Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

Biaya Masuk Sekolah Menengah Atas di Jakarta Termahal

by Teti Purwanti on 7 Januari, 2020

Beberapa waktu lalu media sosial diramaikan dengan harga taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) yang harganya selangit sehingga membuat ginjal kaum kismin bergejolak. Bukan tanpa dasar, pasalnya harga-harga pendaftaran hingga uang tahunan sekolah tersebut bisa untuk membeli mobil.

Biaya Masuk Sekolah Menengah Atas di Jakarta Termahal

Namun siapa sangka banyak tingkatan yang lebih tinggi termasuk sekolah menengah atas tidak kalah mahalnya. Apalagi, pada tingkatan sekolah yang lebih tinggi, orang tua berharap sang anak bisa makin siap menghadapi dunia kerja yang tidak lama lagi.

Apalagi, negara-negara di dunia termasuk Indonesia kini memasuki era revolusi industri jilid ke-4 atau dikenal dengan Industri 4.0 yang mengandalkan pengembangan teknologi canggih dan juga Internet of Things (IoT). Entah sampai berapa lama eksistensi Industri 4.0 ini berlangsung, hingga nanti digantikan oleh revolusi selanjutnya.

Dalam menyambut perkembangan zaman ini, setiap orang tentunya harus memiliki bekal pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang krusial bagi setiap orang. Tak heran, guna mengenyam pendidikan para orang tua rela menggelontorokan biaya setinggi-tingginya.

Biaya tinggi itu biasanya dipatok oleh sekolah-sekolah berlabel internasional, seperti yang sekarang menjamur di Jakarta, daerah penyangga Jakarta, dan kota-kota besar.

Biaya Pendidikan Tingkat SMA Termahal di Jakarta

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2019 lalu, biaya pendidikan tingkat sekolah menengah atas alias SMA paling mahal adalah di Jakarta dengan rerata setiap bulannya mencapai Rp13,4 juta. Di urutan kedua adalah Jawa Barat dengan biaya yang harus dikeluarkan orang tua mencapai Rp8,7 juta tiap bulan. Kemudian disusul Banten sebesar Rp8,2 juta, Yogyakarta sebesar Rp8 juta, dan Bali sebesar Rp8,7 juta.

Sementara itu, lima provinsi dengan biaya SMA terendah adalah Sulawesi Tenggara dan Aceh sebesar Rp3,8juta, Maluku sebesar Rp3,7 juta, Nusa Tenggara Timur Rp3,5 juta, dan Sulawesi Barat Rp3 juta. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan 2018, rerata total biaya pendidikan nasional tingkat SMA mencapai Rp6,53 juta.

Adapun rata-rata total biaya pendidikan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun ajaran 2017/208 sebesar Rp2,4 juta. Kemudian untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai Rp 4,23 juta. Sedangkan Perguruan Tinggi (PT) sebesar Rp15,33 juta.

Perbedaaan SMA, SMK, dan MA

Sebetulnya, sekolah menengah tingkat atas, bukan hanya SMA, namun ada pula  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA) & Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Sayangnya, berbeda dengan kuliah yang biasanya anak akan tahu keinginannya, pada sekolah lanjutan, anak cenderung masih belum tahu keinginannnya, sehingga hanya mengikuti orang tua atau temannya saja.

Padahal, ada beberapa pilihan yang boleh jadi orang tua saja belum bisa membedakan apa itu SMA, SMK, dan MA/ MAK.

Sekolah Menengah Atas (SMA)

Sekolah Menengah Atas adalah sekolah umum yang ditempuh oleh para siswa lulusan SMP (sederajat), selama tiga tahun yang terdiri dari kelas X-XII, yang merupakan tingkatan wajib dalam program Wajib Belajar 12 Tahun. Pada jenjang ini, fokus pembelajaran adalah berbagai bidang ilmu dengan cakupan yang luas.

SMA pun dibagi lagi menjadi tiga peminatan, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan ilmu spesifik yang dipelajari adalah Fisika, Kimia, dan Biologi. Adapun matematika yang dipelajari pun dirancang spesifik untuk lebih cocok dengan ilmu alam.

(Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Begini Tips Mencari Sekolah Terbaik Untuk Anak)

Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berfokus pada pelajaran ilmu sosial dan humaniora, adapula pelajaran Ekonomi, Geografi, Sejarah, serta Sosiologi, dan Antropologi. Tetap ada pelajaran matematika, tetapi lebih dirancang agar sejalan dengan ilmu sosial dan humaniora.

Ilmu Bahasa juga menjadi penjurusan meski kerap kali kurang peminat. Fokus jurusan ini memperlajari  bahasa & sastra, seperti Bahasa & Sastra Indonesia, Bahasa & Sastra Inggris, 1 bahasa asing wajib, 1-2 bahasa asing pilihan. Untuk bahasa asing wajib dan pilihan, biasanya tergantung sekolah masing-masing, pilihannya bisa berupa Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Bahasa Perancis, Bahasa Spanyol, dan masih banyak lagi.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Perbedaan mendasar antara SMA dan SMK adalah porsi teori dan praktik. Kalau di SMA lebih banyak teori, maka SMk sebaliknya. Jenjang SMK juga menitikberatkan pada persiapan siswa untuk menghadapi dunia kerja. Jadi, secara umum, SMK lebih mengasah skill.

SMK juga memiliki banyak penjurusan seperti, Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Pemesinan, Teknik Komputer & Jaringan (TKJ), Tata Boga, Tata Busana, Akuntansi, Keperawatan, dan juga Multimedia.

Jangan berpikir karena sudah terampil kamu jadi tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi yah! Banyak pula loh lulusan SMK naik ke jenjang perguruan tinggi agar skillnya makin terasah.

Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

Madrasah Aliyah (MA) & Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) juga sama dengan SMA dan SMK, yang menjadi perbedaannya hanyalah penambahan porsi untuk pendalaman pembelajaran Agama Islam. Di kedua jenjang ini, peran Kementerian Agama juga jauh lebih besar, karena turut menentukan bahan ajar dalam pendidikan Agama Islam. Mata pelajaran yang spesifik dalam jenjang ini adalah al-Quran dan Hadist, Aqidah dan Akhlak, serta Fiqih.

Bingung Memilih

Remaja lulus SMP kerap kali bingung ingin melanjutkan ke jenjang apa. Hal ini tentu harus dikembalikan kepada keinginan si anak. Misalnya, dia belum tahu ingin melanjutkan ke jenjang apa, SMA tentu sangat tepat. Namun, kalau sudah punya bidang minat tertentu juga bisa masuk SMK. Sedangkan bagi mereka yang ingin mendalami agama, tidak ada salahnya masuk MA ataupun MAK.

Tentu semua pilihan ada sisi positif dan negatif, namun tahu apa keinginan tentu sudah menjadi langkah baik dalam memutuskan sekolah. Selain itu, pertimbangkan juga jarak dalam memilih sekolah dan juga nilai akhir di SMP, aga apa yang dipilih tidak menyulitkan diri sendiri dan juga orang lain.

Jangan lupa pula untuk mempertimbangkan harapan dan kondisi keuangan keluarga, usahakan pilih sekolah berkualitas, namun tidak membebani orang tua. Selain itu, yang tidak kalah penting pilihlah SMA yang bisa menjadi jembatan agar harapan untu mendapatkan kampus yang diharapkan bisa digapai.

ACG School Jakarta

Terletak di Warung Jati, Jati Padang, Jakarta Selatan, sekolah ini berdiri sejak 2004. ACG School memiliki 30 ruang kelas. Dua ruang laboratorium, ruang musik-seni, kolam renang, multi-media centre dan musala. Serta lapangan sepak bola dengan lintasan lari di sekelilingnya.

Untuk SMA dana yang harus dikeluarkan orang tua untuk bersekolah di sini mencapai Rp301 juta untuk tahun ajaran 2019/2020. Kurikulum yang diterapkan adalah International Baccalaureate (IB) dan langsung dari Selandia Baru, kemudian 100 persen menggunakan bahasa Inggris.

Global Jaya Internasional School

Sekolah ini juga sangat terkenal, bahkan banyak artis dan anak artis bersekolah di sini. Pasalnya, sekolah ini sangat memperhatikan kualitas. Misalnya, satu kelas di sekolah ini hanya terdiri dari 24 siswa.

Adapun biaya yang harus dipersiapkan orang tua yang ingin anaknya bersekolah SMA di sini harus merogoh Rp40,8 juta setiap tiga bulannya atau  Rp149,6 juta setiap tahunnya. Di sekolah ini, biaya dibagi menjadi dua, yaitu biaya pengembangan dan biaya pendidikan. Pembayaran biaya pengembangan dapat dilakukan per tahun atau langsung diselesaikan berdasarkan tingkatan anak, di SD, SMP, atau pun SMA. Global Jaya juga menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB).

SMA Ciputra Surabaya

Bukan hanya di Jakarta, di Surabaya juga ada sekolah dengan biaya yang bombastis. Pada proses pendaftaran terdapat tiga macam biaya, yaitu biaya Pendaftaran, Uang DPP dan Uang SPP. Ada biaya tambahan untuk siswa yang diterima dalam Program Diploma IB di Kelas 11 dan 12.

Adapun biaya pendaftaran sebesar Rp1 juta, ditambah lagi dengan biaya pembangunan sebesar Rp56,5 juta. Belum berakhir ada pula biaya SPP SMA sebesar Rp87,32 juta. Untuk kurikulum IB lengkap juga membutuhkan dana tambahan sebesar Rp47,5 juta. Sedangkan program sertifikat IB sebesar Rp40 juta.

Untuk bisa masuk sekolah di sini, seorang anak harus memiliki Toefl minimal 500 dan jumlah siswa pun sangat dibatasi. Siswa juga wajib mengikuti program magang satu minggu di sebuah perusahaan. Selain itu juga ada sebuah proyek khusus yang harus dikerjakan oleh para siswa yang tingkat kesulitannya sama dengan skripsi.

Sekolah Asrama Dwiwarna

Sekolah asrama ini juga sudah lama dan sangat terkenal dengan lulusannya yang berkuliah di banyak kampus bergengsi. Namun baru-baru ini saja sekolah ini mulai terkenal pula dengan harga sekolahnya yang cukup mahal.

Untuk formulir sekolah ini dikenakan biaya Rp2,5 juta baik untuk program internasional, program siswa cerdas istimewa, dan juga program reguler. Uang pangkal atau uang gedung sekolah ini sebesar Rp60 juta yang dapat diangsur dua kali, uang seragam sebesar Rp4,5 juta, dan SPP sebesar Rp6,5 juta setiap bulannya.

Bagaimana apakah dana pendidikan si kecil sudah terpenuhi? Meski banyak sekolah swasta, banyak pula loh sekolah negeri yang tidak kalah kualitasnya!

Tentang Penulis

Teti Purwanti

Ibu penuh waktu. Penulis setengah waktu. Jurnalis di sisa waktu.