Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

Status Corona di China Kembali Meningkat? Simak Artikelnya!

by Teti Purwanti on 15 April, 2020

Pada penghujung 2019 lalu ditemukan kasus penyebaran virus corona versi terbaru. Yang bernama Novel Coronavirus dengan penyebaran pertama terjadi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China.

status corona di china

Virus ini kemudian menyebar ke kota lainnya di China dan menyebar ke lebih dari 200 negara. Sehingga World Health Organization menyebut kasus ini sebagai pandemic global dan menamai virus tersebut dengan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sedikitnya tercatat 81.708 kasus orang yang terjangkit virus ini di China dengan jumlah kematian lebih dari 3.300 jiwa. Berdasarkan informasi yang beredar, penyebaran virus ini di China mulai berangsur mereda dan penyebaran terbanyak saat ini justru terjadi di Amerika Serikat dan Italia.

Secara global sudah lebih dari 1,92 juta orang terinfeksi Covid-19 dengan korban jiwa mencapai 119.403 orang.

Namun, banyak orang meragukan kebenaran yang menyebutkan kasus virus corona di China mulai membaik. Sebagaimana disampaikan oleh analisis dari sejumlah media internasional.

Ancaman gelombang kedua Covid-19 di China

Pada dasarnya, China telah melewati puncak kurva penyebaran Covid-19 pada 12 Februari lalu dengan jumlah kasus harian mencapai 14.108. Provinsi Hubei tempat awal penyebaran virus tersebut telah dibuka kembali setelah dua bulan diisolasi penuh. Warga juga sudah kembali beraktivitas di luar rumah dan produksi industri telepon genggam dan manufaktur juga mulai berangsur pulih.

Akan tetapi, saat ini China kembali menghadapi ancaman dan kekhawatiran baru. Dengan kembali naiknya laporan penularan harian dari Covid-19 ini.

Menurut data Worldometer, ada 108 kasus baru di China pada 12 April yang meningkat dari sehari sebelumnya yang sebanyak 99 kasus. Meski begitu, peningkatan kasus tersebut belum melampaui puncak kurva pada 5 Maret lalu dengan 143 kasus.

Gelombang kedua penyebaran virus corona di China menurut pemerintah setempat adalah penularan virus oleh warga China yang pulang dari luar negeri. Dan juga dari orang tanpa gejala (OTG) atau yang dikenal asimtomatik yang kini menjadi perhatian di China.

Ahli epidemologi WHO memprediksi sekitar 75% pasien di China tidak menunjukkan gejala dan pada gilirannya menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19. Keberadaan OTG mempersulit pelacakan pasien.

China merilis data OTG yang dites positif, walaupun banyak pihak yang meragukan keterbukaan data di China. Pada 5 April lalu terdapat lebih dari 700 pasien yang tersebar di seluruh negara dan saat ini berada dalam pengawasan ketat.

Penyebaran Covid-19 dari imported case

China saat ini juga disibukkan dengan penyebaran Covid-19 yang berasal dari imported case. Atau yang berasal dari penyebaran melalui orang yang pulang dari luar negeri. Pada 3 April lalu terdapat 18 dari total 19 kasus harian yang berasal dari imported case. 4 di antara pasien tersebut meninggal di Provinsi Hubei.

Wuhan kembali menghadapi ancaman menjadi episentrum Covid-19 setelah ada kasus impor tersebut. Yang terjadi dua pekan setelah pejabat setempat menyampaikan untuk membuka isolasi di Hubei.

Pejabat setempat di provinsi tersebut meminta agar masyarakat tidak keluar rumah bila tidak ada keperluan mendesak. Karena tren penularan dari luar negeri meningkat di China pada pekan pertama April.

Berdasarkan laporan, terdapat 38 kasus impor dari 39 kasus Covid-19 per hari pada 5 April dengan dua orang meninggal. Satu di antaranya berasal dari Hubei.

Kemudian pada hari berikutnya, Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 32 kasus baru dari penularan luar negeri, namun tidak ada korban meninggal pada 6 April. Lalu, pada 12 April secara keseluruhan tercatat ada 82.160 kasus Covid-19 dengan 3.341 orang meninggal dan 77.663 dinyatakan sembuh.

Ahli klinis Covid-19 dari Shanghai bernama Zhang Wenhong mengatakan pandemic ini belum akan berakhir pada musim panas. Dan diperkirakan akan ada gelombang kedua setelah musim gugur atau pada periode September-Oktober di China.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah bisa mengendalikan kasus imported case untuk mencegah penularan kasus baru. Serta meminta warga tetap menjaga jarak, mengenakan masker di tempat umum, dan sering cuci tangan.

Dia menjelaskan penularan kasus dari luar negeri terjadi karena warga China yang bekerja ataupun belajar di berbagai negara yang menjadi episentrum Covid-19 seperti Iran, Italia, dan Rusia mulai kembali ke negaranya setelah Hubei tidak lagi berstatus lockdown.

Warga yang kembali dari negara zona merah corona harus menjalani karantina selama 14 hari di China sesuai prosedur, namun beberapa kasus ditemukan tanpa gejala.

Data terbaru pada 13 April di China terdapat 98 kasus impor Covid-19 yang melibatkan pendatang dari luar negeri yang tiba di China. Jumlah tersebut melebihi hari sebelumnya yang tercatat ada 97 kasus impor. Sementara itu, jumlah kasus tanpa gejala pada 13 April sebanyak 61 kasus, turun dari 63 kasus pada hari sebelumnya.

Data dan angka pemerintah China diragukan

Selama ini China memiliki reputasi yang buruk terkait informasi angka resmi yang diyakini dunia internasional. Khususnya terkait data perekonomian yang menjadi indikator utama kemajuan negara dan juga keberhasilan Partai Komunis sebagai partai penguasa.

Tidak seperti kebanyakan negara, angka Produk Domestik Bruto (PDB) triwulanan China telah lama dianggap sebagai panduan daripada refleksi akurat dari kinerja ekonomi aktualnya.

Sebelum pandemi ini, pemerintah China bertujuan untuk pertumbuhan sekitar 6% pada tahun 2020. Selama bertahun-tahun ramalan ini hampir selalu tercapai, dengan hampir tidak ada batas kesalahan (margin of error).

Namun, data-data pertumbuhan ekonomi yang konsisten tersebut justru menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Dominasi Partai Komunis kadang-kadang tergantung pada perkiraan atau target yang bahkan jika hal itu tidak benar-benar terpenuhi.

Sebaliknya, Partai Komunis menyembunyikan kenyataan ketika hal itu tidak sesuai dengan tujuan yang dinyatakan partai.

Beberapa pejabat tingkat provinsi telah dihukum secara terbuka karena mengajukan angka PDB palsu.

Beberapa perkiraan menempatkan pertumbuhan ekonomi aktual China adalah setengah dari jumlah yang disebutkan.

Di masa lalu, beberapa analisis independen menggunakan angka pembangkit listrik provinsi untuk menunjukkan PDB lebih rendah dari angka resmi.

Jika China dapat menghadapi tuduhan terus-menerus, bahwa negara itu terlihat tidak jelas terkait sesuatu yang sama pentingnya dengan PDB, bukan hal yang besar untuk berpikir bahwa mereka akan berperilaku sama terkait sesuatu yang sama pentingnya dengan Covid-19.

Kasus Covid-19 sempat disembunyikan China

Awal mula penyebaran virus corona terjadi pada Desember 2019 lalu di Wuhan, Hubei, China. Dan bukan rahasia lagi bahwa China memang sempat menyembunyikan keberadaannya, luasnya dan tingkat keparahannya pada tahap-tahap awal.

Walikota Wuhan sejak lama mengakui ada kurangnya tindakan antara awal Januari – ketika sekitar 100 kasus telah dikonfirmasi – dan 23 Januari, ketika pembatasan seluruh kota diberlakukan.

China melaporkan virus itu ke WHO pada 31 Desember. Tetapi banyak pihak sudah mengetahui, pada kurun waktu tersebut ada seorang dokter bernama Dr. Li Wenliang yang mencoba memperingatkan rekan-rekannya tentang wabah virus sejenis Sars, namun justru didatangi oleh kepolisian untuk dibungkam. Dia tidak sendiri, karena pihak-pihak lain yang mencoba memperingatkan adanya kasus ini juga dibungkam.

Pada akhirnya, Dr Li juga harus meninggal akibat serangan dari virus corona tersebut.

Pada bulan Maret lalu, tidak lama setelah Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan pertamanya ke Wuhan sejak wabah Covid-19, tidak ada kasus baru yang dikonfirmasi di seluruh daratan China, kecuali provinsi Hubei.

Sekitar waktu kunjungan Presiden Xi, kantor berita Jepang Kyodo News melaporkan kekhawatiran seorang dokter yang tidak disebutkan namanya di kota itu, yang mengatakan para pejabat menginstruksikan dia dan dokter yang lainnya untuk tidak memasukkan kasus-kasus baru dari angka resmi.

Sementara itu, pemerintah AS telah melangkah lebih jauh, menurut laporan terbaru dari Bloomberg.

Laporan intelijen resmi ke Gedung Putih menyimpulkan bahwa pelaporan China sengaja tidak lengkap dan jumlahnya palsu.

Ada beberapa alasan China menutupi wabah tersebut, antara lain untuk menyembunyikan krisis kesehatan masyarakat yang akan datang, untuk mencegah kepanikan, atau mungkin untuk mengelola pemberitaan dengan harapan angka tidak meningkat dan tidak akan pernah sepenuhnya terungkap.

China mulai berupaya lakukan transparansi data

China pada periode Maret lalu mulai mencoba memperbaiki reputasinya terkait keterbukaan data.

Perdana Menteri China Li Keqiang – orang nomor dua dalam politik China – pada medio Maret lalu telah mengatakan semua daerah harus menuntut keterbukaan informasi secara transparan.

Dr Li dan dokter pelapor lainnya yang pada awalnya dihukum dan telah meninggal karena virus dinyatakan sebagai martir nasional resmi.

Beberapa minggu setelah penguncian wilayah di Wuhan, media pemerintah melaporkan bahwa presiden secara pribadi telah memimpin pertemuan tentang penyakit itu pada minggu pertama Januari, meskipun klaim ini tidak dilaporkan pada saat itu.

China telah mengirim bantuan dan tenaga medis ke negara-negara yang paling membutuhkan, seperti Italia, tetapi juga negara yang lain, seperti Serbia, yang merupakan sekutu yang sedang membutuhkan.

Dan pemerintah China mengklaim tahap pertama percobaan vaksin pada manusia yang mungkin telah selesai, hanya dalam waktu beberapa minggu.

Terlepas dari permasalahan data tersebut, kita semua berharap agar penyebaran wabah virus corona di China dan seluruh negara khususnya Indonesia bisa segera selesai agar kehidupan bisa kembali normal seperti sebelum ada wabah ini.

Tentang Penulis

Teti Purwanti

Ibu penuh waktu. Penulis setengah waktu. Jurnalis di sisa waktu.