Membuka akses finansial untuk jutaan masyarakat Indonesia

24 sec. read

INTERVIEW: Bos GarudaFood Bicara Soal Potensi Bisnis Makanan dan Minuman

by Gito on 12 Oktober, 2018

Bonus demografi yang sedang dan bakal terjadi dalam beberapa tahun kedepan di Indonesia tampaknya menjadi berkah tersendiri bagi pelaku bisnis makanan dan minuman. Apalagi, dua hal itu merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Simak interview dengan bos GarudaFood soal potensi bisnis makanan dan minuman!

Khusus untuk makanan dan minuman ringan, potensi bisnisnya ternyata juga tidak kalah menarik. Berdasarkan riset Nielsen, kuantitas pasar makanan ringan (snack) di Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mampu bertumbuh 8%. Sedangkan untuk pasar biskuit berhasil tumbuh 5% dari periode yang sama tahun lalu.

Sejatinya industri makanan dan minuman masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional kedepan. Kementerian Perindustrian sendiri mencatat sumbangan industri makanan dan minuman terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non-migas mencapai 34,95% di kuartal tiga tahun 2017.

Capaian ini menjadikan sektor makanan dan minuman menjadi kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lainnya. Nah untuk mengulas lebih jauh bagaimana potensi bisnis makanan ringan di Indonesia, berikut petikan wawancara CekAja.com dengan salah satu pelaku bisnis makanan dan minuman ringan di Indonesia, Hardianto Atmadja selaku Chief Executive Officer PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk.

(Baca juga: INTERVIEW: Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah)

Bagaimana potensi bisnis makanan dan minuman ringan di Indonesia?

Secara industri, prospek bisnis makanan dan minuman di Indonesia sangat potensial seiring pertumbuhan populasi dan daya beli penduduk kelas menengah di Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan juga baru saja menggelar Initial Public Offering (IPO) sebagai salah satu bagian dari rencana Garudafood untuk memperkuat modal kerja guna menjalankan ekspansi bisnis.

Penjualan perusahaan banyak dihasilkan dari domestik atau luar negeri?

Kalau dari sisi penjualan masih banyak dihasilkan dari dalam negeri. Porsi ekspor saat ini sudah berada diatas 5% terhadap total penjualan. Namun begitu, dalam dua atau tiga tahun kedepan GarudaFood akan meningkatkan porsi penjualan ke luar negeri agar bisa mencapai double digit.

(Baca juga: INTERVIEW: Wisata Halal dan Ragam Jurus untuk Menarik Turis Indonesia ke Jepang)

Sejauh mana potensi pasar di luar negeri?

GarudaFood saat ini telah melakukan penjualan ekspor ke lebih dari 20 negara dengan fokus pada negara-negara ASEAN, China dan India. Ditambah secara persentase, walaupun masih kecil nilainya, pertumbuhan ekspor lebih tinggi nilainya ketimbang pertumbuhan domestik.

Kedepannya kami juga akan membuka pasar baru yang memiliki jumlah penduduk yang cukup padat, karena tingginya jumlah populasi memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penjualan kami.

Produk unggulan apa yang akan ditawarkan?

Garudafood saat ini memproduksi dan menjual produk makanan dan minuman di bawah lima merek unggulan seperti Gery, Garuda, Chocolatos, Leo dan Clevo. Produk-produk tersebut meliputi biskuit, kacang, pilus, keripik, confectionery, minuman susu dan serbuk coklat dengan total sekitar 100 SKU per 30 April 2018.

Porsi ekspor sendiri sampai akhir tahun diharapkan dapat mencapai Rp400 miliar terhadap total revenue.

Bagaimana proyeksi penjualan perusahaan di kuartal akhir nanti?

Biasanya pada kuartal 4 pertumbuhan penjualan kita lebih baik dari kuartal 3. Karena ada seasonal Natal dan juga lebaran.

(Baca juga: INTERVIEW: Sritex, Perusahaan Kelas Dunia yang Garap Merchandise Asian Games)

Bagaimana dengan ekspansi perusahaan, apakah ada rencana penambahan pabrik baru ?

Tahun depan kami ada rencana penambahan pabrik baru, tetapi untuk produknya apa dan berapa kapasitasnya masih dalam proses. Yang jelas, tahun depan akan ada pabrik baru.

Selama ini proses produksi dilakukan di dua fasilitas produksi di Pati Jawa Tengah, satu di Gresik Jawa Timur, dan satu di Kawasan Industri Rancaekek Sumedang, Jawa Barat, yang seluruhnya memproduksi produk-produk Garudafood.

Disamping itu seluruh produksi Garudafood memperoleh sertifikat Halal dan ISO 22000 : Food Safety Management System.

Berbicara industri pangan, baik itu yang bersifat alami ataupun olahan, tampaknya bakal terus mengalami tren yang positif. Pasalnya hal tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi.

Meski begitu diperlukan tata kelola perusahaan yang baik untuk tetap menjaga bisnis perusahaan tetap sehat dan bertumbuh. Nah bagi Anda yang juga bermimpi memiliki bisnis makanan ringan seperti Garudafood, mulailah dari skala yang lebih sederhana terlebih dahulu.

Seperti yang dilakukan Hardianto Atmadja, yang memulail bisnisnya di wilayah yang jauh dari ibukota, Pati. Masalah pendanaan, jangan khawatir , ajukan aplikasi Anda di CekAja.com dan dapatkan produk keuangan yang cocok untuk kebutuhan Anda!

Tentang Penulis

Jurnalis, penyuka musik britpop, sangat suka dengan dendeng kering.

×

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami