Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

5 menit waktu bacaan

Apakah Batu Akik Bisa Menjadi Investasi yang Menguntungkan?

by JTO on 24 Februari, 2015

Tren batu akik menjadi fenomena yang menarik. Karena harganya yang terus melambung, para pecintanya seakan mengarahkan batu akik menjadi sebuah investasi. Apakah hanya akan menjadi sebuah tren dan akhirnya bernasib sama seperti tren investasi lain?

Saat ini saya tertarik sekali mengamati dan ingin membahas mengenai fenomena batu akik yang meningkat sangat tajam di media massa, media sosial, dan pasar tradisional. Cukup menarik, pasalnya kenapa popularitas batu akik tiba-tiba meningkat begitu tajam dan melambungkan harga beli dan jualnya menjadi tidak rasional?

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Dari hasil analisa di google trends, peningkatan minat terhadap batu akik di Indonesia meningkat sangat tajam dimulai pada bulan Agustus 2014.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi ?

Tren Batu Akik 5 - CekAja.comTren Batu Akik 6 - CekAja.com

Dari grafik pertama, terlihat bahwa peningkatan minat terhadap batu akik naik dengan sangat tajam. Dimulai sejak Agustus 2014, peningkatan itu masih terjadi hingga kini.

Sedangkan, untuk grafik kedua, ada fenomena ketika batu milik mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ikut mendorong popularitas batu akik di dalam negeri. Apalagi, Presiden ke-6 Republik Indonesia tersebut pernah memberikan batu bacan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Langkah ini ikut memengaruhi pergeseran tren.

(Baca juga: Agar Untung, Singkirkan Emosi Saat Lakukan Investasi)

Bahkan, setelah kejadian tersebut batu jenis bacan ini pun banyak diserbu orang. Alasannya, yang memberikan dan memakai adalah orang hebat. Akhirnya sebagian masyarakat pencinta batu pun merasa hebat ketika memakainya.

Tren Batu Akik 3 - CekAja.com

Sumber foto: Akun Instagram @AnyYudhoyono

Gambar diatas adalah beberapa koleksi batu akik milik mantan Presiden SBY. Cukup mencengangkan, karena katanya taksiran harga batu tersebut bisa mencapai Rp 3 miliar per batu.

Seperti Gelombang Cinta

Direktur Utama Federal Reserve Alan Greenspan pernah mengungkapkan sebuah istilah Irrational Exuberance (euforia yang berlebihan). Saat itu, ia menggambarkan kegilaan pasar di Amerika Serikat terhadap harga saham teknologi yang melambung sangat tinggi pada fenomena Dotcom bubble pada tahun 1999 – 2000, serta Housing Bubble di sektor properti yang terjadi pada periode 2007 – 2008, yang memicu dampak sistemik dan resesi global.

(Baca juga5 Tips Hindari Jebakan Investasi Bodong)

Tidak hanya di Amerika Serikat, fenomena seperti ini juga pernah terjadi di Indonesia dan masih sangat jelas dalam ingatan kita semua, yaitu fenomena tanaman Gelombang Cinta.

Lebih jelasnya, coba simak grafik dibawah ini.

Tren Batu Akik 7 - CekAja.com

Dalam grafik tersebut, terlihat peningkatan tren tanaman Gelombang Cinta meningkat tajam pada September 2007. Tanaman ini memiliki nama asli Anthurium, Wave of Lofe Variet yang biasa disebut dengan gelombang cinta. Penamaan Anthurium sendiri berasal dari bahasa Yunani, yang artinya bunga ekor.

Pada grafik tersebut, setelah meningkat tajam pada bulan September, kemudian tren tanaman gelombang cinta pun akhirnya terjun bebas bulan Oktober, terkonsolidasi di bulan November, kemudian lenyap ditelan tangisan pasar yang sendu.

Terdapat beberapa karakteristik yang dapat kita ambil dari tren– tren tersebut dimana kenaikan harga tidak bertahan lebih dari 2 tahun, kemudian terjun bebas ke titik terendah.

