5 Fakta Virus Nipah yang Harus Diketahui dan Diwaspadai

Waspada dengan beragam virus yang kini banyak muncul menjangkit manusia. Selain Coronavirus, ternyata kita juga harus waspada karena ada fakta virus Nipah yang harus diwaspadai.

Dunia sekarang masih menghadapi gejolak pandemi virus corona yang tak kunjung usai. Ditengah pandemi ini muncul kekhawatiran dari banyak pakar kesehatan adanya virus baru yang mengancam terjadinya pandemi baru di dunia, yaitu virus nipah.

Sebenarnya virus nipah ini sudah ada di masa lalu. Virus nipah pertama kali dikenali pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia.

Tidak ada wabah baru yang dilaporkan di Malaysia sejak 1999. Selain itu juga ditemukan di Bangladesh pada tahun 2001, dan hampir tiap tahun wabah telah terjadi di negara itu.

Penyakit ini juga telah diidentifikasi secara berkala di India bagian timur. Wilayah lain mungkin juga akan berisiko terinfeksi, karena bukti virus telah ditemukan di reservoir alami yang diketahui (spesies kelelawar Pteropus) dan beberapa spesies kelelawar lainnya di sejumlah negara, termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.

Dan karena Indonesia juga berpotensi akan dimasuki virus nipah ini membuat kita harus lebih waspada. Kali ini kita akan membahas beberapa fakta virus Nipah yang mesti kita ketahui.

Simak terus artikel ini sampai akhir.

(Baca Juga: Asuransi Terbaik Dengan Premi Terjangkau)

Fakta Virus Nipah

1. Asal Virus Nipah

Fakta virus Nipah yang pertama adalah virus ini berasal dari hewan kelelawar buah. Virus ini menyebabkan penyakit zoonosis yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia dan ini juga bisa ditularkan dari manusia ke manusia juga melalui kontak langsung atau makanan yang terkontaminasi.

Selama wabah pertama yang diketahui di Malaysia, yang juga mempengaruhi Singapura, kebanyakan infeksi pada manusia disebabkan oleh kontak langsung dengan babi yang sakit akibat ketularan kelelawar buah atau jaringannya yang terkontaminasi.

Penularan diperkirakan terjadi melalui paparan sekresi babi yang tidak terlindungi, atau kontak tanpa pelindung dengan jaringan hewan yang sakit.

2. Tanda dan Gejala

Fakta virus Nipah yang kedua adalah bisa menginfeksi manusia mulai dari infeksi asimtomatik hingga infeksi saluran pernapasan akut (ringan, parah), dan ensefalitis yang fatal.

Orang yang terinfeksi awalnya mengalami gejala termasuk demam, sakit kepala, myalgia (nyeri otot), muntah dan sakit tenggorokan.

Ini bisa diikuti dengan pusing, mengantuk, tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut dan kesadaran yang berubah-ubah.

Beberapa orang juga bisa mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.

Ensefalitis dan kejang bisa terjadi pada kasus yang parah, yang berkembang menjadi koma hanya dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Fakta virus Nipah selanjutnya adalah memiliki masa inkubasi (interval dari infeksi hingga timbulnya gejala), yang diyakini berkisar dari 4 hingga 14 hari.

Namun, masa inkubasi selama 45 hari juga dilaporkan pernah ada. Jadi ini akan menjadi kesempatan bagi orang yang terinfeksi menyebarkan ke yang lainnya tanpa sadar.

Kebanyakan orang yang selamat dari ensefalitis akut  bisa sembuh total, tetapi kondisi neurologis jangka panjang seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian menjadi kekhawatiran sendiri. 

3. Penularan    

Selanjutnya ada fakta virus Nipah ketika wabah di Bangladesh dan India, konsumsi buah-buahan atau produk buah-buahan (seperti jus kurma mentah) yang terkontaminasi dengan urin atau air liur dari kelelawar buah yang terinfeksi adalah sumber infeksi yang paling mungkin.

Saat ini, tidak ada penelitian tentang persistensi virus dalam cairan tubuh atau lingkungan termasuk buah-buahan.

Penularan virus Nipah dari manusia ke manusia, juga telah dilaporkan di antara keluarga dan perawat pasien yang terinfeksi.

(Baca Juga: Pilihan Asuransi Untuk Properti)

Selama wabah selanjutnya di Bangladesh dan India, virus Nipah menyebar langsung dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dengan sekresi dan ekskresi orang.

Di Siliguri, India pada tahun 2001, penularan virus juga dilaporkan dalam pengaturan layanan kesehatan, di mana 75% kasus terjadi di antara staf rumah sakit atau pengunjung.

Dari 2001 hingga 2008, sekitar setengah dari kasus yang dilaporkan di Bangladesh, disebabkan oleh penularan dari manusia ke manusia melalui pemberian perawatan kepada pasien yang terinfeksi.

4. Kematian

Tingkat kematian akibat virus nipah diperkirakan antara 40% sampai dengan 75%. Ini menjadi salah satu fakta virus Nipah yang mengkhawatirkan jika menjadi wabah di masa depan.

Fakta virus Nipah yang lain adalah dia masuk ke dalam 10 besar patogen berbahaya untuk kesehatan manusia dan sampai saat ini belum ada vaksinnya. 

5. Diagnosa

Fakta virus Nipah selanjutnya adalah tanda dan gejala awal infeksi virus Nipah tidak spesifik, dan diagnosisnya sering tidak dicurigai pada saat datang.

Hal ini bisa menghalangi diagnosis yang akurat dan menciptakan tantangan dalam deteksi wabah, tindakan pengendalian infeksi yang efektif dan tepat waktu, dan kegiatan tanggapan wabah.

Selain itu, kualitas, kuantitas, jenis, waktu pengambilan sampel klinis dan waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan sampel ke laboratorium juga bisa mempengaruhi keakuratan hasil laboratorium.

Fakta virus Nipah yang lain adalah infeksi virus nipah bisa didiagnosis dengan riwayat klinis selama fase akut dan fase penyembuhan penyakit.

Tes utama yang digunakan adalah reaksi berantai polimerase waktu nyata (RT-PCR) dari cairan tubuh dan deteksi antibodi melalui enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).

Tes lain yang digunakan termasuk uji polymerase chain reaction (PCR), dan isolasi virus dengan kultur sel.

Nah itu dia beberapa fakta virus Nipah yang mesti kita ketahui. Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk melawan virus Nipah.

Tapi berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama wabah Nipah yang melibatkan peternakan babi pada tahun 1999, pembersihan dan desinfeksi peternakan babi secara rutin dan menyeluruh mungkin efektif dalam mencegah infeksi.

Jika dicurigai terjadi wabah, hewan tersebut harus segera dikarantina. Pemusnahan hewan yang terinfeksi dengan pengawasan ketat terhadap penguburan atau pembakaran bangkai mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko penularan ke manusia.

Membatasi atau melarang perpindahan hewan dari peternakan yang terinfeksi ke daerah lain, juga bisa mengurangi penyebaran penyakit.

Karena wabah virus Nipah melibatkan babi dan kelelawar buah, maka membangun sistem pengawasan kesehatan hewan/satwa liar untuk mendeteksi kasus Nipah sangat penting dalam memberikan peringatan dini bagi otoritas kesehatan hewan dan masyarakat.

Selain upaya untuk mencegah penularan virus yang sangat penting, juga tak ada salahnya kita memiliki asuransi kesehatan. Agar jika hal yang tak diinginkan terjadi, jaminan kesehatan kita dapat diatasi dengan baik.

Jadi, tunggu apalagi untuk membeli asuransi kesehatan. Sebagai jaminan atas layanan kesehatan yang mungkin akan kita butuhkan. Di CekAja.com semua bisa diproses dengan mudah dan cepat.