Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Fakta-fakta Pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali

by Miftahul Khoer on 8 Oktober, 2018

Indonesia didaulat menjadi tuan rumah ajang pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Nusa Dua, Bali pada 8-14 Oktober 2018. Ajang bergengsi yang membicarakan ekonomi dunia ini dikabarkan dihadiri oleh puluhan ribu delegasi dari seluruh dunia. Simak fakta-fakta pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali kali ini!

Liburan ke Bali - CekAja

Sedikitnya terdapat empat agenda penting yang di bahas dan menjadi fokus utama dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia tersebut, antara lain penguatan sistem moneter internasional, ekonomi dan finansial digital, pembiayaan infrastruktur, isu syariah serta ekonomi finansial.

Apa saja hal-hal yang menarik dari ajang tahunan pertemuan IMF dengan Bank Dunia tersebut? Yuk langsung simak saja.

(Baca juga: Jurus Bank Indonesia Genjot UMKM untuk 'Go International')
Dihadiri para tokoh dunia

Pemerintah beserta panitia penyelenggara pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali siap menyambut sekitar 32.000 hingga 34.000 delegasi yang akan hadir dalam ajang tersebut. Hadir pula para tokoh dunia dalam agenda tersebut.

Tercatat ada beberapa tamu kehormatan dari para kepala negara Asean termasuk Presiden Indonesia, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan pimpinan lembaga investasi dunia seperti JP Morgan, Pimco, Vanguard Group hingga beberapa tokoh ekonomi dan pengusaha dunia seperti Melinda Gates hingga Jack Ma. Untuk Jack Ma, orang terkaya di Cina ini dijadwalkan akan menjadi pembicara di satu sesi tentang ekonomi digital.

Para delegasi juga akan dihadiri oleh pejabat bank sentaral dan menteri keuangan di seluruh dunia termasuk Menteri Keungan Indonesia Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Tawarkan investasi Rp522 triliun

Di sela-sela agenda pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali yang memakan waktu sepekan tersebut, pemerintah akan menawarkan sejumlah proyek dengan skema pembiayaan investasi non-anggaran pemerintah alias PINA senilai 34,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp522 triliun.

Proyek-proyek yang akan ditawarkan kepada para delegasi dunia tersebut berupa bandara, jalan tol, perkebunan hingga sektor pariwisata seiring proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari piple yang sedang dikerjakan PINA pada tahun ini.

Dari sejumlah proyek yang tercatat di PINA, terdapat dua proyek yang telah akan berjalan yakni proyek perkebunan dan energi terbarukan dengan nilai investasi mencapai 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,2 triliun.

(Baca juga: Cek! Jumlah Utang Indonesia Terbaru Berdasarkan Laporan Bank Indonesia)
Menelan anggaran ratusan miliar

Ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali semula dianggarkan mencapai sekitar Rp800 miliar, namun pihak penyelenggara mengklaim telah menekan anggaran sehingga biaya yang diperlukan mencapai sekitar Rp500 miliar. Anggaran tersebut berasal dari beberapa pos yakni APBN, dan kontribusi anggaran dari Bank Indonesia.

Dari anggaran ratusan miliar tersebut, beberapa alokasinya telah disiapkan antara lain untuk anggaran ruang acara dan ruang publik, anggaran branding, iklan hingga anggaran untuk makan para peserta dan lain-lain.

Pemerintah mengklaim besaran anggaran tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan anggaran yang telah dikeluarkan pada ajang IMF-Bank Dunia sebelum-sebelumnya.

Misalnya, ketika ajang IMF-Bank Dunia digelar di Peru pada 2015 yang menghabiskan anggaran mencapai sekitar Rp2,29 triliun, selain itu ketika agenda tersebut digelar di Jepang pada 2012 yang menghabiskan anggaran mencapai sekitar Rp1,1 triliun.

Anggaran juga lebih besar dibandingkan dengan Indonesia pada ajang IMF-Bank Dunia digelar di Turki pada 2009 yang menelan anggaran sekitar Rp1,25 triliun hanya untuk pembangunan Istanbul Congress Center. Adapun ajang IMF-Bank DUnia di Singapura pada 2006 menelan anggaran sebesar Rp994,4 miliar.

Fasilitas mewah

Ajang IMF-Bank Dunia ini dihadiri oleh 22 kepala negara dan perwakilan delegasi dari 189 negara. Dengan demikian, pihak penyelenggara menyiapkan sedikitnya 500 kendaraan mewah dari Mercedes Benz untuk meyambut tamu VIP dan VVIP.

Selain itu, penampilan mewah juga bisa terlihat dari Favilion Indonesia yang telah disiapkan dengan menampilkan kekhasan beragam budaya Indonesia. Area Favilion Indonesia ini menampilkan ruang termatik seperti BUMN hall, area workshop, VIP lounge, hingga area pameran.

Di Favilion Indonesia juga pengunjung atau delegasi yang hadir bisa melihat beragam karya seni, instalasi, kerajinan tangan, hingga gambaran yang terpampang terkait proyek-proyek strategis nasional yang telah dikerjakan pemerintah.

(Baca juga: Seberapa Penting Inklusi Keuangan di Indonesia? Ini 5 Alasannya)
Ditolak oleh oposisi pemerintah

Dari riuh rendah tentang agenda IMF-Bank Dunia di Bali, ternyata pihak oposisi pemerintah menolak digelarnya ajang tersebut. Pihak oposisi pemerintah dari kubu Prabowo-Sandiaga yang juga pesaing Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019 menilai anggaran untuk perhelatan IMF-Bank Dunia terlalu besar.

Pihak oposisi yang diwakili Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Simanjuntak mengatakan keluarnya anggaran yang dinilai terlalu besar tersebut terkesan foya-foya atau kontras dengan kondisi Indonesia yang tengah berduka dengan terjadinya gempa dan tsunami di Palu.

Sementara itu, pada hari pertama digelar yakni Senin (8/10/2018), ajang IMF-Bank Dunia didemo oleh sekelompok masyarakat. Mereka menilai selama puluhan tahun IMF hadir tidak membawa dampak untuk kesejahteraan rakyat.

(Baca juga: Cek Potensi Devisa Indonesia dari Pariwisata!)

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami