Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Anies Ubah Aturan Ahok, PBB Tidak Lagi Gratis!

by Gito on 23 April, 2019

Bagi kamu yang beberapa tahun kebelakang absen bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), jangan senang dulu. Tahun depan kamu sudah tidak bisa absen lagi membayar PBB lho.

beli rumah - CekAja.com

Ya, Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta merevisi Peraturan Gubernur (Pergub) sebelumnya yang menihilkan PBB untuk rumah yang memiliki nilai jual objek pajak (NJOP) dibawah Rp1 miliar.

Pergub yang baru diteken oleh Anies pada 9 Apri 2019 itu bakal memungut kembali semua PBB untuk bangunan di Jakarta yang memiliiki NJOP dibawah Rp1 miliar.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Pergub Nomor 38 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Pergub Nomor 259 Tahun 2015 tentang Pembebasan atas Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Perkotaan atas Rumah, Rumah Susun Sederhana Sewa dan Rumah Susun Sederhana Milik dengan Nilai Jual Objek Pajak sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (Satu Miliar Rupiah).

Mencoba memahami dasar kebijakan yang diambil, dulu pada zaman Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (BTP) memimpin Jakarta, pembebasan PBB untuk rumah yang NJOP-nya dibawah Rp 1 miliar diambil untuk mewujudkan keadilan sosial.

Dia pun tidak takut pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta bakal merosot, pasalnya pada saat kebijakan itu dieksekusi yakni pada tahun 2016, jumlah wajib pajak yang terkena pembebasan PBB mencapai 1 juta orang. Itu artinya DKI Jakarta akan kehilangan Rp400 miliar.

Bandingkan dengan total Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta di Desember 2016 yang mencapai Rp36,88triliun. Adanya pelonggaran pungutan yang dilakukan oleh BTP bukanlah tanpa alasan, karena disaat yang sama sudah berlaku tarif pajak baru dan mulai berlakunya pajak progresif bagi kendaraan bermotor.

Jadi kedua pembaruan tersebut diharapkan dapat menutup potensi penyusutan pendapatan asli daerah DKI Jakarta.

(Baca juga: Sudah Bayar PBB? Ini Fakta-fakta yang Harus Anda Ketahui!)
Pungutan Baru

Kebijakan yang akan dijalankan oleh Anies itu baru mulai berlaku di tahun 2020. Namun kabarnya sudah santer terdengar dimana-mana hingga akhirnya banyak juga pihak tidak setuju atas langkah yang akan diambil oleh sang Gubernur.

Pandangan salah satu anggota DPRD DKI Jakarta mengatakan bahwa revisi atas Pergub Nomor 259 Tahun 2015 yang sudah berlaku sebelumnya menunjukkan ketidak berpihakan kepada masyarakat kecil.

Dia malahan mempertanyakan posisi Anies yang sering kali melontarkan kalimat keberpihakan di media massa. Namun tampaknya Khafilah bakal tetap berlalu, karena aturan tersebut sudah diundangkan pada tanggal 15 April 2019 lalu.

Anies berdalih bahwa hal yang dilakukannya bukanlah merevisi kebijakan yang lama, melainkan menambah jumlah wajib pajak yang bakal dibebaskan. Seperti yang baru saja dilakukan yakni dengan membebaskan PBB untuk rumah veteran dan untuk tiga generasi setelahnya.

Rencananya Anies juga akan membebaskan PBB untuk aparatur sipil negara (ASN), Polisi dan juga TNI. Pada tahun ini juga, Anies sudah menihilkan PBB untuk guru dan juga pensiunan guru

(Baca juga: Bagaimana Cara Bayar dan Cek PBB Online? Yuk Catat!)
Perubahan Wilayah Komersial

Sebenarnya yang dilakukan oleh Anies Baswedan bisa dibilang bukan menambah jumlah wajib pajak yang dibebaskan. Ya, Anies bakal tetap melakukan pungutan berupa pajak rumah tinggal pada rumah yang memiliki NJOP dibawah Rp1 miliar, namun hanya untuk rumah yang berada di area komersial.

Kemudian untuk rumah yang digunakan untuk usaha walaupun NJOP-nya dibawah Rp1 miliar juga akan dikenai pajak. Sehingga menurutnya, dengan adanya kebijakan baru ini akan terjadi perubahan wilayah komersial.

Menanggapi hal itu Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi angkat bicara menurutnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jangan membebankan pajak hanya untuk menambah pendapatan. Karena masih banyak sumber pendapatan lain yang bisa dimaksimalkan untuk mendongkrak PAD Jakarta.

Hal-hal seperti revisi zona peruntukan permukiman dan komersial juga bisa menjadi ladang pendapatan baru bagi Jakarta. Karena selama ini ada banyak daera yang peruntukannya tidak sesuai dengan zonanya, seperti adanya area komersial di zona permukiman ataupun sebaliknya.

Edi mencontohkan seperti yang ada di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Jalan Gunawarman dan juga Jalan Senopati, Jakarta Selatan yang bisa antara zona usaha atau zona tempat tinggal.

Kebijakan apapun yang diambil, sebagai warga negara yang baik kita harus tetap memahaminya. Tetapi jika benar begitu berarti kamu harus memiliki pendapatan tambahan. Butuh modal? Jangan takut, ajukan segera di CekAja.com dan dapatkan banyak produk KTA dari bank nasional tanah air.

Tentang Penulis

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami