Membuka akses finansial untuk jutaan masyarakat Indonesia

24 sec. read

Heboh #YangGajiKamuSiapa, Memang dari Mana Sih Uang Gaji ASN?

by Miftahul Khoer on 1 February, 2019

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menjadi bahan perbincangan warga net karena mengaitkan pilihan politik seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan menanyakan siapa yang menggajinya setiap bulan.

memulai investasi - CekAja.com

Rudiantara pun dirisak khalayak warga net. Sontak, tagar #YangGajiKamuSiapa menjadi ramai di media sosial. Peristiwa ini pun menjadi bahan kritik pendukung pasangan calon presiden (capres) tertentu yang mempertanyakan sikap sang Menteri.

Apalagi, peta politik saat ini sudah terlihat jelas terpolarisasi antara kubu pendukung capres 01 dan 02. Bagaimana sebetulnya kasus Rudiantara ini berawal, dan dari mana uang yang digunakan negara untuk membayar gaji ASN, menteri, anggota legislatif, sampai Presiden Republik Indonesia? Yuk langsung cek aja!

Berawal dari Voting Desain Stiker

Semuanya berawal ketika beredar sepotong video sebuah acara Kominfo Next yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis (31/1). Video tersebut diunggah di channel YouTube Kemkominfo TV yang berdurasi total sekitar 5 jam.

Dalam acara tersebut, Menkominfo Rudiantara memberikan arahan tentang kerja kementeriannya selama sisa periode pemerintahan Jokowi-JK saat ini. Kemudian ia membawa dua contoh desain stiker tentang sosialisasi Pemilu 2019 yang akan dipasang di Gedung Kemenkominfo. Sosialisasi yang sama juga dilakukan pada saat digelarnya Asian Games pada 2018 lalu.

Dua contoh stiker itu diperlihatkan kepada hadirin. Rudiantara menyuruh kepada ASN yang hadir memilih satu desain untuk dicetak dan dipasang di Gedung Kemkominfo. Desain yang diberi nomor 1 bercorak lebih cerah dengan dominasi agak kemerahan. Sementara desain nomor dua didominasi warna putih.

Dari awal, Rudiantara menegaskan agar voting ini tidak dikaitkan dengan Pilpres 2019 yang juga mengacu kepada nomor 01 dan 02. Rudiantara kemudian meminta kepada hadirin yang notabene ASN Kemenkominfo untuk memilih salah satu dari dua desain stiker tersebut. Sontak para hadirin ada yang memilih desain 1 dan juga 2.

(Baca juga: Aturan Baru, Gaji Pegawai Honorer Bakal Sama Dengan PNS!)

Rudiantara kemudian meminta dua orang yang memilih desain nomor 1 dan 2 maju ke atas panggung. Dan di sinilah kehebohan dimulai. Seorang ibu pegawai Kemenkominfo, ketika ditanya alasan memilih desain nomor 2 dengan polos menjawab, “Bismillahirrahmanirrahim, mungkin terkait keyakinan saja, Pak. Keyakinan atas visi-misi yang disampaikan oleh nomor dua, yakin saja,” jawab ibu ASN tersebut.

Rudiantara pun kembali menegaskan bahwa pilihan desain tersebut tidak ada kaitannya dengan Pilpres 2019. Berbeda dengan ASN yang memilih desain nomor 1 dengan alasan warnanya yang lebih cerah.

Namun, ketika keduanya turun dari panggung, rupanya Rudiantara langsung bertanya, “Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Hah? Bukan yang keyakinan ibu? Ya sudah terima kasih.”

Setelah keduanya kembali duduk, Rudiantara lalu memberikan penegasan kembali bahwa ASN tidak boleh larut hanya kepada Pilpres. Dia mengimbau agar Kemenkominfo harus menjadi penyatu dari perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat. Meski demikian, stiker yang dipilih oleh Rudiantara adalah nomor 2 yang lebih dipilih oleh para hadirin.

(Baca juga: Sebelum Ikut Seleksi CPNS, Pelajari Dulu 3 Jenis Tes Ini)

#YangGajiKamuSiapa Jadi Trending

Di tahun politik, apapun bisa menjadi senjata untuk dijadikan peluru menyerang lawan. Tak terkecuali kasus Rudiantara ini yang sontak menjadi trending di media sosial dengan tagar #YangGajiKamuSiapa. Netizen menilai Rudiantara tak patut mempertanyakan hal itu dan justru dia sendiri yang dinilai mengarahkan untuk mendukung pasangan nomor 01 yakni Jokowi-Ma’ruf Amin. Tagar ini pun menjadi trending lebih dari 40.000 orang yang mentweet dengan tagar tersebut.

Gaji Pegawai

Dalam Pasal 27 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan Komisi ASN merupakan lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik. Tujuannya untuk menciptakan Pegawai ASN yang profesional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

ASN dan juga para pejabat pemerintah ini digaji oleh negara yang berasal dari pajak rakyat tak terkecuali gaji menteri dan presiden. Untuk menjadi pejabat dan pegawai pemerintah, sedianya mereka berada dalam posisi netral atau tidak bermain politik praktis karena harus setia pada masyarakat seperti disebutkan dalam undang-undang di atas.

Besaran belanja pegawai untuk membayar gaji dari hasil pajak ini setiap tahunnya mencapai hingga ratusan triliun. Pada 2017 misalnya, gaji pegawai dianggarkan mencapai Rp243,3 triliun. Untuk 2019 angkanya lebih besar lagi yakni sekitar Rp368,8 triliun atau naik sekitar Rp26,1 triliun dari anggaran tahun 2018 yang sekitar Rp342,7 triliun.

Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha menjelaskan bahwa gaji ASN diambilkan dari APBN.

Nah, uang yang ada dalam dompet negara ini salah satu sumbernya dari pajak yang dibayar masyarakat.

“Gaji ASN kan dari APBN. APBN punya siapa? masyarakat. APBN itu ada pendapatan, ada belanja. Pendapatan dari mana? dari pajak, pajak kan dari masyarakat juga,” jelas Kunta Wibawa. 

(Baca juga: Gaji Sering Habis di Pertengahan Bulan? Cek Sebabnya di Sini)

Klarifikasi Kemenkominfo

Tak lama setelah tagar #YangGajiKamuSiapa viral, Kemenkominfo memberikan tanggapan untuk meluruskan keriuhan yang terjadi. Dalam siaran pers yang diunggah di laman resmi Kemenkominfo, Rudiantara merasa tak habis pikir mengapa ASN yang digaji rakyat/pemerintah menyalahgunakan kesempatan untuk menunjukkan sikap tidak netralnya di depan umum.

Dalam konteks inilah terlontar pertanyaan “Yang gaji Ibu siapa?”. Menkominfo hanya ingin menegaskan bahwa ASN digaji oleh negara sehingga ASN harus mengambil posisi netral, setidaknya di hadapan publik.

Atas pernyataan Rudiantara dalam kalimat “yang menggaji pemerintah dan bukan keyakinan Ibu”, kata “keyakinan” dalam hal ini bukanlah dimaksudkan untuk menunjuk pilihan ASN tersebut, melainkan merujuk kepada sikap ketidaknetralan yang disampaikan kepada publik yang mencederai rasa keadilan rakyat yang telah menggaji ASN.

Pihaknya menyesalkan beredarnya potongan-potongan video yang sengaja dilakukan untuk memutus konteks masalah dan tidak menggambarkan peristiwa secara utuh.

Tak harus nomor 01 dan 02

Netizen tampaknya kadung kesal dengan pernyataan Rudiantara hingga muncul tagar #YangGajiKamuSiapa. Netizen menilai, dari awal kalau memang Rudiantara tahu saat ini adalah tahun politik yang merepresentasikan dua pasangan calon yakni 01 Jokowi-Ma’ruf dan 02 Prabowo-Sandi.

Sehingga seharusnya Rudiantara menghindari embel-embel yang berbaru nomor urut. Bisa saja, pilihan voting desain stikernya diganti dengan huruf A dan B bukan dengan nomor 1 dan 2 yang jelas-jelas gampang ditafsirkan macam-macam oleh banyak orang.

Ferdinan Hutahean, politikus Partai Demokrat, yang juga juru bicara paslon nomor urut 02 menilai Rudiantara melanggar tindak pidana pemilu. Menurutnya, Rudiantara telah secara vulgar mengintimidasi pilihan politik anak buahnya. Dalam tweet yang diunggah dalam akun @Ferdinand_Haean, Ferdinand mengatakan aksi Rudiantara merupakan penindasan, pemaksaan dalam demokrasi yang seharusnya bebas.

Sementara itu, Anggota Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Inas Nasrullah Zubir menanggapi reaksi kubu Prabowo-Sandi yang membela ASN yang jelas-jelas menyalahi aturan tentang netralitas ASN. Inas memaparkan, apa yang dikatakan Rudiantara sudah tepat agar ASN netral seperti yang ditegaskan dalam video lengkapnya.

Nah, ngomong-ngomong Anda yang bukan ASN selama ini digaji siapa? Atau jangan-jangan malah sudah bisa menggaji orang lain? Itu baru hebat!

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

×

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami