Hari Gizi Nasional, Ini Sejarah yang Wajib Diketahui

Tahukah kalian jika setiap tanggal 25 Januari kita bangsa Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional? Pasti belum banyak yang mengetahui hari yang penting ini ya! 

Tahun ini Hari Gizi Nasional diperingati yang ke-61 dengan mengangkat tema “ Remaja Sehat, Bebas Anemia”. Perayaan tahun ini dirasakan memang berbeda karena kita masih dalam masa pandemi. 

Setiap kita mendengar kata gizi pasti kita akan selalu mengaitkannya dengan makanan sehat. Bahkan ada slogan yang amat terkenal yang selalu disebutkan dengan gizi yaitu ‘Empat sehat Lima Sempurna’. 

Slogan makanan ini menandakan kalau kita seharusnya mengkonsumsi makanan dengan empat unsur gizi, ditambah susu sebagai penyempurnanya.

Tentunya bukan hanya karena Hari Gizi Nasional saja kita mengingatnya, tapi setiap hari bahkan harus menerapkannya. 

Apalagi saat pandemi Covid-19 ini. kita dituntut untuk selalu menjaga kesehatan kita. Kemenkes mengajak masyarakat Indonesia, untuk selalu menjaga protokol kesehatan dengan 3M, ditambah olahraga dalam perayaan Hari Gizi Nasional.

Tapi tahukah bagaimana sejarah Hari Gizi Nasional ini? jika belum, yuk simak terus tulisan ini.

Sejarah Hari Gizi Nasional

Sejarah Hari Gizi Nasional dimulai saat rakyat Indonesia banyak yang mengalami kekurangan gizi. Di tahun 1950, Menteri Kesehatan RI J. Leimena merasa prihatin atas apa yang terjadi di Indonesia. 

Banyak orang yang mengalami penyakit karena kekurangan gizi. Kemudian beliau menunjuk Prof. Poorwo Soedarmo untuk menjadi kepala Lembaga Makanan Rakyat.

Ini adalah bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan saat itu, dan LMR saat itu lebih dikenal dengan Instituut Voor Volksvoeding (IVV).

Tugas dari Lembaga Makanan Rakyat ini adalah untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi, serta berupaya bagaimana caranya meningkatkan asupan gizi nasional. 

(Baca Juga: Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Ginjal)

Saat itu, masyarakat Indonesia memang berada dalam kondisi yang menyedihkan, karena disamping baru saja menyatakan kemerdekaannya maka negara masih dalam penataan.

Banyak kemiskinan yang terjadi hampir di seluruh wilayah, membuat masyarakat memiliki banyak penyakit.

Tidak adanya kesadaran untuk makanan sehat juga memperburuknya. Karenanya, masyarakat Indonesia sempat mengalami kondisi terbelakang dan miskin.

Kondisi seperti inilah yang membuat Prof. Poorwo miris, dan berusaha untuk membuat program-program yang bisa meningkatkan kesadaran dan kepedulian tentang gizi pada masyarakat.

Karena wilayah Indonesia yang luas dan itu tidak akan mungkin dicapai oleh Prof Poorwo sendiri, maka beliau mendirikan sekolah yang akan melatih kader-kader gizi yang bisa melayani langsung masyarakat Indonesia.

Sekolah ini dinamakan Sekolah Djuru Penerang Makanan (SDPM). Dari sekolah ini, nantinya diharapkan bisa mengatasi masalah kekurangan gizi rakyat Indonesia.

Sekolah ini didirikan pada tanggal 25 Januari 1951. Dan ini dijadikan sebagai Hari Gizi Nasional oleh pemerintah Indonesia.

Sekolah Djuru Penerangan Makanan Cikal Bakal Kesadaran Gizi

Sekolah Djuru Penerang Makanan ini memiliki tugas yang tidak mudah sebenarnya. Karena ditengah masyarakat yang kurang mampu dan buta aksara mereka harus mengajarkan bagaimana pentingnya gizi pada makanan sehari-hari.

Kader-kader sekolah ini akan menjadi pucuk tombak penanganan masalah gizi di masyarakat.

Selain itu, mereka juga meneliti tentang bagaimana pola makan masyarakat serta hubungannya dengan penyakit yang ada. 

Tak lama setelah SDPM didirikan, maka mulailah bermunculan sekolah lain tentang kesehatan dan gizi.

Di tahun 1956 ada APN (Akademi Pendidikan Nutrisionis), yang kemudian berganti nama menjadi Akademi Gizi yang mencirikan kultur Indonesia.

Setelah ini, istilah gizi menjadi sangat populer, apalagi Prof. Poorwo sendiri menjadi Guru Besar Ilmu Gizi di tahun 1958.

Fakultas Kedokteran UI, Pelopori Pendirian Bidang Gizi

Semakin banyak pula pendidikan tentang gizi di Indonesia. Misalnya, didirikannya Bagian Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di tahun 1958 juga.

Akhirnya, sampai sekarang organisasi di bidang gizi mulai bermunculan, seperti PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia) dan Persagi (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).

Sebenarnya, baru di tahun 1960-an pemerintah Indonesia mulai merayakan Hari Gizi Nasional, dengan mengacu kepada tanggal didirikannya SDPM yaitu 25 januari. Bahkan sampai sekarang kita masih memperingatinya sebagai Hari Gizi nasional.

Prof. Porrwo Soedarmo, Lahirkan Slogan Empat Sehat Lima Sempurna

Salah satu tokoh yang sangat berperan besar tentu saja Prof. Porrwo Soedarmo, yang juga membuat slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, yang masih terus digalakkan untuk kebutuhan gizi kita sampai sekarang. Karena itulah beliau juga diberi anugerah sebagai Bapak Gizi Nasional.

Beliau juga yang pertama kali mengenalkan ilmu ‘Home Economics’ di Indonesia atau sering disebut Ilmu Kesejahteraan Keluarga.

Setiap kita memperingati Hari Gizi Nasional, ada makna yang penting yaitu bagaimana kita untuk tetap diingatkan pentingnya gizi dalam makanan untuk kesehatan kita.

Selain itu, makanan dengan gizi yang seimbang juga bisa meningkatkan kecerdasan otak dan jiwa kita.

Dari yang sering kita ketahui, bahwa ada banyak unsur yang harus kita penuhi untuk kesehatan tubuh.

Misalnya karbohidrat, protein, mineral, vitamin, lemak juga air. Keseimbangan dari unsur-unsur inilah yang kita sebut makanan sehat “Empat Sehat Lima Sempurna”.

Unsur-unsur ini juga sangat dibutuhkan oleh para balita yang sedang dalam masa pertumbuhan. Tentu kita ingin agar generasi yang akan datang adalah generasi yang pintar, cerdas serta tangkas.

(Baca Juga: Selain Gizi Baik, Inilah Yang Wajib Diperhatikan Ibu Hamil)

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, dimana kesehatan adalah yang utama. Selain  kita selalu menerapkan prinsip 3M yaitu mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker, dan menghindari kerumunan serta menjaga jarak, kita juga harus memperhatikan kebutuhan gizi seimbang.

Demi menguatkan sistem imun yang menjadi benteng pertama dari virus yang membahayakan maka kita harus selalu memenuhi kebutuhan gizi seimbang kita.

Dengan memperingati Hari Gizi Nasional, kita akan selalu ingat bahwa menjaga kesehatan dengan gizi seimbang adalah sebuah investasi jangka panjang, untuk meneruskan generasi yang lebih baik nantinya.

Sesuai dengan tema peringatan hari Gizi Nasional, yaitu “Remaja Sehat Bebas Anemia” maka remaja sekarang diharapkan bisa dipenuhi gizi seimbangnya.

Diketahui bahwa 3 dari 10 remaja Indonesia, mengalami anemia yang disebabkan karena gizi yang dikonsumsi tidak optimal, serta aktivitas fisik yang sedikit.

Maka dari itu, masyarakat beserta para pemangku jabatan, diharapkan bisa bersama-sama meningkatkan asupan gizi seimbang bagi remaja Indonesia, agar terciptanya generasi yang sehat, cerdas dan tangkas dalam kehidupan ini.

Kesadaran akan pentingnya asupan gizi saat ini, juga diimbangi dengan pentingnya asuransi untuk keamanan kesehatan dan finansial.

Jadi jika gizi sudah baik, dilengkapi dengan asuransi kesehatan yang tepat. Maka hidup akan semakin sehat dan minim resiko.

Tunggu apalagi, lengkapi kebutuhan gizi, dan miliki asuransi kesehatan terbaik yang bisa kamu akses dan apply melalui CekAja.com.