Alasan Tidak Dianjurkan Transaksi Gesek Tunai saat Corona

Penerapan aturan social distancing yang disahkan semenjak wabah Corona mendera Indonesia membuat sebagian warga Indonesia terhimpit secara ekonomi.

Jutaan kepala keluarga tiba-tiba di PHK tanpa pesangon dengan sebagian lain harus bersedia menerima upah 50% lebih rendah dari biasanya.

Alasan Tidak Dianjurkan Transaksi Gesek Tunai saat Corona

Pandemi yang menyerang di lebih dari 140 negara di dunia ini, memang melumpuhkan hampir semua industri dan perekonomian tanah air.

Anjuran social distancing dan pembatasan jam kerja membuat banyak produsen tak mampu mempertahankan usahanya. Alhasil PHK maupun kebijakan pengurangan gaji jadi opsi mereka.

Akibatnya, masyarakat yang terkena dampak langsung dari virus Covid-19 ini menggunakan semua tabungan yang tersisa demi memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari mencicil hunian sampai pemenuhan domestik rumah tangga.

Mulai banyak juga masyarakat yang kemudian menggadaikan atau bahkan menjual barang berharganya.

Ada salah satu produk keuangan yang terasa jadi angin segar buat mereka yakni kartu kredit.

Program cicilan yang ditawarkan tentu jadi pilihan ideal untuk warga yang terdampak namun butuh uang untuk pemenuhan kebutuhan hariannya.

Mulai dari menggunakan kartu kredit untuk belanja bulanan, sampai membayar cicilan barang.

(Baca juga: Review Kartu Kredit Permata Visa Hero Platinum)

Satu fasilitas lain dari kartu kredit yang dapat digunakan saat pandemi Corona dan membuat keuangan Anda tertekan adalah tarik tunai. Yakni, mengambil sebagian limit dari kartu kredit yang dapat Anda ganti dengan cicilan bulanan berbunga.

Sayangnya ada beberapa pihak yang memanfaatkan celah atau kelemahan kartu kredit untuk mendapatkan keuntungan sepihak, yakni dengan melakukan transaksi gesek tunai atau yang bisa disebut gestun.

Beda Transaksi Gesek Tunai dan Tarik Tunai

Banyak orang terkecoh tidak bisa membedakan antara transaksi gesek tunai dengan tarik tunai.

Tarik tunai adalah fasilitas atau fitur yang disediakan kartu kredit, dimana pemilik kartu kredit dapat mengambil uang cash dari sisa limitnya.

Fasilitas ini dikenakan bunga penarikan biasanya berkisar antara Rp 50-100 ribu untuk sekali tarik tunai.

Tarik tunai seperti halnya kartu debit, dapat digunakan untuk mengambil uang cash pada mesin atm. Sementara gesek tunai adalah aktivitas penarikan tunai di sejumlah merchant menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture).

Dana gesek tunai dapat diperoleh dengan membuat seolah-olah transaksi belanja terjadi, namun yang didapatkan nasabah bukan barang melainkan uang tunai.

Transaksi gesek tunai hanya dapat terjadi dengan melibatkan merchant atau toko penyedia gesek tunai.

Salah satu keuntungan transaksi gesek tunai yang menggiurkan adalah biaya transaksi yang amat rendah, lantaran hanya menggunakan bunga belanja yang berkisar 2-3% dari total belanja.

Sementara untuk transaksi tarik tunai biasanya penerbit kartu kredit mengenakan biaya 3-6%.

Transaksi gesek tunai juga dianggap lebih menguntungkan, lantaran bunga yang dikenakan pun jauh lebih rendah dibandingkan tarik tunai melalui ATM.

Tak heran jika banyak orang yang mengincar penyedia gesek tunai. Namun disamping kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan, transaksi gesek tunai masuk dalam tindakan ilegal.

Bank Indonesia (BI) pun melarang tegas transaksi gesek tunai kartu kredit. Lantaran gesek tunai dapat merugikan semua pihak baik nasabah, perbankan maupun negara.

Alasan Transaksi Gesek Tunai Masih Jadi Incaran

Meski secara tegas dilarang oleh BI namun masih banyak nasabah yang kucing-kucingan melakukan transaksi gesek tunai untuk berbagai alasan. Beberapa alasan yang mendorong penggunaan gesek tunai kartu kredit antara lain:

  • Tidak ada Batas Penarikan

Tidak seperti tarik tunai kartu kredit yang dibatasi sekitar 40% dari jumlah total limit kartu kredit, transaksi gesek tunai lebih fleksibel.

Karena dianggap sebagai transaksi belanja maka uang cash bisa didapatkan lebih besar, bahkan hingga limit kartu kredit habis.

Jika Anda menarik dana dari ATM Anda hanya bisa menarik dana hanya sekitar 40% hingga 60% dari limit kartu kredit. Anda bisa mendapatkan dana segar dalam waktu cepat.

Sayangnya perilaku ini sering membuat nasabah tidak sadar bahwa mereka sedang menjerat diri dalam tumpukan hutang. Akibatnya gesek tunai menggiring pemilik kartu kredit terjerat hutang kartu kredit dan menjadi lebih boros.

  • Bunga

Hal menggiurkan lain dari gesek tunai adalah bunga yang dikenakan lebih rendah dibanding tarik tunai lewat mesin ATM, sebab dianggap sebagai transaksi ritel.

Saat ini bunga transaksi ritel dikenakan 2% per bulan Selain bunga, ada biaya lain jika Anda tarik tunai di ATM. Sehingga penarikan uang secara gesek tunai lebih menguntungkan karena tidak ada biaya-biaya tambahan lain yang dibebankan kepada nasabah.

  • Tagihan

Hal menarik lain yang membuat orang-orang melakukan transaksi gesek tunai adalah tagihan kartu kredit. Gesek tunai kartu kredit memotong biaya penagihan langsung saat Anda menarik uang tunai.

Misal Anda menarik tunai dengan gesek tunai sebanyak Rp3 juta rupiah, dengan asumsi bunga retail 3% maka yang akan dapatkan adalah Rp2.940.000 karena sudah dipotong biaya penarikan sebesar 3 persen sebagai biaya penarikan.

  • Biaya penarikan rendah

Alasan terakhir yang membuat transaksi gesek tunai jadi incaran adalah biaya penarikan yang rendah.

Jika tarik tunai ATM mewajibkan nasabah membayar hingga 4% dari nilai transaksi atau rata-rata minimum Rp 50 ribu, maka gesek tunai hanya mengharuskan nasabah membayar 2-3 persen untuk biaya penarikan.

Itulah beberapa alasan yang membuat transaksi gesek tunai masih jadi incaran para nasabah.

Namun praktik ini sangat ditolak keras perbankan, karena gesek tunai membuat penerbit kartu kredit kehilangan pendapatan, selain itu kebiasaan gesek tunai sering mendorong orang menjadi lebih konsumtif.

Alasan Tidak Dianjurkan Transaksi Gesek Tunai saat Corona

Wabah Corona yang masih mendera Indonesia mau tak mau memaksa orang mengurangi aktifitas di luar rumahnya termasuk untuk bekerja.

Akibatnya, pendapatan bulanan pun berkurang, bahkan beberapa ada yang dirumahkan tanpa pesangon. Memaksa sebagian kalangan untuk berhutang demi mencukupi kebutuhan harian.

Nah, bagi pemilik kartu kredit mereka bisa memanfaatkan sisa limit yang ada untuk belanja kebutuhan domestik, melakukan tarik tunai atau mengajukan loan on phone yang dapat menyelamatkan keuangan keluarga.

Namun sebagian lain ada yang memutuskan untuk transaksi gesek tunai kartu kredit karena ingin mendapatkan dana segar dengan bunga lebih rendah.

Padahal gesek tunai di masa-masa Corona seperti sekarang ini sangat riskan, bisa merugikan perbankan dan juga pemilik kartu kredit.

Ada beberapa alasan mengapa para ahli keuangan menganjurkan untuk tidak melakukan gesek tunai saat Corona, berikut diantaranya:

1. Dapat menyebabkan kredit macet

Alasan paling utama mengapa transaksi gesek tunai tidak dianjurkan adalah kemungkinannya yang dapat menyebabkan kredit macet. Sebabnya adalah ketidakmampuan dalam membayar cicilan.

Sebagian besar nasabah yang melakukan gesek tunai sering mengambil uang hingga mencapai batas limit.

Akibatnya mereka kesulitan membayar tagihan bulanan, karena kondisi perekonomian juga sedang goyang.

Bagi mereka yang tak lagi berpenghasilan cicilan akan sangat memberatkan, dan kemungkinan bakal membayar tagihan dengan jumlah minimum. Keterlambatan pembayaran semakin membuat nasabah terjepit karena menyebabkan bunga pinjaman membengkak.