  • Dotcom bubble 1998 – 2000
  • Property Bubble 2007 – 2008
  • Tanaman Gelombang Cinta 2007 – 2008 (secara teknis hanya 4 bulan)

Emosi Keuntungan

Menurut Friederich Nietzsche dan Wilfred Trotter dalam bukunya “Instinct of the Herds in Peace and War ( 1914 )” menyebutkan bahwa perilaku manusia sebetulnya mirip kumpulan bebek atau sekelompok wildebeast yang bergerak secara beramai-ramai kesatu arah, dimana aktifitas tersebut tergerak secara otomatis karena faktor emosi. Emosi keserakahan (mengejar mangsa), dan emosi takut (dikejar macan).

Dalam hubungannya dengan investasi, emosi serakah didorong oleh keinginan masyarakat untuk masuk kedalam pasar dan mendapatkan keuntungan sebesar–besarnya. Kemudian, karena terlalu banyak yang masuk, pasar pun menjadi jenuh. Selanjutnya emosi tersebut digantikan dengan rasa ketakutan massal dengan menjual secara beramai-ramai, sehinga harga barang tersebut menjadi turun.

Fenomena Irrational Exuberance ini dapat dilihat dari dua sudut pandang;

  1. Pecinta atau Para Penggelut Bisnis

Seorang pebisnis dituntut untuk membaca keinginan dan kebutuhan pasar. Bila kebutuhan tersebut tidak ada, maka tugas seorang entrepreneur adalah menciptakan pasar dan tren tersebut. Hal ini telah dijalankan dengan sangat baik oleh Steve Jobs dengan produk Apple-nya. Harga produksi produk iphone sebetulnya kurang dari 2 juta rupiah, namun dijual berkali lipat dari itu.

(Baca jugaPilih KPR Syariah atau KPR Konvensional, Ini Bedanya)

Bukan tidak mungkin tren yang terjadi saat ini adalah hasil dari strategi branding dalam menciptakan permintaan dan tren yang dilakukan oleh para pebisnis dan pecinta. Mereka yang telah lama bergelut didunia tersebut, selain dapat membedakan antara batu asli dan palsu dengan mudah, mereka juga memiliki akses informasi dan peluang yang lebih cepat dibandingkan lainnya. Insting dan pengalaman yang dimiliki menuntun mereka untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat.

  1. “Rest of the Herds”

Bagi pemula yang ingin ikut kedalam tren ini, Anda akan dihadapkan dengan informasi yang tidak lengkap dan sepotong-potong. Seorang investor atau pedagang yang hanya ingin “masuk dan keluar” pada pasar tersebut tidak akan mendapat informasi yang lengkap seperti yang didapatkan di pasar modal, valuta asing dan komoditas yang memiliki informasi harga komprehensif dan terpusat.

Informasi tersebut adalah histori transaksi, market cap, dan moving average seperti yang dilihat pada grafik dibawah.

Tren Batu Akik 8 - CekAja.com

Keterangan foto: Analisa Index Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dengan Technical Analytical Approach

Informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk memprediksi tren harga apakah akan terus naik atau ada pembalikan secara drastis seperti yang terjadi dengan tanaman gelombang cinta, dan crash (bubble).

Tanpa informasi statistik maka yang dapat diandalkan adalah insting. Namun, insting tidak dengan mudah didapat tanpa adanya kecintaan terhadap barang tersebut.

Jadi, meskipun Anda memiliki kecintaan dan ingin mengkoleksi atau berdagang, saran saya jangan memasukkan modal terlalu besar, dan jangan menahan barang tersebut terlalu lama. Bila ada penawar langsung, jual segera batu tersebut. Karena bila prediksi saya tidak salah, tren ini hanya akan bertahan beberapa bulan.

Dan bagi Anda yang tidak punya kecintaan sama sekali terhadap batu-batu seperti itu, stay away from the monkey business!

Ingin berdiskusi tentang masalah-masalah keuangan, gabung di forum finansial terbesar di sini.

 

BANNER-KONTRIBUTOR_IBNU_CEKAJA.com

Tentang Penulis

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.