Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Belajar Investasi dari Cara Warren Buffett Menjual Sahamnya

by Ariesta on 3 April, 2016

Mengetahui kapan harus menjual sama pentingnya dengan  tahu kapan harus membeli. Inilah sejumlah tips investasi saham yang sering dilakukan investor kaya raya Warren Buffett.

Banyak investor mempelajari cara Warren Buffet membeli saham. Dari situ mereka kemudian menformulasikan strategi untuk membangun portofolio sendiri. Namun untuk menjadi investor sukses, hanya mempelajari cara membeli saja ibarat hanya mempelajari setengah ilmu Warren Buffet.

Karena ternyata, ada situasi-situasi tertentu di mana  Buffet akan menjual  sahamnya. Tentunya ini juga penting dipelajari oleh kamu yang bercita-cita menjadi investor sukses.

Saat motivasi asli untuk membeli saham sudah hilang

Sampai beberapa tahun lalu, Berkshire Hathaway merupakan pemegang saham terbesar ExxonMobil. Buffet berkata (hingga kini) bahwa ExxonMolbil merupakan perusahaan bagus. Awalnya Berkshire menginvestasikan US$3,4 miliar dan Buffet bersama timnya punya pikiran optimis terhadap perusahana tersebut dan minyak dunia secara umum.

Tapi kemudian partner bisnis Buffet, Charlie Munger, berkata padanya di tahun 2013, “Harga minyak akan akan jatuh karena ketidakseimbangan supply dan demand.”

(Baca juga: Begini Cara Miliarder Kelola Uangnya Agar Makin Kaya)

Kurang dari dua tahun setelah mananam saham di ExxonMobil, Berkshire menarik semua sahamnya. Dalam wawancara tahun 2014, Buffet berkata, “Aku tidak lagi tertarik dengan harga minyak dunia.” Dia berkata demikian karena berpikir harga minyak di masa depan tidak seterang seperti yang orang lain bayangkan.

Intinya, ketika kamu memutuskan untuk membeli saham, pasti karena alasan kalau kamu optimis terhadap bisnis perusahaan. Namun jika kenyataan berkata sebaliknya, segera tarik sahammu sebelum terlambat.

Saat perusahaan mulai rakus

Di tahun 1880, Warren Buffet membeli sejumlah besar saham Freddic Mac dan berkata kalau harganya yang sangat murah. Pada 1998, Berkshire memiliki 9 persen dari keseluruhan saham Freddic Mac dengan nilai US$3,9 miliar atau sekitar 12 kali dari harga beli.

Kemudian pada akhir 1990-an, Buffet mencium adanya masalah. Dia menyadari jika Freddic Mac terlalu fokus mengeruk keuntungan dan banyak mengambil keputusan beresiko. Mantan CEO Freddie Mac, Leland Brendsel, lebih fokus menghasilkan keuntungan dua digit dan membuat investasi yang tidak ada hubungannya dengan model bisnis perusahaan. Dan ini dirahasiakan dari para pemegang investor.

Akhirnya pada tahun 2000, Berkshire menjual semua saham  Freddie Mac. Parahnya, Freddic Mac turut berperan dalam menyebabkan perekonomian Amerika runtuh. Jika saat itu Buffet tidak menjual sahamnya, sahamnya mungkin hanya bernilai US$90 juta dari harga sebenarnya US$3,9 miliar.

Jadi saat kamu mengendus tanda-tanda keserakahan dari manajemen perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan model bisnis yang diusung, segeralah angkat kaki.

Saat kamu lebih baik mengalokasikan uangmu di tempat lain

Baru-baru ini Buffet baru saja menjual dua sahamnya; Goldman Sachs dan Wal-Mart. Meski demikian, Buffet tidak menjual semuanya. Dia masih memegang 13 persen saham Goldman dan 7 persen saham Wal-Mart.

Keputusan ini karena Berkshire memutuskan untuk mengakuisisi Precision Castparts sebesar US$32 miliar. Untuk itu, tentu saja dia harus menjual sahamnya yang lain demi mendapat modal tambahan.

(Baca juga: Alasan Kenapa Steve Jobs Tidak Bisa Sekaya Bill Gates)

Buffet memang pernah berkata kalau dia lebih memililh memiliki seluruh perusahaan dibandingkan saham. Jadi keputusan untuk memindahkan uang saham untuk menjadi menjadi pemilik penuh merupakan keputusan yang cerdas.

Meski pada kenyataannya kamu tidak mungkin menjual saham demi membeli perusahaan, logika ini juga berlaku untuk portofoliomu. Ketika kamu merasa uangmu bisa lebih menguntungkan di tempat lain, jangan ragu untuk menjual sebagian saham.

Tentang Penulis