Aplikasi Android yang Dihapus Google, Nakal dan Mengganggu!

Perusahaan internet raksasa, yakni Google, telah mengungkapkan bahwa mereka menghapus sekitar 600 aplikasi dari Play Store di perangkat Android. Aplikasi android yang dihapus Google ini, dianggap mengandung “disruptive ads” atau iklan yang mengganggu.

Mengapa dianggap Disruptive Ads?

Melansir dari Ubergizmo, pihak Google mengatakan ”kami mendefinisikan iklan yang mengganggu sebagai iklan yang ditampilkan kepada pengguna dengan cara yang tidak terduga, termasuk merusak dan mengganggu kegunaan fungsi perangkat” ujarnya.

Google telah mendeteksi dan menangkap ratusan aplikasi Android di Playstore yang terlalu banyak beriklan di luar konteks.

Iklan diluar konteks, maksudnya mengacu pada iklan seluler yang ditampilkan secara pop up hingga seluruh layar pengguna, namun terpisah dari aplikasi aslinya.

(Baca Juga: Tips Memilih Asuransi Elektronik yang Tepat)

Sejak Februari 2020, jenis iklan ini dilarang oleh Google, karena membuat pengguna tidak tahu dari aplikasi mana iklan berasal.

Namun, bulan Juni hingga Oktober 2020, Google dipaksa untuk turun tangan melarang 240 aplikasi yang terus menyalahgunakan mekanisme ini, seperti dilaporkan ZDNet.

Aplikasi nakal tersebut ditemukan oleh White Ops, perusahaan keamanan yang bekerja dalam pendeteksian bot dan penipuan iklan.

Sebagian besar aplikasi nakal itu ternyata meniru aplikasi populer yang ada, menyalin fungsi dan nama dari aplikasi lain agar dapat didownload dengan cepat.

Pengembang aplikasi semakin lihai dalam menyembunyikan iklan nakal dalam software-nya sehingga membuat Google harus mencari cara lebih canggih untuk memusnahkannya salah satunya dengan menggunakan machine learning dan teknologi baru lainnya.

Mengutip dari Express.co.uk, berbagai aplikasi yang dimusnahkan ini, sudah masuk kategori “adware”.

Selain itu, diyakini ada aktor jahat di balik ini, lantaran mulanya menggugah software yang dirancang, untuk menargetkan aplikasi beauty selfie ke Google Play Store, pada Januari 2019.

Menurut Jakub Vavra, peneliti virus dari Avast, saat ini pengembang adware semakin banyak menggunakan platform sosial media.

Program jahat tersebut bisa mensimulasikan klik iklan yang agresif untuk ditampilkan pengguna.

Pihak Google sudah melakukan segala kemungkinan untuk mencegah Hidden Ads masuk ke dalam Play Store.

Namun, para aktor jahat terus mencari cara untuk menyamarkan tujuan mereka, hingga berhasil menyelinap ke dalam platform, lalu menyusupi ponsel pengguna.

Hidden Ads merupakan malware jenis trojan yang seolah menyamar sebagai aplikasi aman dan berguna. Setelah diunduh, malah membombardir iklan secara terus-menerus (spam).

The White Ops Satori Threat Intelligence and Research Team, mengidentifikasi aplikasi adware ini hanya bertahan 17 hari di Google Play sebelum diblokir dan dihapus.

Tapi, sebelumnya bisa menjangkau 500 ribu – 20 juta pengunduh hingga pengguna merasa ada serangan ekstrem, dan mengganggu perangkat pengguna dengan membombardir iklan, serta mengarahkan pengguna ke situs web tertentu tanpa harus klik tautan.

Melalui situs resmi White Ops, kita dapat mengetahui detail aplikasi berbahaya yang dihapus Google.

Pihak mereka mengingatkan agar pengguna lebih selektif saat mengunduh aplikasi, pastikan aplikasi tersebut asli dan resmi agar tidak terjebak iklan di luar konteks.

10 Teratas Aplikasi Android yang Dihapus Google

Melansir dari CNN Indonesia, berdasarkan laporan White Ops terdapat lima 5 jajaran aplikasi android yang dihapus Google teratas, yang telah banyak diunggah penggunanya, diantaranya:

  1. iSwipe Phone X – 5 juta download
  2. DJ Mixer Studio 2018 – 1 juta download
  3. Ringtone maker – Mp3 cutter – 1 juta download
  4. AppLock New 2019 – 1 juta download
  5. Wifi Speed Test – 500.000 download

Adapun 5 aplikasi yang dihapus Google selanjutnya, dan berkedok selfie beauty adalah:

  1. First Selfie Beauty Camera & Photo Editor – 5 juta download
  2. Lite Beauty Camera – 1 juta download
  3. Cartoon Photo Editor & Selfie Beauty Camera – 1 juta download
  4. Sun Pro Beauty Camera – 1 juta download
  5. Beauty Camera & Photo Editor Pro – 1 juta download

Dilansir dari ZDnet, White Ops menyatakan 240 aplikasi nakal tersebut berhasil menarik lebih dari 14 juta unduhan pada tahun itu.

Seluruh operasi illegal mencapai puncaknya pada bulan Agustus, ketika menghasilkan lebih dari 15 juta tayangan iklan per-hari.

Menurut telemetri White Ops, sebagian besar aplikasi diunduh oleh pengguna di seluruh Amerika dan Asia, negara teratas adalah:

  • 20,8% – Brasil
  • 19,7% – Indonesia
  • 11,0% – Vietnam
  • 7,7% – Amerika Serikat
  • 6,2% – Meksiko
  • 5,9% – Filipina

Dampak Lain Disruptive Ads

Aplikasi android nakal ‘memaksa’ pengguna mengklik iklan. Luar biasanya, setelah ditelusuri oleh peneliti keamanan 22 aplikasi berbahaya tersebut sudah diunduh dari Google Play Store lebih dari 2 juta kali.

Malware yang tersimpan dalam aplikasi tersebut pun berkemampuan untuk beradaptasi dengan perangkat Android, sehingga aktif terus-menerus di background aplikasi dan menguras baterai smartphone kamu.

Selain mengganggu dengan berbagi iklan nakal, berdasarkan penelusuran pihak Cyber News para aktor jahat pun menyalahgunakan data termasuk lokasi pengguna Android. Lalu, informasi itu lantas dijual pada agen pemasaran dengan harga ribuan dollar.

Adapun laporan dari Forbes menyatakan bahwa jaringan developer yang terorganisir ini merupakan jaringan Tiongkok yang kerap melakukan klon aplikasi populer.

Beberapa dari aplikasi itu pun diketahui memiliki akses mikrofon dan kamera di perangkat yang memasangnya.

Overcharge Pemakaian Aplikasi

Adapun aplikasi yang tidak berbahaya, namun mengenakan biaya berlebihan kepada pengguna untuk menikmati layanan aplikasi.

Misalnya, suatu fitur dikenakan biaya hingga Rp6 juta untuk aplikasi berlangganan mingguan. Jumlah yang tidak masuk akal.

Pengguna aplikasi seringkali tertipu atas penawaran berlangganan untuk banyak aplikasi yang berbeda-beda dan dikenai overcharge untuk akses mingguan ke layanan tunggal lainnya.

Pengembang aplikasi membuat istilah rincian secara tidak jelas dengan teks kecil atau bahkan font abu-abu pada latar belakang putih, sehingga membuat pengguna sulit membaca dengan jelas.

Aktor jahat cyber selalu memanfaatkan peluang untuk melancarkan aksinya, termasuk melalui aplikasi.

Oleh karena itu, pengguna sebaiknya lebih berhati-hati dan waspada terutama pada aplikasi-aplikasi dari developer tidak dikenal.

(Baca Juga: 14 Aplikasi Android Penghasil Uang Terbaik, Sudah Pernah Coba?)

Dari beberapa kasus di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada salahnya jika kamu lebih teliti dan meluangkan sedikit waktu membaca ulasan yang sudah ada.

Juga pastikan untuk selalu mengecek ulasan bintang satu atau negatif sehingga kamu bisa mengetahui apa kekurangan aplikasi tersebut dari awal.

Waspada dan berhati-hati memanglah perlu, karena ketika software HP sudah rusak, sulit untuk memperbaikinya, dan kamu harus membeli HP baru lagi.

Namun, tak perlu bingung, kamu bisa melakukan service atau bahkan beli HP baru, untuk menggantikan HP lamamu. Biar lebih hemat, kau bisa bayar service atau beli HP baru, menggunakan kartu kredit.

Lewat CekAja.com kamu bisa mendapatkan produk kartu kredit terbaik, dari berbagai bank ternama di Indonesia.

Apabila kamu belum memiliki kartu kredit, kamu bisa mengajukannya secara online, kapan saja di mana saja, lewat CekAja.com.