Alhasil, mereka menjadi salah satu kreditur macet yang memperpanjang masa pinjaman dengan bunga yang terus bertumbuh. Sementara untuk melunasinya belum tentu kapan ada dananya.

Kebiasaan ini juga menjadi catatan buruk bagi nasabah, karena aktivitas kredit macetnya akan tersimpan dalam data base SLIK-OJK (Sistem Layanan Informasi Keuangan-Otoritas Jasa Keuangan).

Riwayat kredit yang buruk akan mempengaruhi pengajuan pinjaman Anda berikutnya. Pinjaman yang tak kunjung selesai dengan bunga yang membengkak bakal menyulitkan Anda mengajukan pinjaman lain misalnya Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

2. Sulit mengajukan pembuatan kartu kredit baru

Riwayat kredit yang terekam sering melakukan transaksi di retail atau gerai yang acap kali digunakan sebagai transaksi gesek tunai bakal masuk dalam daftar catatan OJK.

Data ini dapat digunakan perbankan untuk menilai aktivitas penggunaan kartu kredit calon nasabahnya. Jika kedapatan sering melakukan transaksi di retail “nakal”, kemungkinan besar pengajuan kartu kredit baru Anda akan ditolak.

Jadi, tahan keinginan untuk mendapatkan dana segar dalam waktu cepat, karena resikonya adalah Anda tak bisa menggunakan kartu kredit lagi selamanya.

Selain itu, kemungkinan pengajuan kenaikan limit juga akan dipersulit jika aktivitas belanja di retail  sering dilakukan.

3. Terseret Hukum

Ada dasar hukum yang bisa menjerat pengguna jasa transaksi gesek tunai masuk jeruji besi, karena BI secara tegas menyatakan bahkan transaksi gesek tunai adalah tindakan ilegal.

Selain itu, transaksi gesek tunai sangat mungkin dijadikan aktivitas money laundry oleh beberapa pihak.

Sebab ada kemungkinan pelaku money laundry menyalurkan uang cashnya kepada nasabah yang melakukan gesek tunai, dan tanpa disadari aktivitas gesek tunai akhirnya menjerat mereka dalam tindak kejahatan pencucian uang, padahal dana yang mereka cairkan hanya untuk kebutuhan domestik.

Jangan sampai ditengah pandemi yang tak kunjung berhenti ini, selain kehilangan pendapatan Anda juga dijerat dalam pasal kejahatan yang menyebabkan masuk bui.

4. Menjadi lebih konsumtif

Pada masa pandemi seperti ini seharusnya kita bisa lebih menahan diri untuk melakukan belanja yang tidak penting.

Namun kebiasaan transaksi gesek tunai ini dapat mendorong nasabah jadi lebih konsumtif padahal kondisi finansialnya sedang pailit.

Ingat, kartu kredit bukan rekening tabungan. Kartu kredit adalah alat ganti transaksi non tunai yang tetap harus kita bayar. Semakin banyak hutang semakin banyak beban hutang cicilan yang mesti dibayar ke bank.

Menahan diri dan mencari solusi pendapatan tambahan adalah jalan keluar terbaik. Gunakan kartu kredit untuk memutar bisnis Anda yang sempat terhambat, bukan menghabiskannya untuk urusan nafsu semata.

5. Merugikan bank

Selain merugikan nasabah tindakan gesek tunai juga dapat merugikan bank lantaran aktivitas gesek tunai dapat memutus pendapatan bank yang seharusnya diperoleh dari transaksi tarik tunai.

Sebagai jasa penyedia kartu kredit perbankan jelas harus mendapatkan keuntungan untuk memutar roda bisnis.

Tindakan gesek tunai oleh para nasabah sama dengan membunuh bisnis perbankan kartu kredit.

Itulah beberapa alasan mengapa gesek tunai saat Corona tidak dianjurkan. Dibanding mendapatkan dana cash dengan cara ilegal demi memenuhi kebutuhan lebih baik perketat pengeluaran.

Sebab, sekali Anda ketahuan menggunakan praktik gesek tunai, maka bank akan langsung melaporkan kepada OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Jika sudah begini akan sulit bagi Anda mendapatkan pembiayaan lain dari perbankan manapun di Indonesia untuk berbagai pinjaman mulai dari KTA, KPR maupun kredit multiguna.

Jadi jangan kotori riwayat kredit Anda dengan tindakan ilegal dan bijaklah gunakan kartu kredit selama Corona melanda.