Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Barongsai Kong Ha Hong, Legenda Barongsai di Indonesia

by Rini Agustina on 27 January, 2020

Setiap perayaan tahun baru imlek tiba pertunjukkan barongsai adalah salah satu yang paling ditunggu.

Barongsai Kong Ha Hong

Tarian tradisional asal Tiongkok yang membalut para penarinya dengan kostum singa tersebut menjadi hiburan paling dinanti. Melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keunggulan barongsai biasanya melibatkan dua penari dalam satu kostum. Penari yang berada di posisi depan akan menjadi bagian depan tubuh singa, sementara penari dibelakang akan menjadi bagian tubuh belakang singa.

Pertunjukkan barongsai tidak hanya menampilkan atraksi singa, namun juga atraksi music khas Tiongkok. Ya, biasanya saat pertunjukan barongsai berlangsung akan selalu ada iringan music yang khas. Karena itu barongsai dimainkan dalam satu tim melibatkan lebih dari 5 orang. Di Indonesia Barongsai Kong Ha Hong yang paling dinanti.

Di Dalam budaya Cina traditional sendiri, singa, seperti naga Cina sebenarnya hanya ada dalam mitos. Fakta singkatnya yang berbentuk barongsai tidak pernah Ada. Kisah munculnya barongsai harus kita tarik dari sejarah sebelum Dinasti Han (202 SM – 220 M).

Kala itu hanya ada beberapa singa yang mencapai Dataran Tengah dari wilayah barat Cina kuno (sekarang Xinjiang), karena perdagangan Jalur Sutra. Nah saat itu masyarakat setempat sering menirukan tindakan singa yang baru tiba ke dataran tengah tersebut. Lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah tarian yang kerap dipertonton kan di depan para pejabat kerajaan di periode tiga Kerajaan (220-280).

Tarian tersebut meraih kepopuleran dengan munculnya agama Buddha di Dinasti Utara dan Selatan (420–589). Pada Dinasti Tang (618–907), tarian Barongsai adalah salah satu tarian istana yang wajib ditampilkan dalam berbagai acara besar di Istana. Tarian Singa ini dianggap sebagai pembawa keberuntungan juga penolak bala.

Asal Usul Nama Barongsai di Indonesia

Asal Usul Nama Barongsai di Indonesia - Barongsai Kong Ha Hong, Legenda Barongsai di Indonesia

Sebelum menguliti bagaimana perjalanan Barongsai Kong Ha Hong ada baiknya kita menyimak lebih dulu sejarah lahirnya barongsai di Indonesia. Menariknya, nama barongsai sebenarnya hanya di Indonesia, di Tiongkok sendiri seni pertunjukkan boneka singa tersebut lebih populer disebut “Wu Shi“, dan diincar internasional lebih dikenal dengan nama “Lion Dance“.

Istilah Barongsai sendiri merupakan hasil dari akulturasi antara budaya Nusantara dan Tiongkok. Kata “Barong” merujuk pada kesenian Bali, yakni penari yang menari menggunakan boneka atau kostum, sedangkan “sai” berasal dari bahasa hokkian yang berarti singa.

Barongsai memang lebih dikenal sebagai pertunjukkan boneka Singa, namun Barongsai sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa hewan. Ada 5 hewan yang mewakili setiap bagian tubuh barongsai. Karena itulah setiap bagian tubuhnya memiliki makna filosofis masing-masing, diantaranya:

(Baca Juga: Keahlian yang Dibutuhkan Freelance paling Banyak Dicari di Indonesia)

Selain bagian tubuh yang mewakili berbagai kekuatan hewan, warna warni pada Barongsai juga ternyata bukan hanya ditujukan demi memenuhi standar keindahan. Lebih dari itu, warna pada Barongsai melambangkan lima arah dalam kompas Tiongkok dan juga kelima unsur kehidupan. Warna-warna tersebut antara lain:

  • Kuning: melambangkan bumi (pusat)
  • Hitam: melambangkan air (utara)
  • Hijau: melambangkan kayu (timur)
  • Merah: melambangkan api (selatan)
  • Putih: melambangkan loga (barat)

Setiap pertunjukkan barongsai selalu diiringi dengan pertunjukkan music khas Tionghoa. Setidaknya ada tiga instrumen musik utama dalam sebuah pertunjukan Barongsai, yaitu: drum, simbal, dan juga gong. Suara drum berfungsi sebagai penanda untuk mengarahkan penari barongsai melakukan gerakan serta maneuver. Sementara suara simbal dan gong menggambarkan emosi dari Barongsai. Inilah kenapa ketika menonton Barongsai kita bisa merasakan pergumulan dan cerita yang ingin disampaikan Barongsai.

Setiap pertunjukkan barongsai selalu yang kita lihat adalah dua ekor singa naga yang sedang beratraksi. Jika tidak melihatnya dengan teliti maka penonton akan mengiranya keduanya sama. Padahal dalam setiap atraksi barongsai memang ada dua jenis yang dipertontonkan, yaitu Singa Utara dan Singa Selatan.

Singa Utara bersurai ikal dan berkaki empat, penampilannya cenderung lebih mirip singa. Sementara itu, Singa Selatan memiliki sisik serta jumlah kaki bervariasi, antara dua atau empat kaki. Kepala Singa Selatan juga dilengkapi tanduk.

Barongsai Kong Ha Hong

Kong Ha Hong, tim barongsai Indonesia yang diprakarsai oleh Ronald Sjarif. Berdiri sejak 1999, Kong Ha Hong sering mendapat undangan untuk tampil di berbagai perayaan besar bukan hanya di Indonesia melainkan juga di beberapa negara lain. Kong Ha Hong merupakan tim barongsai yang acapkali memenangkan berbagai kejuaraan barongsai kelas dunia.

Kong Ha Hong sebenarnya adalah nama sebuah yayasan sosial, yang menaungi seni tari barongsai dengan nama yang sama, keduanya memiliki satu marga saying sama yakni Huang.  Sjarif sendiri menjabat sebagai ketua harian Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI), membuatnya mengetahui kelompok-kelompok barongsai di Indonesia. Sehingga bisa mendirikan tim Kong Ha Hong.

Sebelum menjadi pendiri Barongsai Kong Ha Hong, Ronald merupakan pemain tim barongsai ini generasi pertama. Dulunya hanyalah sekelompok sekelompok wiraswasta beretnis Tionghoa yang ingin mempertahankan budaya asli nenek moyang mereka. Markas awal boneka singa raksasa tersebut berada di Jakarta Barat yang kemudian berkembang hingga saat ini.

Lima kali dapat juara satu dunia, dua kali di Indonesia, tiga kali lagi di China, membuat Barongsai Kong Ha Hong disebut-sebut sebagai salah satu tim barongsai terbaik di Asia karena memiliki keunggulan pada sisi kerapihan, kebersihan dan sopan santun. Barongsai Kong Ha Hong juga terkenal punya tim dengan kerjasama apik sehingga bisa selalu menghibur penonton dengan atraksi andalannya yakni loncat tinggi, loncat jauh, loncat sambil menukik.

Menariknya, meski barongsai adalah kesenian asli Tiongkok namun tim yang membesarkan grup barongsai satu ini terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Tim yang berhasil menjadi juara 1 uang Xi World Lion Dance Championship 2019 ni punya banyak anggota beragama muslim dan merupakan warga asli Indonesia. Mereka mengakui bahwa keberagaman tidak memecah belah justru semakin menguatkan.

Sempat dilarang Era Order Baru

Perjalanan Barongsai Kong Ha Hong sampai sejauh ini penuh dengan lika liku. Tak hanya mengecap manis dengan menjuarai 5 kompetisi Xi World Lion Dance Championship, mereka juga sempat merasakan vakum selama order baru. Tim yang menjuarai Xi World Lion Dance Championship pada tahun 2009, 2015 I , 2015 II, 2017, serta 2019 tersebut sempat vakum selama 32 tahun karena dilarang tampil oleh pemerintahan orde baru.

Geliat Barongsai Kong Ha Hong kembali aktif sejak tahun 1999. Penampilan perdana mereka kala itu adalah saat perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Kala itu para etnis Tionghoa yang merayakan jatuhnya order baru merasa perlu memaknainya dengan sebuah perayaan, barongsai adalah salah satunya.

Barongsai Kong Ha Hong dipanggil oleh para korban tragedi penjarahan dan kerusuhan Mei 1998 untuk menolak bala. Etnis Tionghoa sejak dulu meyakini bahwa singa barongsai adalah symbol untuk menolak segala jenis bala.

Tentang Penulis