Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Nasib Barang Branded Terkena Dampak Covid-19, Berjamur hingga Rusak

by Estrin Vanadianti Lestari on 9 Juni, 2020

Dampak Covid-19, ternyata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah saja, karena beberapa pengusaha barang-barang branded di beberapa negara, juga ikut kena imbasnya. Seperti kabar yang baru-baru ini viral, bahwa terlihat sejumlah barang branded terkena dampak Covid-19, mulai dari berjamur, rusak, hingga toko yang mengalami anjloknya penjualan, akibat mall tutup sekitar hampir tiga bulan.

Nasib Barang Branded Terkena Dampak Covid-19, Berjamur hingga Rusak

Beberapa postingan dari akun Facebook yakni Nex Nazeum, terlihat nasib barang branded terkena dampak Covid-19 itu pun, tampak menyedihkan. Bahkan, beberapa barang branded seperti sepatu, tas, hingga dompet, yang diketahui dari mall yang ada di Malaysia ini, sudah tidak bisa dijual, karena rusak.

Barang Branded yang Rusak Merupakan Keluaran Brand Fashion Ternama

Bahkan, beberapa barang-barang branded tersebut merupakan keluaran brand fashion terkenal dunia. Sebut saja seperti POLO Ralph Lauren, Camel Active, di mana harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta.

Hal tersebut diduga akibat, kondisi ruangan toko yang ada di mall Metrojaya Malaysia, gelap dan lembab. Bayangkan saja, sekitar 3 bulan, barang-barang branded tersebut, tak mendapatkan aliran udara yang bebas, karena seluruh AC di mall dimatikan.

Diketahui juga, bahwa Malaysia memang telah menerapkan lockdown sejak bulan Maret 2020 lalu, yakni mulai 18 Maret 2020, dan kabarnya akan diperpanjang hingga 9 Juni 2020.

Berbeda dengan Indonesia, yang hanya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga beberapa mall masih bisa kecolongan untuk tetap buka, terlebih saat penghujung lebaran kemarin. Meski begitu, baik lockdown maupun PSBB, tentunya sangat berpengaruh besar terhadap sektor ekonomi, termasuk para pengusaha retail barang-barang branded.

(Baca Juga: Dampak Bisnis Saat Corona Mewabah, Nasabah KTA CTBC Bisa Dapat Kemudahan?)
Karyawan Dirumahkan, Toko Barang Branded jadi Tak Terurus

Selama lockdown di Malaysia, semua toko, mall, hingga pusat perbelanjaan ditutup total. Sehingga, para pekerja dan karyawan yang bekerja di mall pun, juga ikut terkena imbasnya, yakni dirumahkan atau di PHK.

Ketika semua karyawan dirumahkan, toko pun jadi terbengkalai, karena tidak ada yang bisa mengontrol kondisi toko meski ditutup. Kalau saja, ada karyawan yang berjaga shift, hanya untuk membersihkan toko, mungkin nasib barang branded terkena dampak Covid-19 yang menyedihkan, itu tidak akan terjadi.

Barang Branded Lokal Indonesia juga kena Dampak Covid-19

Jika tadi adalah kabar viral yang datang dari negara tetangga, di Indonesia sendiri beberapa pengusaha ritel juga merasakan dampak Covid-19. Bukan berjamur dan rusak, beberapa brand lokal Indonesia merasakan bahwa penjualannya terjun bebas alias menurun, karena toko offline tutup.

Seperti salah satu brand busana ready to wear Cotton Ink, dimana Ria Sarwono, salah satu pendiri Cotton Ink, mengaku penjualan produknya menurun drastis. Dilansir wolipop.detik.com, Cotton Ink pun akhirnya menutup secara temporer setidaknya tiga toko di Senayan City, Plaza Senayan, dan Kota Kasablanka.

Sehingga, mereka hanya mengandalkan penjualan dari online store, dan hanya bisa berusaha untuk tetap bertahan hidup sampai 6 bulan ke depan. Itu pun mereka harus mengatur strategi setiap harinya, agar perusahaan tak terlalu merugi.

Mereka berharap, kondisi bisa cepat kembali normal. Karena, mereka juga harus memikirkan pengeluaran marketing, seperti membayar sewa toko di mall, dan suplier.

