COVID-19: Tak Ada Lockdown di RI, Apa Social Distancing Saja Cukup?

3 min. membaca Oleh Sindhi Aderianti on

Virus corona masih ditetapkan sebagai kondisi darurat. Satu per satu negara pun melakukan lockdown demi meminimalisir penyebaran COVID-19. Kabar terbaru, Malaysia akan menutup negaranya sementara mulai tanggal 18 Maret 2020. Dengan berlakunya peraturan tersebut, Negeri Jiran melarang dan membatasi perkumpulkan publik termasuk untuk keperluan ibadah, berolahraga, sosial, dan kebudayaan.

Menekan Penyebaran COVID-19 dengan Social Distancing

Keputusan ini menyusul negara-negara lain yang lebih dulu melakukan lockdown, antara lain China, Italia, Denmark, Norwegia, Irlandia, Spanyol, dan Perancis. Namun, Indonesia bersikeras tak mengikutinya dan hanya menjalani social distancing.

Seberapa Efektif Lockdown?

Pertama, kita bahas dulu mengenai seperti apa lockdown beserta pengaruhnya. Lockdown merupakan protokol kedaruratan yang diterapkan untuk mencegah orang-orang meninggalkan suatu area, serta memangkas semua aktivitas masyarakat di luar rumah. Keputusan ini biasanya dibuat dan diterapkan oleh pemegang otoritas resmi seperti pemerintahan.

Dalam menekan penularan COVID-19, lockdown menyumbang pengaruh yang cukup signifikan bagi suatu negara. Hasilnya amat terasa di China, sebagai negara pertama yang menerapkan kebijakan lockdown saat menghadapi puluhan ribu kasus coronavirus.

Ketika negara lain mulai terpapar virus corona, China justru memperlihatkan berkurangnya angka kasus baru COVID-19 . Para ilmuwan mengatakan, hasil ini salah satunya karena ketanggapan pemerintah Negeri Tirai Bambu yang segera melakukan lockdown di pusat penyebaran coronavirus seperti Provinsi Hubei.

Pemprov Hubei memberlakukan ‘closed management’ di semua kawasan. Mulai dari larangan menggunakan mobil pribadi, keluar rumah tanpa seizin pemerintah, bahkan untuk membeli obat flu harus membawa kartu identitas dan dicatat.

Segala aturan ketat tersebut sempat menuai kritik lantaran dinilai melanggar hak asasi manusia. Namun lihat hasilnya, sekarang hampir tiga bulan pemberlakuan lockdown, penambahan jumlah kasus infeksi berhasil terminimalisir dibandingkan yang terjadi di Italia. Jika awal-awal 15.000 per hari, kini berkurang sampai dua digit.

(Baca Juga: Cara Penularan Virus Corona, Jangan Sepelekan Hal Ini)

Presiden Jokowi Memilih Aturan Social Distancing

Alih-alih mengatakan istilah lockdown, Presiden Jokowi memperkenalkan istilah lain yaitu social distancing atau menjaga jarak sosial. Social distancing merupakan istilah yang digunakan oleh para ahli epidemiologi sebagai upaya mengurangi kontak erat dengan orang lain guna memperlambat penyebaran virus antara satu individu ke individu lainnya.

Social distancing yang diatur langsung oleh pemerintah, antara lain dengan membatalkan event besar. Pemprov DKI Jakarta sendiri telah menutup tempat wisata selama dua minggu terhitung sejak, Sabtu (14/3).

Objek wisata tersebut meliputi Ragunan, Monumen Nasional (Monas), Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan sejumlah museum milik Pemprov DKI Jakarta. Sehingga masyarakat pun tidak berkesempatan untuk berkumpul di keramaian.

Bentuk social distancing oleh individu adalah tidak mendatangi tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan, food court, event besar yang dihadiri banyak orang, ruang publik, tempat pariwisata, dan lainnya.

Di samping itu, social distancing dapat dipraktekkan dengan menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain. Dengan jarak tersebut, maka dianjurkan tidak melakukan close contact seperti jabat tangan atau berpelukan ketika bertemu satu sama lain.

Para ahli menyatakan praktik social distancing ini berhasil berdasarkan studi pada pandemi influenza Spanyol 1918. Suatu riset yang dirilis 2007 menyebutkan, kota-kota di Spanyol yang melarang pertemuan di tempat publik hingga menutup sekolah, berhasil menekan tingkat penularan dan kematian secara signifikan.

Mengingat cara penyebaran COVID-19 kurang lebih mirip dengan flu, maka keputusan social distancing dirasa tepat serta lebih efisien dibanding lockdown. Namun, tingkat keberhasilan tersebut bergantung pada kedisiplinan masing-masing individu. Jika diliburkan tapi nekat ke mall, puncak, atau keluar kota/negeri, ya sama aja bohong.

(Baca Juga: 7 Konser Musik Ditunda Akibat Virus Corona)

Alasan Indonesia Belum Mau Lockdown

Indonesia hingga Selasa (17/3), telah mengantongi sebanyak 134 kasus positif COVID-19 di 8 provinsi. Termasuk di antaranya 8 orang sembuh, sementara 5 pasien meninggal dunia. Meski jumlah pasien yang terinfeski virus corona COVID-19 terus bertambah, pemerintah Tanah Air masih enggan menetapkan opsi lockdown.

Jokowi pun menghimbau, kebijakan lockdown merupakan wewenang pemerintah pusat. Sehingga pemimpin daerah tidak bisa mengambil keputusan tersebut. Hingga saat ini, pemerintah juga belum ada pikiran untuk menutup negara untuk sementara waktu.

Ternyata tak semudah itu menutup negara ini untuk sementara waktu. Berbagai aspek, mulai dari keamanan negara hingga perekonomian mikro, harus dipertimbangkan dengan matang-matang.

Apalagi level tatanan sosial masyarakat Indonesia jauh berbeda dengan kondisi di negara maju. Melansir IndoZone, Pengamat Intelijen dan Keamanan Negara, Stanislaus Riyanta mengatakan, negara-negara yang lockdown itu kebanyakan masyarakatnya sudah maju. Hampir semua punya jaminan asuransi dan bekerja dengan gaji tetap.

Bayangkan jika lockdown terjadi di negara kita, bagaimana nasib pekerja dengan gaji non tetap seperti driver taksi atau ojek misalnya? Kemampuan APBN Indonesia yang terbatas tidak akan mampu menghidupi 260 juta warga negara. Sehingga, keputusan social distancing dinilai merupakan keputusan paling tepat selama 14 hari ini.

Lagipula jika masyarakat bisa kooperatif, social distancing saja cukup memberi pengaruh dalam menekan penularan COVID-19. Hanya yang menjadi PR bagi negara, akses turis dari manapun harus benar-benar dibatasi meski bandara dan pelabuhan sudah menggalakkan presedur health check.

Yuk, kita sama-sama terapkan social distancing selama 14 hari ini. Demi kebaikan bersama dan agar terhindar dari penularan virus corona. Penuhi segala kebutuhanmu selama #DiRumahAja dengan pinjaman dari UangTeman.

Tentang kami

Sindhi Aderianti

Sindhi Aderianti Penulis yang kadang jadi pedagang