Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Hari Kesehatan Mental Sedunia: 5 Cara Redakan Depresi

by Sindhi Aderianti on 10 Oktober, 2019

Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober 2019. Melansir dari situs resmi World Federation For Mental Health (WFMH), peringatan itu sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan sejak tahun 1992. Di beberapa negara, program ini berlangsung selama beberapa hari, seminggu, bahkan dalam beberapa kasus sepanjang bulan.

penyakit stress bekerja _ asuransi kesehatan - CekAja.com

 

Tujuan awalnya, secara umum mengampanyekan isu-isu yang relevan terkait kesehatan mental. Sekaligus mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mencegah, menghadapi, dan menyembuhkan persoalan serius tersebut.

Jika dibandingkan penyakit lain, masalah kejiwaan ini sering dikesampingkan. Perlu diakui, tak jarang pula yang menganggap enteng atau pengidapnya malah dicemooh. Maka World Mental Health Day hadir dengan harapan, ke depannya orang-orang lebih aware terhadap kesehatan mental sekalipun hanya stres.

Aksi 40 Seconds of Action

Berbicara mengenai tema peringatan Hari Kesehaan Mental Sedunia, tahun ini WHO (World Health Organization) mengajak kita semua untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau jiwa lewat tantangan bertajuk 40 Second of Action. Istilah 40 detik dipilih karena pada tenggat waktu tersebut, jumlah pengidap gangguan jiwa terus bertambah secara global.

Melalui Gerakan 40 Second of Action, ada beberapa wujud aksi nyata yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perhatian terhadap pengidap gangguan psikis, serta mencegah bertambahnya kasus bunuh diri di sekitar kita. Aksi-aksi itu bisa dengan cara sederhana, misalnya dengan mengajak berbicara teman yang sedang mengalami depresi berat. Sehingga mereka pun tidak merasa sendiri, dan urung mengakhiri hidupnya.

Bentuk aksi yang lain juga bisa dilakukan sesuai dengan profesi kita masing-masing. Contohnya, jika kamu seorang atasan atau manager di perusahaan, ingatkan para pegawai untuk mengurangi stres akibat pekerjaan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di kantor.

(Baca juga: Seperti Apa Gangguan Mental yang Dialami Joker?)
Depresi Bukan Stres Biasa

Di Indonesia, jumlah penderita gangguan mental terus meningkat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan mencapai 14 juta orang. Angka ini setara dengan 6 persen jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000 penderita.

Tingginya angka penderita gangguan jiwa pun berjalan beriringan dengan sejumlah kasus bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015.

5 Cara Redakan Luka Batin Orang Depresi

Hampir semua gangguan mental, diawali dengan gejala depresi. Maka itu, jangan anggap enteng depresi yang ternyata juga menjadi penyakit mental paling banyak dialami. Penyembuhan depresi tak muluk-muluk. Mereka hanya butuh dukungan dari orang-orang terdekat.

Menghadapi anggota keluarga atau sahabat yang dilanda depresi tentu bukan hal mudah. Terlebih bila levelnya bertambah hingga ke indikasi gangguan mental lain. Agar tidak salah-salah, berikut 4 langkah tepat menyikapinya:

1. Cari tahu tentang depresi

Ketika ingin merangkul teman atau keluarga yang sedang depresi, hindari terlalu banyak kepo. Daripada terus-terusan bertanya, lebih baik cari tahu sendiri tentang depresi.

Melansir Healthline, seseorang yang mengalami depresi jarang terbuka tentang gangguan kejiwaan yang dideritanya. Bacalah jurnal kesehatan mental atau artikel yang berkaitan tentang depresi. Kenali lebih dulu apa itu depresi, apa saja gejalanya, apa yang menyebabkan depresi, dan bagaimana cara menanganinya.

2. Dengarkan keluhannya

Terkadang agar merasa lega, seseorang yang mengalami depresi hanya ingin bercerita tentang masalah yang menimpanya. Namun keinginan itu sering kali harus tertahan, karena takut akan judgement atau nasihat bernada menggurui. Alhasil, mereka enggan speak up dan memendam luka batin hingga semakin terbebani. Di sinilah kita ditantang untuk menjadi pendengar yang baik. Tunjukkan bahwa kamu memang peduli, serta berempati dengan kejadian yang dialami orang terdekat kita. Bila mereka tidak meminta nasihat atau saran, ada baiknya kita tidak memberikan. Cukup respon dengan kalimat ‘Saya mungkin tidak pernah mengalami hal itu, tetapi rasanya ini adalah hal yang sulit untuk dihadapi’.

3. Ajak bersenang-senang

Orang yang depresi terkadang tak ingin bersosialisasi atau berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini dikarenakan ia merasa dirinya berbeda, aneh, bahkan ‘tidak diterima’ di lingkungan. Pelan-pelan, ubah stigma tersebut dengan mengajaknya keluar rumah. Tidak mesti langsung bersosialisasi dengan banyak orang. Bebaskan ia untuk melakukan hal yang disukai, tetapi dengan pengawasanmu. Boleh ajak nonton film bergenre komedi atau makan makanan kesukaannya.

4. Menyarankan terapi jurnal

Sulit mengomunikasikan perasaan, sering kali membuat orang depresi semakin merasa terpuruk. Kehadiranmu sebagai pendengar yang baik adalah angin segar. Namun di samping itu, rekomendasikan ia untuk melakukan terapi jurnal. Terapi jurnal berarti menuliskan cerita tentang suasana hati di buku harian. Fungsinya untuk membantu agar perasaan negatif terlampiaskan secara positif. Terapi ini juga sekaligus menjadi pengingat akan hal-hal positif yang pernah terjadi dalam hidup, karena juga disarankan untuk mencatat paling tidak satu hal positif yang terjadi setiap harinya. Dengan demikian, pengidap depresi bisa lebih berpikiran dan berperilaku positif.

(Baca juga: Khasiat Saffron: Cegah Kanker Hingga Redakan Depresi, Kuy Kepoin!)
5. Selalu keep in touch dengannya

Terakhir, jaga selalu komunikasi (keep in touch) dengannya. Meski tidak bisa terus 24 jam disamping teman atau keluarga yang mengidap depresi tersebut, tak ada salahnya untuk rajin mengirim chat, direct message berisi meme lucu, atau meneleponnya setiap hari. Selain mengetahui kabar dan perkembangannya, cara ini tentu sangat menghibur batin yang sedang terluka. Secara tidak langsung pula, hal itu menjadi bentuk perhatian yang menyiratkan kalau ia sangat berarti di mata orang lain.

Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, semoga makin banyak orang yang lebih sadar akan pentingnya memperhatikan kesehatan mental. Ketika merasa depresei, cari pendengar yang baik sebagai tempatmu berkeluh kesah. Jangan takut dianggap ‘gila’ untuk berkonsultasi ke psikolog, agar lebih cepat menemukan solusi terbaiknya.

Sudah punya asuransi kesehatan, belum? Demi ‘kesehatan’ cash-flow mu, peran asuransi ini sangatlah penting. Apply sekarang juga di CekAja.com!

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.