Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Diskriminasi Rasial, Sakitnya Tuh Di Sini!

by Sindhi Aderianti on 21 Maret, 2019

Diskriminasi adalah perilaku ketidakadilan terhadap suatu individu atau kelompok tertentu. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai alasan yang mengacu pada perbedaan. Seperti mengkotak-kotakan orang berdasarkan suku, agama, dan ras.

Jumat lalu (15/3/2019), diskriminasi telah berhasil ‘mencuci otak’ sejumlah oknum. Bahkan hingga berujung pada tindakan keji.

Tentu masih terngiang-ngiang betapa kejamnya seorang Brenton Tarrant. Pria yang memproklamirkan diri sebagai rasialis itu menyerang dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, sebelum ibadah salat berlangsung.

Aksi terorisme bersenjata tersebut memakan cukup banyak korban tewas dan luka-luka. Konon, semua dilakukannya atas dasar pemahaman anti imigran serta Islamophobia.

Isu diskriminasi tak berhenti sampai di situ. Disadari atau tidak, beberapa media asing  juga terkadang melakukannya. Mereka seolah membedakan tindak kejahatan dari identitas pelaku.

Misalnya ketika Brenton Tarrant lebih disebut sebagai ‘gunman’, bukan ‘teroris’ lantaran dirinya berkulit putih dan non Muslim.

Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial

Siapapun patut mengecam tindak diskriminasi. PBB sendiri telah membentuk suatu peringatan khusus untuk memerangi hal tersebut. Tepatnya lewat Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia di setiap tanggal 21 Maret.

Lahirnya peringatan ini dilatarbelakangi oleh peristiwa Sharpeville di Afrika Selatan. Pada tanggal 21 Maret 1960, ada tragedi dimana polisi setempat menembak peserta aksi demonstrasi damai yang menentang hukum apartheid.

Apartheid adalah ideologi mendukung segregasi rasial. Jika dibiarkan terjadi, apharteid akan berimbas pada diskriminasi politik dan ekonomi yang memisahkan Hitam (Bantu), Berwarna (ras campuran), India dan Afrika Selatan Putih.

Dari peristiwa penembakan itu, 69 orang tewas, termasuk delapan perempuan dan 10 anak-anak, sementara 180 orang lainnya luka-luka.

Enam tahun setelahnya, Majelis Umum PBB kemudian meminta semua negara untuk memperingati Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia sebagai bentuk solidaritas bagi mereka yang berjuang menghadapi rasisme dan diskriminasi ras.

Di Indonesia, peringatan itu mungkin kurang begitu digalakkan. Namun secara relevansi, tentu saja amat berkaitan.

Sebagai negara mega cultural diversity, Indonesia memiliki 250 kelompok etnis dengan 500 jenis bahasa daerah. Bermacam-macam agama dan kepercayaan pun berkembang tanpa batasan di sini.

Namun sayang, perlakuan diskriminatif masih saja terjadi. Agama menjadi isu yang paling kerap ‘digoreng’ hingga berujung pertikaian. Bahkan momentum Pemilihan Presiden 2019 sekalipun, tak sungkan dikait-kaitkan dengan agama.

Inilah pentingnya penanaman nilai toleransi dan dialog di atas perbedaan sejak dini. Walau bagaimanapun, Indonesia akan selalu tumbuh majemuk. Tidak bisa disamakan dengan negara yang menerapkan satu hukum agama saja.

(Baca juga: Sering Terlupakan, Ini 5 Hak Kita Sebagai Konsumen)
 Waspada Diskriminasi di Lingkungan Kerja

Tindak diskriminasi juga sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari, lho. Bahkan tanpa memandang tempat, diskriminasi bisa terjadi dimanapun termasuk di lingkungan kerja.

Misalnya pada saat interview, muncul pertanyaan-pertanyaan yang terkesan membeda-bedakan golongan tertentu. Seperti dari suku mana kamu berasal, atau lulusan kampus mana kamu sebelumnya.

Terlebih setelah kamu menjawab pertanyaan itu, gelagat pewawancara sontak berubah. Waspadalah, mungkin kamu tidak menyadari bahwa hal-hal berikut ini pun tergolong perlakuan diskriminatif.

Selain pertanyaan saat interview tersebut, apa lagi tindakan yang termasuk diskriminasi di lingkungan kerja?

  1. Minim keragaman

Banyak kantor yang secara tidak langsung enggan memperluas keberagaman. Umumnya karena latar belakang sang empunya perusahaan.

Semisal ketika jumlah karyawan yang berasal dari alumni universitas negeri lebih banyak, karena jajaran petingginya pun didominasi kelompok mereka. Bila kamu lelaki, mungkin saja pendapatmu kurang didengar pada suatu meeting.

Untuk menghentikan sikap diskriminatif ini, coba bangun hubungan personal dan profesional. Bertemanlah tanpa menuruti budaya membeda-bedakan yang mereka ‘anut’. Lalu tunjukkan potensi yang kamu miliki semaksimal mungkin.

  1. Standarisasi peran

Ada pula standar dimana hanya orang-orang tertentulah yang bisa menduduki posisi tertentu dalam perusahaan. Misalnya saja, hanya perempuan yang bisa menjadi sekretaris, atau hanya pria yang bisa menjadi direktur atau pemimpin perusahaan.

Jika ini terjadi di tempat kerjamu, maka hati-hati. Hal tersebut juga termasuk perilaku diskriminatif yang perlu dihapuskan.

(Baca juga: Inilah 10 Hak Karyawan Sesuai UU Ketenagakerjaan)
  1. Perbedaan tanggung jawab

Tanda diskriminasi di tempat kerja berikutnya adalah terkait pemberian tugas dan tanggung jawab. Bisa saja temanmu dipercaya menangani klien raksasa, namun kamu tidak. 

Karena dari awal terjadi diskriminasi, atasanmu bisa jadi meremehkan kemampuan yang kamu miliki, makanya kamu mendapat tanggung jawab lebih sedikit.

  1. Muncul geng tertentu

Tanda diskriminasi lainnya adalah kemunculan geng di lingkungan kerja. Ketika itu pula kamu tidak diikutsertakan karena perbedaan yang dimiliki.

Bukan hanya persoalan ras tertentu, namun bisa karena hal sesederhana. Misalnya kamu fresh graduate, sedangkan ‘anggota’ geng tersebut adalah mereka yang sudah jauh berpengalaman.

Selain itu, perilaku nonverbal seperti gaya berbicara dan bersikap juga bisa menunjukkan adanya perilaku diskriminasi. Contohnya, tatapan mata dan cara bicara yang merendahkan.

Diskriminasi memang tidak semudah itu dihapuskan. Walau begitu, kebijakan dari masing-masing individu tetap diperlukan untuk melawannya.

Mulailah bersikap terbuka, menerima satu sama lain, dan toleransi. Sedikit atau banyak, itulah kunci untuk mengurangi bahkan menghilangkan perilaku diskriminasi yang dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Seringlah melakukan hal baik, seperti ajak makan teman kantor atau hanya sekedar ngopi bareng sepulang bekerja. Kantong bocor? Jangan takut, sekarang ada banyak promo menarik dari kartu kredit.

Kalau kamu belum memiliki kartu kredit akses saja CekAja.com. Disana kamu bisa mengajukan permohonan kartu kredit baru dari berbagai bank nasional terkemuka. 

Tidak perlu takut antri, karena yang perlu kamu lakukan hanya klik di layar ponsel ataupun komputer kamu. Mudah kan?

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami