Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Bisnis Budidaya Ini Bikin Jijik tapi Untungnya Bisa Mencapai 50%

by Ariesta on 7 Oktober, 2016

bisnis budidaya - CekAja.com

Apa yang terbayang di benakmu saat mendengar ulat hongkong, kroto dan cacing tanah? Jijik? Meski dianggap menjijikan bagi sebagian orang, bisnis budidaya binatang tersebut banyak dilakukan dan mendatangkan untung besar.

Bisnis budidaya belakangan ini memang semakin dilirik karena pangsa pasarnya jelas, permintaan semakin tinggi, dan bisa dilakukan di rumah sendiri. Namun, ulat hongkong, kroto, dan cacing tanah juga sudah banyak dibudidaya. Bagi kamu yang tertarik punya bisnis sampingan, inspirasi bisnis budidaya berikut ini masih jarang namun terbukti mendatangkan untung besar:

1. Katak Bullfrog/Katak Lembu

Swike merupakan makanan khas masyarakat Tionghoa yang mudah ditemukan di resotran Chinese Food. Masakan ini merupakan olahan daging katak pedaging, salah satunya adalah jenis Bullfrog. Cara pemeliharannya mirip dengan ikan lele yaitu diletakkan dalam kolam dan ditutup agar tidak lepas.

Untuk memulai bisnis ini cukup murah karena harga bibit kecebongnya terjangkau yakni hanya Rp1.000/ekornya. Sedangkan katak yang dijual untuk konsumsi harus berusia lima sampai tujuh bulan. Harga jual per kilogramnya mencapai Rp50 ribu atau setara dua sampai empat ekor. Satu ekor induk katak bisa bertelur 2.000 hingga 7.000 telur. Dari jumlah ini biasanya hanya 5.000 yang bisa bertahan hidup hingga dewasa.

Jika kamu berhasil menjual 200kg (400-800 ekor katak) dalam sebulan di awal budidaya, kamu bisa memperoleh omzet Rp10 juta. Tak hanya daging, kulit katak juga bisa diolah menjadi kerupuk rambak nan gurih.

(Baca juga: Cara Membuat Blog Bisa Jadi Penghasilan Tambahan)

2. Lintah

Lintah acapkali dianggap sebagai hewan menjijikan. Namun siring menjamurnya pengobatan alternatif menggunakan lintah, permintaan akan hewan melata ini makin tinggi. Budidaya lintah tergolong sederhana karena hanya butuh kolam kecil. Risikonya pun nyaris tidak ada karena lintah tidak mudah terkena penyakit dan mati.

Harga bibit lintah hanya sekitar Rp1.000 per ekor. Setelah dewasa lintah bisa dijual hingga Rp3.000 per ekor. Jika dalam sebulan kamu bisa menjual 3.000 ekor lintah, kamu bisa mengantongi Rp9 juta. Untung ini terbilang besar karena untuk pakan, lintah hanya diberi makan dua minggu sekali. Pakan yang disarankan adalah belut ataupun ikan lele karena berkulit licin sehingga memudahkan lintah untuk makan.

3. Cacing Sutera

Cacing sutera termasuk dalam budidaya cepat panen. Umumnya, cacing sutera akan tumbuh baik setelah berusia dua minggu dari penebaran bibit. Panen pertama pun bisa kamu lakukan setelah umur cacing lebih dari 75 hari. Cacing sutera memiliki kandungan protein yang tinggi, yakni sekitar 52%. Protein tinggi ini mendukung pertumbuhan ikan. Bentuknya yang kecil dan halus juga cocok dikonsumsi ikan, terutama ikan air tawar.

Dengan lima kolam ikan ukuran 3×3 meter, kamu bisa menghasilkan 180 liter hingga 300 liter cacing sutera. Jika harga seliternya Rp45.000, maka omzet yang diperoleh dalam sebulan mencapai Rp8 juta-Rp13 juta. Pasarnya pun tidak pernah sepi karena cacing sutera selalu dibutuhkan peternak ikan.

(Baca juga: Cara Membangun Bisnis Rumah Kos Lebih Menguntungkan)

4. Kecoak Madagaskar

Kecoak adalah binatang yang bau dan menjijikan. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kecoak Madagaskar. Kecoak yang memiliki nama latin Gromphadorhina Portentosa ini merupakan jenis kecoak terbesar di dunia. Bagaimana tidak, panjangnya saja bisa mencapai 13 cm saat berusia satu tahun. Selain dikoleksi, Kecoak Madagaskar juga dibutuhkan sebagai bahan pakan ternak.

Sekali berkembang biak, Kecoa Madagaskar bisa menghasilkan 20-60 ekor anakan kecoak. Sepasang kecoak prduktif dijual mulai dari Rp20.0000-Rp 50.000. Perawatannya pun cukup mudah karena hanya diberi makan berupa sisa sayur, buah, dan pelet sekali dalam seminggu. Jika dalam sebulan kamu bisa menjual 100 pasang kecoak, omzet yang bisa kamu dapatkan mencapai Rp2 juta-Rp5 juta dalam sebulan. Menarik bukan?

5. Belut

Sekilas, belut memang mirip ular sehingga membuat banyak orang bergidik geli. Di balik tubuhnya yang licin, rupanya belut menyimpan banyak gizi. Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.

Karena menyandang kata ‘super’, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Untuk setiap lima kolam lumpur berukuran sekitar 2×5 meter, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut. Harga setiap kilonya mencapai Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan demikian, omzet yang didapat bisa mencapai Rp 40 juta-Rp 50 juta sekali panen. Jika dalam setahun bisa tiga atau empat kali panen, maka dalam setahun kamu bisa menghasilkan Rp120-Rp200 juta.

Adapun laba bersihnya mencapai 50% dari omzet. Pakan untuk belut super sebaiknya berasal dari pakan alami seperti kodok, ikan, dan cacing. Pemberian pakan juga tidak boleh terlambat karena belut bisa memangsa belut lainnya jika kelaparan.

6. Bekicot

Olahan bekicot sudah lama diminati oleh masyarakat Prancis dalam menu escargot. Semakin menjamurnya restoran Prancis membuat peluang budidaya bekicot terbukan lebar. Selain itu, daging bekicot banyak dibutuhkan peternak karena mengandung protein tinggi. Lendirnya digunakan perusahaan kosmetik sebagai bahan anti-penuaan. Sayangnya, budidaya bekicot di Indonesia belum ramai.

Untuk beternak bekicot, diperlukan lokasi tanah yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu tanah yang disukai adalah jenis tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat pembentukan cangkang. Bisnis bekicot cukup menggiurkan karena harga jualnya bisa mencapai Rp1 juta/kg. Jika diekspor, harga jualnya bahkan bisa mencapai Rp10 juta/kg.

Ingin memulai bisnis budidaya namun kurang modal? Ajukan pinjaman tunai segala kebutuhan untuk menambah modal usahamu di CekAja!

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami