Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

2 menit waktu bacaan

Gabung Uber, Apakah Asuransi Kendaraan Masih Menanggung Mobil Kita?

by Surtan Siahaan on 12 Maret, 2016

Maraknya penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi memberi keuntungan tersendiri bagi pemilik kendaraan pribadi. Pemilik mobil yang bergabung dengan aplikasi seperti Uber, misalnya, bisa mengurangi pengeluaran transportasi atau bahkan memperoleh penghasilan lebih.

Kepada CekAja, seorang mantan pengusaha DVD bahkan mengaku banting setir menjadi pengemudi taksi berbasis aplikasi lantaran tawaran keuntungan yang menarik. Dia bisa meraih uang hingga Rp 20 juta per bulan.

Namun, meskipun keuntungan yang ditawarkan menarik, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum kita memutuskan bergabung
dengan aplikasi sejenis.

(Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Punya Asuransi Selain BPJS)

Salah satunya terkait dengan asuransi kendaraan yang kita punya. Pertanyaannya, dengan perubahan fungsi pada kendaraan, apakah asuransi masih menerima permohonan klaim yang kita ajukan.

Di dalam negeri, hal ini masih menjadi perdebatan yang masih membutuhkan kejelasan. Namun, di Inggris, di mana taksi berbasis aplikasi lebih dulu menjamur, terdapat fakta yang mencengangkan.

Mengutip rilis Go Compare, polis di dalam asuransi kendaraan pribadi tegas melarang pemilik kendaraan mengangkut penumpang untuk kepentingan bisnis atau memperoleh keuntungan finansial.

Untuk aktivitas komersial tersebut, pemilik perlu mengkonversi asuransinya dari asuransi kendaraan pribadi menjadi asuransi taksi. Sementara, untuk aktivitas menumpang, hanya boleh dilakukan dalam koridor sosial kemasyarakatan dan dilarang menghasilkan keuntungan. Di Indonesia, aktivitas menebeng seperti itu memang belum terlalu populer.

Matt Oliver, juru bicara divisi asuransi Go Compare mengatakan, berdasarkan polis, perusahaan asuransi akan menolak permohonan cover atas risiko yang terjadi pada pengemudi Uber. (Baca juga: 10 Orang yang Miliki Mobil Termahal di Dunia)

Alasannya, perusahaan asuransi mengategorikan Uber sebagai taksi meskipun Uber punya pemahaman sebaliknya. Dengan kata lain, perlindungan asuransi komprehensif secara otomatis tidak berlaku jika kendaraan digunakan untuk aktivitas taksi seperti Uber.

“Jika kamu berniat bergabung dengan taksi aplikasi seperti Uber, asuransi kendaraan tidak akan melakukan perlindungan seandainya terjadi risiko karena kamu dinilai menjalankan kendaraan untuk kepentingan bisnis. Kamu butuh asuransi taksi untuk aktivitas tersebut,” tuturnya.

Oliver menyarankan, pemilik kendaraan yang menawarkan sharing ongkos bagi orang lain yang ingin menumpang kendaraannya, menanyakan kejelasan pada perusahaan asuransi. Sebab, ada sejumlah perusahaan yang melarang aktivitas ini.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami