Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Cek Fakta Unicorn yang Bikin Geger Debat Capres

by Miftahul Khoer on 18 Februari, 2019

Dalam debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 jilid kedua tadi malam (17/2), capres 01 Joko Widodo melempar pertanyaan kepada Prabowo Subianto tentang unicorn. Respons capres 02 atas pertanyaan tersebut membuat heboh jagad media sosial, karena banyak yang menilainya kurang tanggap dengan perkembangan bisnis startup di Indonesia.

Sebenarnya apa itu unicorn? Lalu tahukah kamu ada dua unicorn yang sempat diboikot warganet?

perusahaan startup _ kartu kredit - CekAja.com

Unicorn adalah salah satu istilah untuk mengelompokan perusahaan rintisan di bidang teknologi (startup). Startup yang mendapatkan label unicorn adalah perusahaan yang valuasinya telah mencapai di atas 1 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp15,2 triliun. Valuasi maksudnya adalah nilai ekonomi dari suatu bisnis. 

Nah, dari tujuh unicorn yang ada di Asia Tenggara, empat diantaranya ada di Indonesia yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, serta Bukalapak. Dua dari empat perusahaan tersebut yaitu Traveloka dan Bukalapak pernah terkena kasus boikot oleh warganet. 

Traveloka adalah sebuah perusahaan penyedia layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel secara online. Sementara Bukalapak adalah online marketplace yang kasus boikotnya masih terbilang hangat belakangan ini.  Kedua startup tersebut menjadi korban pemboikotan dari warganet yang diduga kuat akibat perbedaan pandangan politik.

Baik Traveloka maupun Bukalapak, pernah menerima kenyataan pahit dari warganet yang meminta ramai-ramai untuk meng-uninstall kedua aplikasi tersebut. Berikut ulasannya.

Boikot karena Dinamika Politik

Ajakan #UninstallTraveloka berawal dari kasus pianis Ananda Sukarlan yang walk out saat Gubernur DKI Anies Baswedan hadir pada peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius pada Sabtu, 11 November 2017 lalu. Diketahui, Ananda Sukarlan berbeda pandangan politik saat Pilkada DKI 2017. Informasi yang beredar saat itu banyak yang mendukung aksi Ananda Sukarlan termasuk salah satu CTO Traveloka, Derianto Kusuma.

Padahal, Derianto Kusuma sendiri yang dijadwalkan menerima penghargaan tidak hadir saat itu. Namun, entah siapa yang memulai, ajakan tagar #UninstallTraveloka terus menjadi trending topic. Anies sendiri saat itu memberi pernyataan agar masyarakat tidak perlu terbawa ajakan #UninstallTraveloka meski dalam pilihan pandangan berbeda.

Kabar mengejutkan datang setahun kemudian tepatnya pada 27 November 2018. Derianto Kesuma menyatakan mengundurkan diri dari jabatan CTO atau Chief Technology Officer tersebut. Tak jelas alasan Derianto mundur dari Traveloka. Kabar yang beredar, Derianto akan membesarkan perusahaan di kategori berbeda dari Traveloka.

Traveloka menjadi salah satu perusahaan unicorn setelah memeroleh kucuran pendanaan dari Expedia, perusahaan serupa yang populer di luar negeri sebesar 350 juta dolar AS pada Juli 2017. Sebelumnya, Traveloka juga meraih pendanaan dari East Ventures, Hillhouse Capital Group, JD.com Inc., dan Sequoia Capital.

(Baca juga: Ini Tempat Kuliah Para Bos Startup di Indonesia, Cek Yuk!)

Jika kasus #UninstalTraveloka bisa dibilang salah alamat karena dari pihak Traveloka justru tak hadir pada saat kasus tersebut mengemuka, berbeda dengan apa yang terjadi pada #UninstallBukalapak. Kasus ini bermula ketika CEO Bukalapak Achmad Zaky mencuitkan postingannya di Twitter terkait besaran anggaran riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia yang kecil dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dalam cuitannya, Zaky mengunggah data R&D dari masing-masing negara pada tahun 2016 antara lain Amerika Serikat sebesar 511 miliar dolar AS, Cina 451 miliar dolar AS, Jepang 165 miliar dolar AS, Jerman 118 miliar AS, Korea 91 miliar dolar AS, Taiwan 33 miliar dolar AS, Australia 23 miliar dolar AS, Malaysia 10 miliar dolar AS, Singapura 10 miliar dolar AS, dan Indonesia 2 miliar dolar AS.

“Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin,” kata Zaky di akhir cuitan yang sudah dihapusnya itu.

Boom! Sontak cuitan tersbut menjadi polemik. Meski sudah dihapus, tapi yang namanya warganet memang pintar. Mereka gerak cepat untuk melakukan screenshoot terlebih dahulu. Lantas muncul segera tagar #UninstallBukalapak karena Zaky dianggap mendukung salah satu capres tertentu.

Makna ‘presiden baru’ dalam cuitan Zaky tersebut mungkin ditafsirkan warganet selain dari Joko Widodo yang kebetulan pada Pilpres 2019 ini calonnya hanya ada dua yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Warganet menilai Zaky dan Bukalapak selama ini didukung penuh oleh pemerintah sehingga dinilai tak pantas untuk mengunggah cuitan tersebut. Padahal, secara substansi memang anggaran R&D di Indonesia diakui lebih kecil ketimbang negara-negara lain.

(Baca juga: 5 Alasan Freshgraduate Cocok Bekerja di Perusahaan Startup)

Dia pun segera meminta maaf atas cuitannya tersebut yang dinilai tak etis dan bijak diunggah. “Buat pendukung pak Jokowi, mohon maaf jika ada yang kurang sesuai kata-kata saya jadi misperception. Saya kenal Pak Jokowi orang baik. Bahkan sudah saya anggap seperti Ayah sendiri (sama2 orang solo). Kemarin juga hadir di HUT kami. Tidak ada niat buruk tentunya dari tweet saya.”

Di luar perkara cuitan tersebut, siapapun mungkin tak asing dengan sosok Achmad Zaky yang sering tampil dan menjadi ikon Bukalapak di berbagai iklan televisi dan media-media lain. Ya, Bukalapak telah berdiri sejak 2011 yang dibangun oleh tiga orang dengan mengajak banyak para pedagang untuk bergabung berjualan di Bukalapak.

Jatuh bangun Bukalapak pun tak terhindarkan. Selain kehadiran internet saat itu tak segencar sekarang, tingkat kepercayaan para pengusaha terutama UKM masih menjadi tantangan saat Zaky door to door mengajak bergabung.

Namun, berkat kegigihannya untuk meyakinkan para pedagang untuk berjualan online, akhirnya perlahan banyak yang tertarik untuk bergabung di Bukalapak. Para investor pun mulai menanamkan modalnya di Bukalapak.

Beberapa investor yang menyetorkan modalnya antara lain Mirae Asset dan Naver Corp yang diperkirakan senilai 50 juta dolar AS atau sekitar Rp706 miliar. Emtek Group yang menaungi SCTV juga termasuk salah satu pengucur modal Bukalapak dengan raihan kepemilikan saham mencapai 49 persen. Hingga akhirnya Bukalapak tercatat sebagai perusahaan unicorn karena valuasinya diatas 1 miliar dolar AS.

(Baca juga: Wow, Ternyata Startup Indonesia Setara dengan Uni Eropa!)

Jadi Orang Terkaya Berkat Startup

Nama Traveloka tak bisa lepas dari seorang Ferry Unardi. Ya, dia adalah CEO Traveloka yang kuliahnya pun tak selesai. Ia rela berhenti kuliah demi mengejar cita-citanya mendirikan Traveloka yang sukses hingga sekarang.

Awalnya, dari perusahaan dengan karyawan tak kurang dari 10 itu merupakan platform search dan agregator penerbangan. Namun, atas permintaan pasar bahwa ingin lebih dari sekedar situs pembanding, maka Ferry dan rekan-rekan memutar otak untuk bisa menjadikan Traveloka seperti saat ini.

Kini, Ferry Unardi merupakan pengusaha muda yang tercatat sebagai salah satu orang paling tajir di Indonesia dengan kekayaan mencapai 145 juta dolar AS atau sekitar Rp2 triliun.

Sama seperti Ferry Unardi, CEO Bukalapak juga tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan mencapai 105 juta dolar AS atau sekitar Rp1,51 triliun. Zaky dianggap patut menyandang sebagai pengusaha muda terkaya di Indonesia karena kegigihannya dalam menjalankan aktivitas bisnisnya selama ini.

Bagi Traveloka dan Bukalapak, mungkin cukup mengagetkan dengan adanya ajakan #UninstalTraveloka dan #UninstalBukalapak. Namun, bagi kedua CEO, kasus tersebut bisa dijadikan sebagai bahan renungan dan dan evaluasi bersama. Karena tanpa tantangan, sebuah bisnis bisa saja stagnan tak akan bisa berkembang.

Nah, bagaimana dengan bisnis Anda? Butuh modal untuk pengembangan bisnis? Segera cek di CekAja.com!

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami