Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

14 Anak Muda Indonesia Ini Masuk Daftar Pengubah Dunia

by Giras Pasopati on 2 April, 2018

Di tahun ini, majalah Forbes kembali merilis 30 Under 30 Asia, yaitu daftar 30 pemuda dan pemudi yang berusia di bawah 30 tahun dengan prestasi cemerlang di berbagai bidang, sehingga dinilai bisa menjadi pengubah dunia.

Menariknya, di tahun ini ada 14 anak muda Indonesia (delapan diantaranya memprakarsai empat perusahaan yang sama) yang masuk daftar tersebut, dan tersebar di berbagai bidang. Yuk cek para pengubah dunia dari dalam negeri kita!

1. Brian Imanuel (Rich Brian, Rapper)

Pemuda berusia 18 tahun yang sebelumnya dikenal sebagai Rich Chigga ini mampu mendobrak dunia musik, khususnya hip-hop. Forbes menilai, internet telah menciptakan banyak selebritis, tetapi mungkin tidak ada yang berkesan seperti Brian Imanuel. Brian menjadi Honoree dalam daftar 30 Under 30 Asia untuk bidang Entertainment & Sports.

Remaja asal Jakarta ini adalah seorang media sosial darling untuk sebagian besar penggemar remajanya. Ia menguasai berbagai platform seperti Twitter, YouTube, dan Vine -yang sekarang mati- untuk mengumpulkan pengikut online yang besar.

Dimulai dengan sandiwara komedi, ia akhirnya bertransisi menjadi seorang rapper idola, dan merilis single perdana yang sangat terkenal, “Dat $tick” pada bulan Februari 2016. Video lagu itu saat ini memiliki 87 juta penonton di YouTube.

Hal itu melambungkannya ke dunia musik Amerika, di mana dia berkolaborasi dengan Diplo dan Pharrell, yang kemudian menggelar tur yang tiketnya terjual habis. Pada awal 2018, Brian merilis album panjang pertamanya, Amen.

(Baca juga: Akhirnya Indonesia Kuasai Freeport, Apa Saja Keuntungannya?)
2. Dian Pelangi (Desainer)

Forbes menilai Dian Pelangi membawa modernitas ke pasar mode yang sederhana. Desainer dan influencer yang baru berusia 27 tahun ini dinilai tidak takut melakukan eksperimen cetakan dan warna. Ia juga menunjukkan kepada hampir lima juta pengikut media sosialnya untuk tidak perlu takut dalam bereksperimen.

Pada usia 18 tahun, Dian Pelangi menunjukkan koleksi pertamanya di Jakarta Fashion Week, yang kemudian diikuti di seluruh dunia. Meskipun jilbab fashion-forward masih merupakan yang paling dikenal dari Dian Pelangi, perusahaannya juga memiliki cabang untuk baju pengantin dan pakaian anak-anak.

(Baca juga: Berbagai Mobil Mewah Para Bintang Sepak Bola, Cek di Sini!)

3. Stanislaus Mahesworo Christandito Tandelilin (Co-Founder Sale Stock)

Pria berusia 27 tahun yang bermukim di Yogyakarta ini adalah salah satu dari lima pendiri Salestock.com. Aplikasi dan platform online yang turut didirikannya itu ditujukan untuk akses seluler yang mudah, dengan tujuan menyediakan pakaian layak untuk kelas pekerja dan mereka yang hidup secara rural.

Untuk menjaga harga produk tetap rendah, Salestock.com menggunakan kecerdasan buatan dalam mengelola proses pengadaan dan rantai pasok. Perusahaan juga menawarkan pembayaran tunai dalam pengiriman ke lebih dari 7.000 lokasi.

Perusahaan juga baru-baru ini menerima investasi sebesar 27 juta dolar AS dalam pendanaan Series-B, yang membuka kemungkinan ekspansi ke luar negeri.

(Baca juga: Utang Indonesia Menumpuk? Cek Lima Negara Berutang Terbesar)

4. Adrian and Eugenie Patricia Agus (Co-Founders Puyo)

Duet kakak-adik Adrian dan Eugenie Patricia Agus mendirikan Puyo Desserts pada tahun 2013, yang sebagian terinspirasi oleh film Thailand berjudul “The Billionaire.” Film itu bercerita tentang masalah dropout perguruan tinggi yang memulai perusahaan makanan ringan rumput laut. Namun, setelah menonton film itu, Adrian dan Patricia malah mengkhususkan diri dalam puding.

Puding merupakan makanan penutup yang umum di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi pasangan ini membedakan produk mereka dengan tekstur yang halus dan rasa unik seperti permen kapas dan teh hijau.

Puyo Desserts memiliki 40 outlet di seluruh Indonesia tetapi melakukan lebih banyak untuk negara daripada hanya menyediakan makanan lezat. Perusahaan telah menyumbangkan lebih dari 15.000 dolar AS untuk membantu menyelamatkan penyu dan membangun dua perpustakaan anak-anak.

(Baca juga: Ternyata dengan Gaji Kecil Bisa Mengajukan KTA, Cek Yuk!)
5. Marshall Utoyo (Co-Founder Fabelio)

Marshall Utoyo bersama Krishnan Menon asal India berkolaborasi mendirikan e-commerce desain furnitur Indonesia, Fabelio. Perusahana menjelma menjadi sebuah toko furnitur online dan offline yang berbasis di Indonesia pada tahun 2015.

Dengan bekerja sama dengan lebih dari 2.000 pengrajin lokal dan pabrik, tujuan mereka adalah menciptakan desain dan produk berkualitas dengan harga yang wajar. Mereka juga memiliki layanan lain yang termasuk desain interior dan uji coba produk di rumah.

(Baca juga: Ini Pesepak Bola yang Miliki Rumah Mewah dengan Harga Wah)
6. Reynold Wijaya and Iwan Kurniawan (Co-Founders Modalku)

Modalku berbasis di Indonesia, memiliki perusahana afiliasi bernama Funding Societies dalam operasional di Singapura dan Malaysia. Perusahaan mendirikan platform pinjaman digital peer-to-peer yang menghubungkan usaha kecil dan menengah yang kekurangan uang dengan para pemberi pinjaman.

Diluncurkan pada tahun 2015, Modalku diresmikan oleh tim yang berisi tiga orang, termasuk CEO Reynold Wijaya dan COO Iwan Kurniawan. Mereka melihat UKM di Indonesia berjatuhan karena minim pendanaan.

Didukung oleh Sequoia, baru-baru ini Modalku melampaui angka 75 juta dolar AS dalam total investasi di UKM.

(Baca juga: Yuk Mengenal Redenominasi! Uang Rp10.000 Jadi Rp10!)
7. Fransiska Hadiwidjana (Founder Prelo)

Insinyur sekaligus entrepeneur, Fransiska Hadiwidjana adalah pendiri dan CEO Prelo, situs e-commerce seluler yang berbasis di Indonesia dan berfokus pada penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Platform ini memungkinkan pengguna menjual barang bekas mereka atau menyewakannya.

Selain bekerja dengan Prelo, Fransiska juga merupakan salah satu pendiri laboratorium AugMI, sebuah startup biomedis pemenang penghargaan di Silicon Valley dan telah dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh wirausahawan teknologi wanita inspiratif di Asia Tenggara oleh Forbes.

(Baca juga: Ini Nilai Total Hadiah Piala Dunia 2018)

8. Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad (Co-Founders Crowde)

Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad Ganis mendirikan Crowde pada tahun 2016 dengan tujuan menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh petani kecil di Indonesia dalam mendapatkan akses modal untuk menumbuhkan usaha pertanian mereka. Platform investasi publik digital mereka memberi petani alternatif dana selain dari bank dan lintah darat.

Investor publik dapat berkontribusi paling sedikit 1 dolar AS melalui pembayaran elektronik untuk mendukung berbagai proyek pertanian yang dapat dipantau secara online.

Setelah panen, para investor akan menerima bagian dari keuntungan. Crowde diakui sebagai situs layanan pertanian di kompetisi DBS-NUS Social Venture Challenge Asia 2017.

(Baca juga: Cek Perusahaan Tempat Bekerja Terbaik 2018 Versi LinkedIn)
9. Talita Setyadi (Chef BEAU)

Setelah belajar di Paris, pastry chef Talita Setyadi kembali ke Indonesia pada tahun 2013 untuk membuka toko roti pertamanya, BEAU. Di antara makanan favorit Perancis klasik, Talita menawarkan citarasa baru, seperti dalam kue dengan mousse yang berlapis-lapis (raspberry, yogurt dan pistachio).

Toko roti ini menyediakan makanan yang dibuat dengan bahan-bahan lokal alami, ke sekitar 100 kafe, restoran dan hotel di Jakarta. Talita juga telah membuat pendidikan sebagai salah satu pilar BEAU, dimana hampir semua tukang roti dilatih dari nol, bahkan dimulai sebagai pembersih atau pelayan di perusahaan.

Perempuan berusia 28 tahun itu pernah menjabat sebagai juri termuda dan satu-satunya perempuan di World Pastry Cup pada 2017.

(Baca juga: Berbagai Merchandise Unik dan Mahal Piala Dunia 2018!)
10. Jeff Hendrata dan Andrew Tanner Setiawan (Co-Founders Karta)

Jeff Hendrata dan Andrew Tanner Setiawan adalah pendiri Karta, sebuah perusahaan yang menyediakan layanan iklan khusus untuk sepeda motor.

Platform yang bersumber dari publik sendiri ini memisahkan diri dari iklan outdoor tradisional karena sifat mediumnya yang mobile dan memungkinkan pengendara sepeda motor untuk mendapatkan uang tambahan dengan memasang papan iklan di kendaraan mereka.

Karta saat ini telah bekerja dengan klien seperti Unilever, P&G dan Astra Telkomsel, serta tersedia di lebih dari 20 kota di Indonesia.

(Baca juga: 5 Ide Bisnis “Aneh”, dari Racun Kalajengking Hingga Sewa Pacar)

Bagaimana menurut Anda? Para pemuda dan pemudi tersebut sangat berprestasi di bidangnya bukan? Hingga bisa dianggap menjadi pengubah dunia.

Jika Anda juga ingin menjadi pengubah dunia, atau memulai perusahaan sendiri untuk bisa berguna bagi sesama juga bangsa, maka bisa memulainya saat ini juga. Apabila Anda butuh pendanaan dalam merintis usaha, silakan kunjungi CekAja.com untuk mendapatkan pinjaman UKM.

Tentang Penulis

Giras Pasopati

Penulis dan mantan jurnalis. Penikmat sate kambing, musik punk dan rock. Senang membaca buku sejarah dan sastra.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami