Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

DWP, Event Ajeb-ajeb Paling Ditunggu dan Kontroversinya!

by Miftahul Khoer on 13 Desember, 2019

Setiap tahun, selalu ada ajang musik yang ditunggu-tunggu di Jakarta, salah satunya adalah Djakarta Warehouse Project atau DWP. Tahun ini, DWP akan dilangsungkan 13, 14, dan 15 Desember di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

penyanyi lokal go international

DWP sendiri pertama kali diadakan pada 2008 sebagai acara kelab di Jakarta dengan nama Blowfish Warehouse Project. Mulai tahun 2010, festival ini diadakan setiap tahun pada Desember.

Karena animo yang tinggi, festival ini tidak hanya dilaksanakan satu hari saja, tetapi ditambah menjadi dua hari pada tahun 2014. Penyelenggara DWP mengklaim, festival ini mengangkat salah satu nilai yang paling penting di Indonesia yaitu: perbedaan.

DWP mengangkat beragam musik sub-genre dengan kategori Electronic Dance Music (EDM). Setiap musisi diberikan kesempatan untuk tampil dalam festival, salah satunya di panggung utama berbentuk burung yang disebut ‘Garuda Land’ yang terinspirasi oleh lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Pada 2015, DWP dinobatkan sebagai “Festival EDM Terbaik 2015” oleh EDM Sauce. Pada 2016, festival ini dihadiri lebih dari 20.000 pelancong dari 39 negara di seluruh dunia selama dua hari. Festival ini juga menjadi tuan rumah debut tru Asia Elrow Barcelona pada tahun 2017 dengan panggung khusus.

(Baca juga: Tips Anti Bangkrut Nonton Konser di Luar Negeri)

DWP sempat diadakan di Pulau Dewata, untuk menandai perayaannya yang ke-10. Tahun ini, DWP kembali diadakan di Jakarta, pada tanggal 13, 14 & 15 Desember 2019 di JIExpo Kemayoran.

  • Dilarang Diadakan

Meski begitu, DWP selalu diasosiasikan dengan kegiatan maksiat. Tidak heran acara ini selalu ditolak untuk diadakan setiap tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, untuk memastikan acara ini tidak jadi diadakan, banyak organisasi masyarakat dengan berbagai nama sampai demo di depan Balai Kota.

Gelombang penolakan dari masyarakat Jakarta akan acara ini, dimulai sejak 2017. Bahkan pada 2017, massa aksi juga menggelar penolakan di JIEXPO saat acara digelar.

Tahun ini, sejak 12 Desember 2019, berbagai organisasi sudah mulai melancarkan aksi penolakan. Hanya saja, hingga saat ini Gubernur Anies Baswedan belum juga memberikan komentar dan membiarkan masalah ini diurus oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI.

Meski begitu,  Pemprov DKI Jakarta mendukung acara tersebut karena berisi aktivitas budaya yang baik. Selain itu, acara ini juga dianggap sebagai bentuk perayaan kebhinekaan yang dimiliki warga Jakarta yang bersifat positif.

Di samping itu, DKI juga bertugas untuk menjaga norma dan budaya yang terkandung dalam acara tersebut. Namun, Pemprov DKI bukan berarti meminggirkan kritik dan masukan masyarakat terkait gelaran musik elektronik itu.

Ditambah lagi, tahun ini, panitia telah berjanji kepada Pemprov DKI bahwa acara tersebut bakal mengikuti aturan legal formal dan menghormati nilai budaya secara kepatutan. Setiap aktivitas akan dipantau, termasuk soal bebas dari penggunaan narkoba dan zat adiktif lainnya.

Bukan cuma itu, Pemprov justru mengundang seluruh partisipasi publik untuk bisa beraktivitas di Jakarta dalam sektor budaya dan pariwisata. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan visi Gubernur, Jakarta yang Maju Kotanya Bahagia Warganya.

  • Mengerek Pajak

Pada 2017, saat pertama kali mulai didemo, Wakil Gubernur saat itu Sandiaga Uno, tidak menggubris. Menurutnya DWP membawa pemasukan bagi Jakarta. Benar saja, tahun ini misalnya, tingkat okupansi hotel di sekitar kawasan penyelenggaraan DWP telah mencapai 95-97 persen.

(Baca juga: Cek Yuk! Harga Tiket Konser Termahal di Indonesia)

Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta mengatakan DWP memang menyedot wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Bahkan, melalui acara ini Pemerintah Provinsi DKI bakal mendapatkan lebih dari Rp10 miliar dari sektor pajak makanan dan hiburan.

  • 69 Musisi

Tahun ini, DWP akan menghadirkan 69 musisi dari berbagai sub-genre musik elektronik, dua special stage dan tujuh pendukung acara. Adapun tiket festifal ini terbagi menjadi empat kategori, yaitu General Admission seharga Rp1.460.000, GA-Early Entry seharga Rp1.400.000, VIP Gold seharga Rp3.000.000, dan GA-Group Package seharga Rp8.400.000.

Sejumlah musisi yang telah dijadwalkan bakal hadir di antaranya Calvin Harris, Disclosure, Martin Garrix, Skrillex, Zedd hingga musisi dalam negeri seperti Dipha Barus. DWP 2019 diperkirakan bakal menyedot 20 ribu wisatawan mancanegara dari 37 negara.

Sudah siapin outfit terkeren buat dance di DWP? Atau kamu malah belum punya tiketnya? Buruan beli sekarang juga pakai kartu kredit BRI yang banyak promo menariknya!

Miliki kartu kredit BRI yang bisa kamu pilih dan ajukan lewat CekAja.com.

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.