:

Resolusi: Berhenti merokok.

Kebiasaan yang mesti dilakukan: Berhenti merokok setelah makan siang.

Resolusi: Makan makanan sehat.

Kebiasaan yang mesti dilakukan: Mengganti camilan seperti kue dan snack ber-MSG dengan buah.

Resolusi: Menurunkan berat badan.

Kebiasaan yang mesti dilakukan: Berolahraga sepulang kerja dengan berlari selama dua menit.

Resolusi: Menghilangkan stres.

Kebiasaan yang mesti dilakukan: Melakukan yoga.

Dengan melakukan kebiasaan setiap hari, makan peluang untuk mewujudkan resolusi jadi 50 persen lebih tinggi.

Pilih hanya satu resolusi, jangan kebanyakan

Otak tidak mampu menangani terlalu banyak resolusi. Hal ini dijelaskan oelh Profesor Shiv dari Stanford. Hal ini berhubungan dengan kemampuan otak untuk multitasking di mana multitasking justru membuat IQ turun. Karenanya, pilih satu resolusi besar dan jadikan resolusi tersebut sebagai target utama fokus selama setahun ke depan.

Ingat! Jangan hanya disimpan di dalam hati, tapi resolusi harus ditulis dan diberi tahu pada orang lain

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2007, peneliti menemukan korelasi yang mencolok antara peningkatan dukungan sosial terhadap penurunan tekanan darah, denyut jantung, dan kadar kortisol (hormone pengatur stres). Apa hubungannya dengan resolusi tahun baru?

Sederhana saja, penelitian tersebut mengungkap dampak yang signifikan pengaruh orang-orang terhadap perilakumu sehari-hari. Jadi kalau kamu menulis dan memberitahu beberapa teman dan keluarga tentang kebiasaan kecil baru yang ingin kamu lakukan mulai awal tahun, maka peluang untuk konsisten semakin besar.

Bukan keturunan pejuang mimpi

Seperti sudah disebutkan di atas, resolusi butuh tekad. Dan faktanya, tekad keras rupanya sifat yang  diwariskan oleh orangtua pada anak. Karena tekad keras ini merupakan faktor keturunan, jadi memang ada otak yang ‘dari sananya’ tidak didesain untuk sukses.

Tapi bukan berarti tidak bisa sukses. Sukses milik semua orang. Karena otak bisa dilatih sama halnya dengan otot, mulailah dengan hal kecil agar otak sanggup fokus dalam mengolah ‘beban baru’.

Tentang Penulis