Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Cegah Bunuh Diri Pada Remaja, Ini 5 Penanganan yang Tepat

by Sindhi Aderianti on 22 Januari, 2020

Jumat, (17/1/2020) dunia maya geger dengan berita seorang siswi SMP kelas VIII yang tewas karena percobaan bunuh diri. Melalui hashtag #RIPNadia, ia diketahui mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai 4 sekolahnya pada pukul 15.30 WIB.

bunuh diri

Penyebab bunuh diri perempuan berinisial SN ini masih jadi misteri. Kepala Sekolah SMPN 147 Narsun mengatakan Nadia dikenal baik dan tak pernah melakukan pelanggaran. Ia menampik isu bullying yang diduga memicu tindakan SN.

Meski begitu dari screenshoot postingan Instagram dan chat WhatsApp yang tersebar, ia nampak sering mengalami kekerasan di rumah. Siswi berusia 14 tahun itu pun kerap menuangkan kerinduannya terhadap almarhumah sang ibu, bahkan niatan untuk mati lewat menggambar.

Bunuh diri adalah masalah global yang masih sering disepelekan. Padahal sudah banyak tercatat kasus suicidal dengan korban pelajar di bawah umur.  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pernah melakukan survei pada siswa SMP dan SMA. Hasilnya menunjukkan, sebanyak 5,14 persen siswa pernah memikirkan untuk bunuh diri dan sekitar 2,39 persen mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Judgement seperti “lebay” atau “nggak takut dosa” tak seharusnya terlontar mulut pedas dari masyarakat. Rangkul mereka para remaja yang tengah depresi, bukan malah mem-bully. Berikut penanganan tepatnya:

1. Dengarkan ceritanya

Obat bagi mental breakdown  terampuh sebenarnya adalah support system dari orang terdekat, zona nyaman mereka. Ketika tidak mendapatkan perhatian atau sulit berkomunikasi dengan orangtua misalnya, anak otomatis akan merasa sendirian. Rasa inilah yang akhirnya kerap memperparah depresi dan memunculkan niat bunuh diri.

Maka itu penting untuk menjadi pendengar yang baik, siapapun kamu baik di posisi orangtua atau hanya teman. Sehingga penderita depresi sadar bahwa masih ada orang yang bisa dijadikan sandarannya.

2. Ajak beraktivitas yang menyenangkan

Hibur mereka dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan. Misalnya nonton film bergenre komedi, pergi ke theme park, atau berolahraga. Cara ini cukup ampuh mengalihkan pikiran dari masalah, serta meredam rasa depresinya. Sementara olahrga sendiri berguna melepaskan hormon endorfin, yang dipercaya mampu memperbaiki mood seseorang.

(Baca juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia: 5 Cara Redakan Depresi)
3. Jangan abaikan ancaman bunuh diri

Bila kamu mendengar anak mengatakan hal-hal seperti seperti “aku ingin mati”, “aku bosan hidup”, dan lain-lain, jangan mengabaikannya. Hal ini pernah diutarakan juga oleh SN, melalui gambar orang depresi yang dibuatnya dengan kata-kata bertuliskan “I want to die”.

Tanpa emosi, tanyakan anak apa maksud dari pernyataan tersebut dan ada masalah apa yang sedang dihadapi. Katakan pada anak bahwa kamu tak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun, serta bersedia membantu.  Perkataan yang menenangkan seperti ini mungkin terdengar sepele, namun sangat ampuh membuatnya lebih aman, nyaman, dan terbuka.

Di samping itu, bila anak sudah menjukan sinyal percobaan bunuh diri tadi, singkirkan benda-benda yang berpotensi digunakan untuk mencelakai diri, seperti benda tajam, tali, obat-obatan, cairan insektisida.

4. Cari bantuan profesional

Jika depresi anak sudah tak tertolong dengan bantuanmu saja, segera cari bantuan profesional dengan mendatangi psikiater. Tenaga ahli ini biasanya akan membiarkan pasien menceritakan keluhan yang dialami. Lalu setelah perlahan mengenali latar belakang masalah pasien, psikoater bakal merenanakan terapi seperti obat psikofarmaka dan psikoterapi yang terdiri dari beberapa sesi.

(Baca juga: Sulli Idol Korea Bunuh Diri dan Mahalnya Ketenaran di Industri Kpop)
5. Maksimalkan peran guru BK

Sementara PR untuk sekolah atas kasus percobaan bunuh diri yang terjadi pada SN, saran dari beberapa netizen adalah maksimalkan peran guru BK (Bimbingan Konseling).

Hapus stigma killer yang selama ini terlanjur melekat. Seperti namanya, guru bimbingan konseling diharapkan mampu berperan sebagai seseorang yang netral, mau mendengar keluh kesah anak, dan solutif. Bukan hanya kelayakan cara berseragam atau rambut murid saja yang perlu dipantau. Namun mental health mereka justru lebih penting.

Demi mencegah terjadinya kasus sepeti SN di kemudian hari, Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun akan mendorong sekolah-sekolah DKI Jakarta untuk membangun sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak saksi. Melansir Liputan6.com, hal ini disampaikan langsung oleh Komisoner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

Alasan seorang remaja melakukan percobaan bunuh diri tak selamanya karena masalah sepele. Oleh karena itu, jangan langsung menghakimi anak-anak sekolah yang sedang menderita depresi. Kepekaan orang dewasa sangat dibutuhkan, diikuti komunikasi agar mereka tak merasa sendiri.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.