Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

5 menit waktu bacaan

Fakta-fakta Proyek Properti Meikarta

by Miftahul Khoer on 17 Oktober, 2018

Ada yang masih ingat dengan slogan iklan “Aku Ingin Pindah ke Meikarta”? Ya, iklan proyek properti dari Grup Lippo ini memang sempat viral pada tahun lalu. Beberapa hari ini, proyek Meikarta kembali mencuri perhatian atas kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK kepada sejumlah pejabat dan pengembang. Yuk simak fakta-fakta menarik soal proyek Meikarta.

bisnis properti - CekAja.com

Proyek milik orang superkaya 

Meikarta merupakan salah satu mega proyek dari Grup Lippo yang tak lain milik taipan Mochtar Riady dan keluarga. Riady merupakan salah satu orang paling tajir di Indonesia dengan total kekayaan menurut Forbes mencapai 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp31,4 triliun untuk kurs Rp15.171.

Mochtar Riady mengawali karir sebagai pengelola toko kecil milik mertuanya di Jember. Tak butuh waktu lama, Riady sukses membesarkan usahanya tersebut. Ia kemudian berkarir di Jakarta menjadi seorang bankir di Bank Kemakmuran.

Tak lama kemudian, ia bekerja di Bank Buana pada 1964 dan berhasil menyelamatkan bank tersebut dari kebangkrutan. Berpindah dari bank ke bank, Riady akhirnya berlabuh di Bank BCA milik Soedono Salim. Di tangan Riady, BCA makin terus berkembang. Namun, pada 1990 ia keluar dari BCA dan mendirikan Bank Lippo yang menjadi cikal bakal Grup Lippo.

Saat ini, Grup Lippo memiliki sejumlah bisnis antara lain di bidang real estate, ritel, pendidikan, kesehatan, media, telkomunikasi hingga teknologi digital. Saat ini perusahaan Lippo dipercayakan kepada anak-anaknya salah satunya James Riady.

(Baca juga: Mau Investasi Properti? Simak Kiatnya Yuk!)
Proyek ambisius

Proyek Meikarta digadang-gadang bernilai sebesar Rp278 triliun di atas total luas lahan 500 ha dengan total luas bangunan mencapai 22 juta meter persegi. Pendanaan proyek Meikarta sebagian diperoleh dari kas Lippo. Sementara sisanya berasal dari kerja sama dengan mitra bisnis perusahaan dari dalam dan luar negeri.

Di lahan seluas itu, Meikarta akan membangun sejumlah fasilitas strategis antara lain 250.000 unit apartemen, tujuh mal di atas lahan 300.000 meter persegi beserta area komersial 1,5 juta meter persegi; ruang terbuka hijau di lahan 100 ha; tiga perguruan tinggi; pusat riset industri; gedung pertemuan; hotel berbintang; rumah sakit; gedung pertunjukan hingga perpustakaan.

Pengeluaran iklan terbesar 

Iklan Meikarta pada 2017 hampir menghiasai seluruh media cetak, elektronik dan online. Menurut data Nielsen, Grup Lippo menggelontorkan kocek mencapai Rp1,5 triliun untuk menggencarkan proyek Meikarta sepanjang Agustus dan September 2017.

Belanja iklan ini menunjukan peningkatan di sektor properti sepanjang 2017 yang mencapai 62 persen. Peningkatan belanja iklan di sektor properti tersebut tercatat melampaui iklan di sektor digital dan telekomunikasi yang hanya mencapai 30 persen.

(Baca juga: Cara dan Syarat Mengurus Akta Jual Beli Properti)
Disebut belum rampung soal perizinan

Kehadiran Meikarta sempat mencuri perhatian di tengah kalangan masyarakat. Hal itu terjadi karena begitu masifnya iklan yang gencar ditayangkan setiap saat di media.

Bukan hanya masyarakat, kalangan pejabat pun akhirnya menyorot kehadiran Meikarta ini. Salah satunya Deddy Mizwar. Saat itu, ia merupakan Wakil Gubernur Jawa Barat yang mempertanyakan terkait perizinan pembangunan proyek Meikarta di Kabupaten Bekasi.

Proyek Meikarta seluas 500 ha hanya diberikan rekomendasi perizinan seluas 84,6 ha oleh Pemprov Jabar saat itu. Deddy menolak untuk memberi rekomendasi izin seluas 500 ha karena khawatir akan berdampak buruk terhadap ketersediaan air bersih kepada area sekitar.

Pemprov Jabar saat itu melayangkan surat kepada pengembang agar Meikarta menghentikan sementara proyek tersebut. Belakangan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan seluruh perizinan serta kepemilikan Meikarta tidak bermasalah.

(Baca juga: 5 Jenis Investasi Properti Paling Menguntungkan dan Cara Menjalankannya)
Tersangkut kasus korupsi

Kabar menggegerkan terjadi pada hari Minggu pekan lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pada 10 orang dari Pemerintah Kabupaten Bekasi dan pihak swasta. Penangkapan tersebut terkait pengurusan izin proyek Meikarta.

KPK menetapkan sembilan orang tersangka dari 10 orang yang ditangkap. Dari para tersangka tersebut empat orang diduga berperan sebagai penyuap antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, konsultan Lippo Group Taryudi dan Fitra Djaja Purnama, serta pegawai Lippo Henry Jasmen.

Sementara itu, yang diduga tersangka penerima suap antara lain Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaluddin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi Sahat MBJ Nahor, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (DPM-PPT) Kabupaten Bekasi Dewi Trisnawati, dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR, Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi.

Suap yang diberikan pihak pengembang kepada para pejabat Pemkab Bekasi merupakan hadiah terkait pengurusan perizinan Meikarta. Izin yang tengah diproses yaitu lahan seluas 438,7 ha yang dibagi ke dalam tiga tahapan yakni tahap pertama proyek Meikarta seluas 84,6 ha, tahap kedua 252,6 ha dan tahap ketiga 101,5 ha.

Proyek terus berlanjut

Kendati diterpa kasus suap, proyek Meikarta tetap akan berlanjut seiring target serah terima unit kepada konsumen diharapkan bisa berjalan sesuai jadwal yang secara bertahap dilakukan pada Februari 2019.

Saat ini Meikarta tengah menyelesaikan pembangunan 28 menara setinggi 32 hingga 42 lantai yang akan diserahterimakan secara bertahap.

Proyek yang mulai diluncurkan pada awal 2016 itu diklaim telah laku sekitar 150.000 unit di harga Rp200 jutaan per unit. Adapun Meikarta telah melakukan serah terima sekitar 863 unit apartemen untuk Tower irvine dan Westwood Suites pada September 2018.

Serah terima kepada konumsen itu merupakan tahap awal enam menara dari 84 menara pertama di kawasan pusat bisnis Meikarta untuk ketinggian menara 42 lantai.

Nah, itulah beberapa hal terkait proyek Meikarta yang saat ini sedang heboh terkait kasus suap. Apakah Anda salah satu konsumen Meikarta?

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.