Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Belajar dari Cerita ‘Layangan Putus’, Siapkan 5 Langkah Finansial Ini

by Sindhi Aderianti on 5 November, 2019

Belakangan, viral kisah bersambung Layangan Putus di Facebook. Layangan Putus menceritakan pengalaman seorang ibu 5 anak yang tiba-tiba ditinggal suaminya dan menikah lagi. Atas kejadian pahit tersebut, Mommi Asf sang penulis pun memutuskan untuk bercerai, bahkan mengambil hak asuh keempat anaknya.

layangan putus

Menjadi single mother tentu bukanlah hal yang diinginkan setiap wanita. Terlebih jika penyebabnya adalah perceraian karena ‘perbuatan tangan’ pasangan sendiri. Belajar kisah nyata tersebut, penting bagi kita sebagai perempuan, istri, dan ibu untuk bisa mapan secara finansial.

Pada Layangan Putus (bagian 1), jelas tertuang bagaimana perjuangan Mommi Asf membesarkan anak-anaknya tanpa pertanggungjawaban suami. Lalu apa saja yang harus seorang ibu tunggal perhatikan dalam mengelola keuangan agar mampu bertahan hidup?

1. Menambah pemasukan

Pertama tentunya jangan menggantungkan hidup dari gaji semata. Tambah pemasukan dari hal lain, seperti berbisnis atau mengambil freelance job. Banyak pilihan bisnis online yang bisa kamu coba tanpa membutuhkan banyak modal, sesimpel jadi reseller atau dropshipper. Kamu pun bisa mengambil untung sesuka hati. Saat ini banyak juga perusahaan digital yang membutuhkan jasa penulis lepas, desainer grafis, atau penerjemah untuk kebutuhan promosi brand mereka. Jika kamu memiliki kemampuan tersebut, jangan ragu untuk mengambilnya demi tambahan pundi-pundi keluarga.

(Baca juga: Jadi Single Parent Kudu Strong, Ini Asuransi yang Penting untuk Dimiliki)
2. Belajar investasi

Selanjutnya, cobalah berinvestasi untuk memperkuat pondasi keuanganmu. Pilih instrumen yang berisiko rendah, agar uang tidak terbuang sia-sia. Bila kamu tergolong pemula dalam menjajal dunia investasi, cobalah ‘bermain’ emas. Emas dianggap paling aman dibandingkan instrumen investasi lainnya. Selain karena nilainya cenderung stabil dalam jangka waktu panjang dan mudah dicairkan, kamu juga bisa memulai investasi ini dengan budget mulai dari Rp6.000 lewat fasilitas tabungan emas. Kamu hanya tinggal melakukan pendaftaran di tempat pembelian emas seperti Pegadaian atau melalui fitur beberapa e-commerce yang sudah bekerja sama dengan lembaga tersebut.

3. Selesaikan utang dan berhemat

Buat daftar kewajiban finansial yang harus dibayar. Agar tidak membebankan anak dan dirimu sendiri nantinya, mulailah menyelesaikan utang-utang tersebut. Baik itu utang dari kartu kredit, sistem paylater, atau pinjaman lain. Pelunasan utang sebaiknya dilakukan mulai dari utang dengan bunga yang tertinggi terlebih dahulu. Jika tak ingin dicicil, gunakan beberapa asetmu untuk melunasinya secara kontan. Setelah itu, kini saatnya belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Mulailah untuk hidup hemat, contohnya hentikanlah pembayaran rutin membership fintess yang mungkin hanya kamu gunakan 3 bulan sekali.

4. Pertimbangkan memiliki asuransi

Asuransi ibarat menabung dana darurat, tapi lebih spesifik kemana tujuannya. Sayangnya masih banyak orang menganggap premi yang dikenakan terlalu mahal. Padahal manfaatnya secara finansial di kemudian hari amatlah besar. Lagipula, kamu bisa menyesuaikan ‘kantong’ dengan pilihan premi yang beragam. Nah, asuransi yang paling recommended ketika harus menjadi single mom adalah asuransi jiwa dan pendidikan. Dengan memiliki asuransi jiwa misalnya, kelak ada dana yang bisa digunakan bagi pengganti dirimu jika suatu hari kondisi finansial terancam karena PHK, cacat fisik, atau bahkan kematian. Sementara asuransi pendidikan nantinya bisa menanggung biaya sekolah anak hingga perguruan tinggi.

5. Rutin buat anggaran keuangan

Jangan lupa untuk selalu membuat anggaran keuangan. Catatlah setiap perencanaan dan penerapan budget secara rinci dalam beberapa pos. Semisal pos tagihan rutin, pos asuransi, pos konsumsi sebulan, pos sekolah anak, dan pos entertainment. Dengan membuat pos-pos budgeting ini, otomatis kamu akan lebih disiplin menggunakan uang. Selain itu, jumlah pengeluaran di waktu yang akan datang pun lebih terprediksi. Jadi bisa sekaligus menyiapkan dananya mulai dari sekarang. Terakhir, sebisa mungkin sisihkan  beberapa rupiah untuk ditabung sebagai dana darurat.

Bercerai atau ditinggalkan oleh pasangan yang meninggal dunia bukanlah akhir dari segalanya. Intinya soal masa depan finansial keluarga, hindari besar pasak daripada tiang mengingat sumber penghasilan hanya dari satu pintu yaitu dirimu sendiri.

(Baca juga: Rekomendasi 5 Produk Keuangan Untuk Pengantin Baru)

Jika kamu mengalami perceraian, memang seharusnya tetap ada tunjangan setiap bulan. Kewajiban mantan suami pasca memberi nafkah pasca perceraian merupakan salah satu akibat perceraian yang pengaturannya tertuang dalam Pasal 41 C Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”). Meski begitu, sebaiknya jangan selalu bergantung kepada setoran tersebut. Tetaplah berusaha untuk mandiri secara finansial. Semoga tips di atas membantumu dan semangat terus!

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.