Selebriti Lelang Barang Branded untuk Galang Dana Covid-19

Melihat kondisi negaranya yang semakin memburuk terkait kasus Covid-19, membuat salah satu selebriti Tanah Air, Zaskia Sungkar, merelakan untuk menjual beberapa barang branded miliknya yakni berupa tas mewah.

Zaskia menjual tas branded miliknya melalui akun Instagramnya. Tujuan penjualan barang branded tersebut, adalah untuk menggalang dana yang akan disalurkan untuk membantu para korban Covid-19, masyarakat yang terkena dampak dan tenaga medis Indonesia.

Tas-tas branded tersebut bukan tas biasa, melainkan tas tersebut keluaran perusahaan fashion ternama dunia seperti Louis Vuitton, Hermes, dan Gucci. Harganya pun ditaksir mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta.

Covid-19 jadi Peluang Bisnis Fashion di Tangan Orang Kreatif Ini

Jika beberapa pengusaha barang branded yang terkena dampak Covid-19 harus merugi, sepertinya yang dilansir majalah Business of Fashion, bahwa industri fesyen dunia akan mengalami penjualan sebesar 27-30 persen.

Sebut saja seperti beberapa label fashion ternama dunia seperti Burberry, Prada, dan Michael Kors. Dimana mereka sejauh ini sudah melaporkan penurunan penjualannya di masa pandemi.

Namun, sepertinya Covid-19 tidak selamanya akan membuat dunia fashion merana. Pasalnya, di tangan-tangan orang kreatif ini, Covid-19 menjadi sumber inspirasi, salah satunya bagi para perajin disabilitas, yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Dilansir dari antara.com, Rita Sukirni Panca Rianik yang merupakan pendamping KSM Harapan Mulia, mendapatkan inspirasi membuat sebuah produk batik dengan teknik ciprat, bermotif virus corona.

Tidak hanya menjadi hiasan atau motif, gambar virus corona dibuat di atas kain itu pun, juga dijadikan sebagai edukasi untuk masyarakat, bahwa bentuk virus corona kira-kira adalah seperti yang digambarkan pada batik ciprat tersebut.

Untuk jumlah pembatik di KSM tersebut ada 27 orang, yang terdiri dari para penyandang disabilitas tuna grahita. Namun, mereka juga tetap menerapkan protokol physical distancing, sehingga yang terlibat hanya beberapa orang saja.

Setidaknya ada sekitar tiga kain batik corona yang diproduksi KSH Harapan Mulia setiap harinya. Kain batik corona ini, dijual ke berbagai kota di Indonesia, seperti Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Malang dan Blitar.

Untuk harganya, dibanderol mulai dari Rp150.000 sampai Rp200.000 per kain. Kain batik corona ini, bisa dipesan melalui online dan Whatsapp. Karena untuk dijual secara offline, tentunya tidak dapat memungkin di tangah pandemi seperti ini.

(Baca Juga: 7 Makanan Unik Bertema Corona, Mulai dari Burger hingga Cup Cake Masker)

Nah, itu dia informasi singkat terkait nasib barang branded yang terkena dampak Covid-19. Di mana dunia fashion saat ini sedang kelimpungan untuk tetap bertahan hidup.

Namun, jika kamu punya pemikiran yang kreatif seperti para penyandang disabilitas dari KSM Harapan Mulia, kamu juga bisa loh mengikuti jejaknya.

Saat Pandemi Penghasilan Tidak Ada, Bagaimana Mau Bangun Usaha?

Penghasilan terhenti karena dampak Covid-19, dan kamu ingin putar otak dengan cara bangun usaha, tapi modal enggak ada? Jangan khawatir, karena kini kamu bisa dengan mudah mengajukan pinjaman dana untuk modal usaha secara online, melalui situs CekAja.com.

Ada pinjaman apa saja sih di CekAja.com? Yuk, kepoin situsnya, dan ajukan pinjaman dana sesuai kebutuhanmu sekarang juga, hanya di CekAja.com!

Tentang Penulis

Estrin Vanadianti Lestari

Sisuka makan banyak, tapi enggak gemuk-gemuk