Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Forbes Ramal Indonesia jadi Macan Baru Asia Tenggara Berkat Tiga Hal Ini

by Gentur Putro Jati on 28 Mei, 2019

Kontributor Forbes, Elad Natanson meramal Indonesia bisa menjadi macan ekonomi baru di Asia Tenggara menyusul Hong Kong, Singapura, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan yang sudah lebih dulu menyandang predikat tersebut.

bisnis start up _ kredit tanpa agunan - CekAja.com

Ramalan itu dituangkan Natanson dalam edisi terbaru majalah ekonomi tersebut. Menurutnya, proses transformasi Indonesia menjadi macan ekonomi Asia Tenggara agak berbeda dengan empat negara pendahulunya.

Negara-negara itu mendapat sokongan dari perkembangan industri, perdagangan, dan finansial yang pesat. Bahkan, Hong Kong dan Singapura telah berhasil menjadi dua hub finansial dunia sedangkan Korsel dan Taiwan unggul di bidang industri.

Sementara motor utama yang mendorong Indonesia menjelma menjadi macan ekonomi adalah industri digital yang tumbuh subur didalamnya. Hal tersebut terbukti dengan munculnya empat perusahaan startup yang berkembang menjadi Unicorn yaitu Tokopedia, Traveloka, Go-Jek, dan Bukalapak.

Nah, industri digital di Indonesia sendiri menurutnya bisa berkembang pesat berkat tiga hal berikut:

  1. Penduduk usia produktif

Usia penduduk Indonesia relatif muda, dengan rata-rata usia 29 tahun. Ditambah lagi, sebanyak 60 persen populasi berusia di bawah 40 tahun.

Tingginya jumlah penduduk yang notabene generasi milenial tersebut memberi keuntungan bagi Indonesia, karena anak-anak muda zaman now cenderung tertarik mencoba hal-hal baru yang ditawarkan oleh perusahaan start up.

(Baca juga: Intip Cara Baru Musisi Mendownload Duit di Era Digital)

Selama itu menguntungkan, memudahkan, dan membantu mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Gak percaya? Bisnis empat Unicorn itu buktinya.

  1. Penggunaan internet tinggi

Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Saat ini, ada 150 juta pengguna internet dan 142 juta orang diantaranya menggunakan internet lewat ponsel. Asal tahu saja, survei menunjukkan sebanyak 60 persen penduduk dewasa di Indonesia memiliki ponsel. Hal tersebut lagi-lagi memupuk pertumbuhan industri berbasis digital di negara ini.

  1. Aktif di medsos dan suka belanja online

Natanson menambahkan, faktor ketiga yang membuat Indonesia bisa menjadi macan baru di Asia Tenggara adalah hobi masyarakatnya yang betah berlama-lama di media sosial.

“Penduduk Indonesia menghabiskan 206 menit sehari di media sosial, dibandingkan dengan rata-rata masyarakat global selama 124 menit. Platform utama seperti Youtube, Whatsapp, dan Facebook digunakan oleh lebih dari 80 persen warga yang online,” ujarnya.

Terlebih lagi, sebanyak 76 persen pengguna internet di Indonesia melakukan transaksi pembelian barang kebutuhannya lewat ponsel. Ini adalah angka transaksi e-commerce tertinggi di seluruh dunia.

Tak hanya e-commerce, namun masyarakat Indonesia juga senang bermain game online, menonton iklan, menikmati layanan musik dan video berlangganan, layanan online travel, serta ride-hailing dan pengantaran makanan menambah besar potensi pertumbuhan pelaku start up di bidang tersebut.

“Dengan didukung oleh jumlah pengguna internet terbesar di kawasan yaitu sebanyak 150 juta pengguna pada 2018, Indonesia mempunyai ekonomi internet terbesar mencapai USD27 miliar pada 2018 dan yang paling cepat tumbuh dengan angka 49 persen CAGR 2015-2018. Dengan ruang yang besar di semua sektor, ekonomi digital bisa tumbuh menjadi USD100 miliar pada 2025, mencakup USD4 dari setiap transaksi sebesar USD10 di kawasan,” papar laporan tersebut.

Secara keseluruhan, Natanson mengatakan para pelaku industri digital harus bisa terus berinovasi untuk meningkatkan nilai tambah dari platform bisnis yang dikembangkannya. Sebab dengan makin besarnya uang dan waktu yang dihabiskan generasi muda Indonesia di smartphone mereka, dia menilai makin tinggi pula nilai yang bisa diraih dengan mengkurasi hal-hal yang mereka butuhkan dan sukai.

Tantangan Digitalisasi

Natanson juga mengutip laporan salah satu perusahaan modal ventura yang mengatakan bahwa kesempatan berinvestasi di Indonesia sekarang bisa disamakan dengan kondisi di China pada 2008. Dalam 4 tahun terakhir, sudah ada dana sebesar USD6 miliar yang masuk dalam bisnis ekonomi digital Indonesia.

Namun pada setiap peluang yang muncul, Indonesia tetap harus menghadapi tantangan untuk menjadi macan ekonomi yang disegani di Asia Tenggara. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Infrastruktur internet kurang

Natanson menyebut infrastruktur internet yang dimiliki negara kepulauan ini sama seperti India yang dinilai belum mencukupi.

(Baca juga: Medsos Down? Lakukan 5 Hal Bermanfaat Ini!)

“Meski tarif data sangat murah, tapi bandwidth-nya rendah sekali. Rata-rata kecepatan unduh di ponsel sekitar 10 mbps, kurang dari separuh rata-rata global,” ucap Natanson.

  1. Akses masyarakat ke bank masih terbatas

 Tantangan lain yang harus diatasi Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) jika ingin Indonesia menjadi macan ekonomi baru adalah meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.

Sebab meskipun bisnis e-commerce Indonesia diproyeksi bakal menembus nilai USD53 miliar pada 2025, tapi jumlah penduduk yang memiliki akses ke bank (bankable) masih terbatas.

Tercatat kurang dari separuh penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa, yang sudah memiliki rekening bank. Rendahnya angka tersebut karena bank masih bergantung pada kantor fisik untuk mendapatkan nasabah.

Meski demikian, hal ini mulai dijembatani oleh perusahaan rintisan financial technology (fintech) yang terus masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah PT Puncak Finansial Utama, pemilik marketplace finansial CekAja.com.

Perusahaan yang beroperasi sejak 2014 lalu ini secara konsisten membantu masyarakat mencari produk finansial yang dibutuhkannya. CekAja.com menjembatani masyarakat dalam mendapatkan produk perbankan dan industri keuangan seperti kartu kredit, asuransi, kredit tanpa agunan (KTA), kredit usaha kecil dan menengah (UKM), dan lain sebagainya dengan lebih mudah. Sebab seluruh pengajuan aplikasi bisa dilakukan secara online tidak perlu ke kantor cabang Bank yang bersangkutan.

Tentang Penulis

Ego in debitum, ergo sum