Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Cegah Corona Meluas, Bank Indonesia Ganti Uang Beredar

by Gito on 26 March, 2020

Pandemi virus novel corona atau covid-19 sudah begitu memprihatinkan. Ratusan negara terus berupaya lepas dari jerat virus yang sudah merenggut lebih dari 21 ribu orang di seluruh dunia tersebut. Di Indonesia, covid-19 sudah menyebabkan 58 orang meninggal dunia. Sebagai salah satu langkah mempersempit penyebaran, Bank Indonesia (BI) sebagai regulator di bidang moneter mengganti uang yang sudah beredar dengan uang baru.

cara menghemat uang jajan

Sebelumnya, pemerintah sudah mengimbau untuk mengurangi transaksi menggunakan uang tunai.

Hal itu dilakukan mengingat sifat dari virus novel corona yang mampu hidup beberapa jam di benda mati.

Bahkan menurut jurnal terbitan New England Journal, dikatakan bahwa virus tersebut dapat bertahan hidup hingga 24 jam di media karton atau kardus.

Hal itu tentu saja membuat khawatir banyak orang. Pasalnya uang tunai memiliki sifat yang sama dengan karton atau kardus.

Dikhawatirkan, penyebaran virus dapat terjadi lebih masif melalui cara “menunggangi” uang tunai.

Tidak aneh jika belakangan ini ada seruan untuk mengurangi penggunaan uang tunai demi mempersempit ruang gerak virus.

(Baca juga: Kebutuhan Uang Tunai Cepat Berdasarkan Sifatnya)

1. Oktober tahun lalu Rp611 triliun uang kartal beredar

Berdasarkan data BI, hingga November tahun lalu sebanyak Rp611 triliun uang kartal beredar si masyarakat. Jumlah itu terbagi atas uang kertas dan juga uang logam.

Uang kartal sendiri merupakan uang tunai yang beredar dan dipegang oleh masyarakat.

Banyak bermunculannya platform dompet digital seperti Go-Pay, Ovo, Link Aja dan beragam aplikasi lainnya membuat pola transaksi di masyarakat mulai berubah.

Selain uang kartal, ada juga uang giral yang termasuk didalamnya penggunaan cek dan juga bilyet giro yang dalam pola transaksinya sering di pindah tangankan antar korporasi.

2. Cetak uang 8 miliar bilyet per tahun

Jika berbicara tentang peredaran uang tunai, tak lengkap rasanya jika tidak mengetahui siapa perusahaan dibalik beredarnya uang fisik tersebut.

Adalah Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) yang mendapatkan tugas dari BI untuk memenuhii kebutuhan cetak uang tunai.

Melansir Detik.com, jumlah uang yang dicetak Peruri per tahunnya mencapai 8 miliar bilyet (lembar).

Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut diketahui mendapatkan tugas setiap 2 tahun sekali untuk mencetak uang.

Selain mencetak uang untuk kebutuhan dalam negeri, Peruri juga mencetak uang untuk negara lain.

Ya, status hukumnya sebagai BUMN menjadikan Peruri lebih leluasa untuk mendapatkan order cetak dari negara lain.

Beberapa uang yang pernah dicetak oleh Peruri adalah Nueva Sol, mata uang negara Peru, Ringgit Malaysia, Rupee Nepal dan beberapa mata uang lainnya.

(Baca juga: Syarat Pinjaman Dana Tunai Kartu Kredit, Agar Cepat Disetujui!)

3. Sterilkan uang di ATM

Nah demi mempersulit ruang gerak wabah Covid-19, BI sudah melakukan karantina uang tunai yang beredar di mesin ATM.

Selain itu, BI juga melakukan karantina untuk uang yang disetorkan oleh Lembaga perbankan ke Bank Indonesia.

Karena itu, uang yang beredar di ATM di ganti dengan uang yang baru dan terbebas dari corona. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk mengurangi laju peredaran virus novel corona.

Bank Indonesia juga terus mendorong transaksi non tunai bagi masyarakat. Apalagi saat ini tengah diimbau untuk melakukan pembatasan aktivitas di luar rumah.

Buat kamu yang membutuhkan uang secara cepat dan non tunai, kamu bisa mengakses aplikasi JULO.

Dengan begitu kamu juga sudah ikut membantu pemerintah mengurangi penyebaran virus yang saat ini tengah diperangi bersama-sama oleh berbagai negara lain.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit