Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Hai Orang Tua, Jangan Menghabiskan Uang Kepada Anak Seperti Ini

by Arfan Wiraguna on 13 Oktober, 2015

biaya pendidikan anak _ investasi - CekAja.com

Sebagai orang tua, kita biasanya akan merasa bersalah jika tidak dapat mewujudkan keinginan anak. Walaupun kita tahu bahwa tidak semua permintaan anak harus dituruti, namun sering kali kita tetap membelikan apa pun yang mereka inginkan demi melihat senyum di wajahnya.

Entah itu sekedar membeli mainan di pusat perbelanjaan atau memberikan uang jajan lebih,  selalu ada dorongan dalam menghabiskan uang untuk melihat anak bahagia. Sayangnya, pola pengasuhan seperti ini bisa berakhir petaka.

Seperti dikutip dari artikel “5 dumb ways to spend money on your kids” yang dimuat secara online oleh situs keuangan Bankrate, pola pengasuhan ini bisa membuat anak-anak tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah mereka miliki.

“Ketika mereka meninggalkan rumah tangga orang tua mereka untuk pertama kalinya, banyak dari mereka berakhir dengan memiliki tumpukan utang,” kata Joan Koonce, seorang profesor dan spesialis perencanaan keuangan di University of Georgia.

Berikut ini adalah cara bodoh yang dilakukan orangtua dalam menghabiskan uang untuk anak-anaknya.

Membeli Merek Makanan Mahal

Merek mahal punya perngaruh besar terhadap keinginan anak-anak generasi Z. Alasannya, sebagai generasi yang dekat dengan dunia digital, mereka biasa melihat berbagai iklan berbagai merek makanan mahal yang dipromosikan secara online. 

(Baca juga: Siapkan Kantong yang Tebal Jika Ingin Nikmati Hidangan Restoran di Jakarta dan Bali Ini)

Industri makanan di Amerika Serikat (AS) saja menghabiskan lebih dari US$ 10 miliar (sekitar Rp 134 triliun) per tahun untuk mengiklankan produknya kepada anak-anak, berdasarkan sebuah studi yang dirilis oleh Institute of Medicine, Akademi Nasional AS pada tahun 2004.

Bagaimana cara mengatakan tidak pada anak: kita bisa membuat sebuah percobaan uji rasa dengan membandingkan merek makanan murah dan mahal, tanpa memperlihatkan kemasan makanan tersebut (blind taste test). Selanjutnya, kita dapat meminta mereka untuk mengidentifikasi karakter dari masing-masing makanan tersebut.

Mereka akan terkejut dengan sendirinya ketika mengetahui bahwa produk makanan dengan merek murah, ternyata mempunyai rasa yang lebih enak dibandingkan merek makanan mahal.

Mengikuti Mode Terkini

Anak-anak menghadapi tekanan untuk menghabiskan uang agar tetap tampil dengan mode terkini, baik itu barang elektroniknya, pakaiannya atau bahkan kendaraannya. Penyebabnya, saat ini mereka terus-menerus dibombardir dengan berbagai iklan produk terkini yang ditayangkan melalui berbagai acara televisi, seperti reality show dan sinetron.

Bagaimana cara mengatakan tidak pada anak: ketika seorang anak memimpikan apa yang dimiliki oleh artis-artis televisi, buat mereka untuk mulai membuka rekening tabungannya sendiri. Dengan begitu, mereka akan terbiasa untuk memiliki rencana keuangannya sendiri dan mengerti arti menabung.

Melakukan Pembelian Impulsif

Mendapatkan perhatian anak-anak telah terbukti sebagai cara yang tepat untuk membuat orang tua mereka agar membeli produk sehari-hari secara spontan. Bahkan, beberapa perusahaan makanan dan minuman sengaja menaruh produk-produknya pada rak yang tidak terlalu tinggi dan mudah dijangkau oleh anak-anak di pasar swalayan.

(Baca juga: 7 Langkah Efektif Atur Anggaran Bulanan Bagi Anda yang Masih Boros)

Bagaimana cara mengatakan tidak pada anak: buatlah daftar barang belanjaan setiap kali kita dan anak-anak akan berkunjung ke pasar swalayan. Berikutnya, kita harus konsisten untuk hanya membeli barang-barang yang terdaftar dalam catatan tersebut. Dengan begitu, kita dan anak-anak tidak akan memiliki alasan untuk membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan.

Mendaftarkan Anak ke Sekolah Mewah

Perlu diperhatikan, biaya pendidikan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Secara umum, peningkatannya adalah sebesar 15 persen antara tahun 2008-2010 seperti dikutip dari artikel “7 Resolusi Keuangan Bagi Orangtua” yang dimuat oleh Kompas secara online.

Di sisi lain, orang tua sering menganggap sekolah mewah memiliki gengsi tersendiri. Akibatnya, orang tua pun mengorbakan berbagai kebutuhan lainnya demi membiayai anak-anak mereka di sekolah mewah tersebut.

Bagaimana cara mengatasinya: belajarlah untuk bicara jujur pada anak-anak tentang kondisi keuangan yang tengah kita dihadapi. Jangan pernah berpikir bahwa anak masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah semacam itu.

Pesta Pernikahan Berlebihan

Banyak orang tua merasa berkewajiban untuk membiayai pernikahan anak-anak mereka, bahkan anak-anaknya telah memiliki tabungan sendiri dalam jumlah yang cukup. Walaupun pesta pernikahan idealnya hanya terjadi sekali seumur hidup, bukan berarti kita harus menghabiskan seluruh tabungan kita untuk acara ini. 

(Baca juga: Cara Mengejar Tabungan Pernikahan Selama 12 Bulan)

Bagaimana cara mengatasinya: diskusikan lah kemampuan keuangan kita dan anak-anak secara terbuka. Jangan sampai orang tua harus mengorbankan dana pensiunnya hanya demi acara pernikahan anak-anaknya.

Tentang Penulis

Writer & Coffe Lover - Finansial dan ekonomi adalah makanan sehari-hari.