Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Februari, Si Bulan Penuh Keunikan

by Sindhi Aderianti on 4 Februari, 2019

Tidak terasa kini sudah masuk bulan kedua di tahun 2019. Ya, Febuari alias ‘Si Bulan Penuh Cinta’ akhirnya tiba! Februari yang memiliki arti pemurnian juga mengandung arti sebagai pesta penyucian yang diselenggarakan oleh bangsa Romawi kuno.

destinasi bulan madu_asuransi perjalanan - CekAja.com

Bulan Februari memang sedikit lebih istimewa. Tak hanya karena perayaan Valentine saja, tapi ada beberapa keunikan lain yang mungkin selama ini lepas dari perhatian Anda.

Pertama, coba perhatikan jumlah harinya. Bila jumlah hari dalam sebulan umumnya 30/31, Februari hanya memiliki 28 hari. Mengapa bisa demikian?

Asal Usul Jumlah Hari di Bulan Februari

Fenomena unik ’28 hari’ tersebut, rupanya bermula dari kalender Romawi yang saat itu hanya memiliki 10 bulan dalam setahun. Januari dan Februari bahkan tidak ada dalam kalender.

Kendati jatuhnya selalu bertepatan dengan musim dingin yang dipercaya memberi pengaruh buruk terhadap hasil panen mereka. Jadi setiap tahun, Maret adalah bulan pembukanya.

Namun, kebijakan ini berubah ketika raja kedua Roma naik takhta sekitar 750 SM. Orang Romawi sepakat untuk menambah dua bulan lagi ke dalam hitungan tahun masehi.

Dua bulan itu tak lain adalah Januari dan Februari, dengan masing-masing hari berjumlah 29 hari. Setelah perhitungan tersebut berjalan selama beberapa tahun, ada banyak keganjilan yang membuat sejumlah musim justru tidak sinkron dengan bulan-bulan khas mereka.

Hingga saat Julius Caesar mengambil alih kekuasaan, Ia menyusun ulang semuanya berdasarkan panjang tahun terhadap matahari dalam satu kali edar.

Akhirnya, tanggalan Februari pun sengaja dibuat berjumlah 28 agar total keseluruhan hari dalam kalender menjadi 365. Pengaturan itu ternyata cocok dengan sistem musim dan masih dipakai sampai sekarang.

(Baca juga: Siap-Siap, 5 Fenomena Alam Ini Akan terjadi di Tahun 2019)

Tahun Kabisat

Ada yang berulang tahun empat tahun sekali? Ya, setiap orang yang lahir pada tanggal 29 Februari, agaknya harus ‘pasrah’ dengan kenyataan ini.

Tahun kabisat (leap year), begitu istilahnya merupakan tahun dimana jumlah harinya mengalami sedikit penambahan, yaitu menjadi 366 hari. Inilah keunikan lain dari bulan Februari yang membuatnya kian spesial.

Menurut perhitungan astronom bernama Sosiogenes asal Alexandria, bumi mengitari matahari selama 365,25 hari dalam satu tahun. Dengan begitu untuk membulatkannya, setiap 4 tahun sekali dibuat tambahan 1 hari.

Penambahan satu hari tersebut diberikan pada bulan Februari. Hasilnya, bulan  Februari yang berjumlah 28 hari pada tahun biasa, akan berjumlah 29 hari pada tahun kabisat.

Kebetulan, tahun ini bukanlah tahun kabisat. Orang yang lahir pada tanggal 29 Februari atau tahun kabisat memiliki sebutan tersendiri, yakni leapling atau leaper. 

Hingga kini, diperkirakan ada sekitar 5 juta leapling di dunia. Anda kah salah satunya?

(Baca juga: 5 Alas Kaki Wanita Bergaya Klasik yang Cocok untuk Hadiah Valentine)

Saatnya  Bulan Purnama ‘Absen’

Di sepanjang bulan Februari, Anda juga tidak bisa melihat kemunculan bulan purnama. Pada dasarnya, bulan purnama terjadi setiap 29,5 hari sekali.

Sedangkan jumlah hari pada bulan ini hanya 28 sampai 29 saja. Otomatis, bulan purnama harus ‘absen’ dari fasenya untuk sementara.

Namun, bulan purnama tersebut akan muncul lagi di bulan Maret. Perhitungannya begini, katakanlah bulan purnama terakhir jatuh pada 31 Januari.

Kalau ditambah 29,5 hari sesuai rotasinya, maka bulan purnama ketiga akan terjadi  tepatnya tanggal 2 Maret nanti.

Ada kalanya bulan purnama muncul juga di Februari, tapi kemungkinan besar hanya 20 tahun sekali. Peristiwa langka itu dinamakan dengan “Black Moon”.

(Baca juga: Yuk, Kenali Asal Usul, Fakta, dan Mitos Seputar Valentine)

Ada 3 Musim Berbeda

Jika belahan utara dunia yang sedang mengalami puncak musim dingin, negara di bagian selatan seperti Australia dan Selandia baru, justru mendapati musim panas cukup terik.

Perbedaan musim dan iklim tentu saja dialami oleh mereka yang tinggal dibagian utara maupun selatan, namun sedikit mencolok ketika memasuki bulan Februari ini.

Pada negara tropis seperti Indonesia sendiri, Februari adalah bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Hampir semua wilayah merasakan hal tersebut, bahkan dampak terburuknya adalah banjir.

Di sisi lain, kondisi ini  juga sering dikaitkan dengan perayaan Imlek. Masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa semakin hujan sering turun, berarti keberkahan yang dibawa akan serupa banyaknya.

(Baca juga: Romantisnya Perayaan Hari Valentine di 5 Negara Ini)

Digaji Lebih Cepat

Setiap perusahaan umumnya memiliki penetapan tanggal gajian yang berbeda. Ada yang jatuh di tanggal 1, 25, atau bahkan detik-detik terakhir menjelang awal bulan.

Hal ini berkaitan pada kebijakan perusahaan tanpa alasan yang bisa diketahui. Bagi perusahaan yang menganut sistem payroll di tanggal paling ‘bontot’ tiap bulannya, tentu bulan Februari memberi keuntungan tersendiri.

Terutama untuk karyawan yang mungkin selalu menghitung hari menjelang pay day. Kalau bulan sebelumnya Anda menerima gaji tanggal 31, maka gajian nanti jatuh di tanggal 28.

Dengan kata lain, tidak harus menunggu beberapa hari lebih lama sampai gajian tiba.

Selain fakta-fakta di atas, Anda juga bisa memanfaatkan tanggal merah di bulan Februari ini untuk mengambil cuti sejenak. Manfaatkan promo kartu kredit dari BRI yang menawakan diskon hotel hingga tiket pesawat.

Atas kerjasama dengan Panorama JB Tours, Anda berhak mendapat diskon sebesar 10% untuk minimum spend sebesar Rp 2.5 juta.

Promo ini hanya berlaku sampai 30 April 2019 saja, lho! Jadi, bila Anda belum memiliki kartu kredit BRI, apply sekarang juga. Tak perlu mendatangi kantor bank, cukup ajukan lewat marketplace produk keuangan pertama di Indonesia, CekAja.com. Syaratnya mudah, prosesnya cepat!

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami