Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Ibu Rumah Tangga Jadi Pebisnis, Gampang Kok

by Arfan Wiraguna on 19 Juni, 2015

Saat ini, berkembangnya pandangan di masyarakat yang melihat pendirian bisnis sebagai sebuah prestasi, ternyata sukses mendorong kaum muda untuk menjadi seorang wirausaha. Bagi wanita, profesi ini membutuhkan kemampuan tersendiri.

Sebab, wanita wajib mengimbanginya dengan keinginan tetap menjadi ibu bagi keluarga yang dibangunnya.

Istilah “mompreneur” bahkan semakin ramai dibicarakan orang pada akhir-akhir ini. Diambil dari kata “mom” (ibu) dan “entrepreneur” (usahawan), term ini menggambarkan tugas seorang wanita, sebagai bunda sekaligus pengusaha, dalam pembagian peran yang seimbang. (Baca juga: Ketika Istri Miliki Penghasilan Lebih Tinggi Dibanding Suami)

Bagi ibu rumah tangga yang ingin menjadi pebisnis, tanpa meninggalkan peranannya didalam keluarga. Di bawah ini kami tampilkan beberapa langkah yang dapat diterapkan:

Dimulai dari cari solusi

Walaupun terkesan sederhana, alasan utama yang kuat dalam mendirikan bisnis bisa membantu Anda tetap pada rencana awal ketika masa-masa sulit.

Terkadang, seorang ibu rumah tangga bisa memikirkan alasan sederhana, yaitu melihat masalah yang sedang dihadapi keluarga. Dari masalah tersebut bahkan terkadang tercipta sebuah solusi yang bisa dikembangkan menjadi sebuah bisnis.

Salah satu contohnya adalah kisah Christien Ismuranty pemilik bisnis Kainara. Dikutip dari portal organisasi online Indonesia Mompreneur, bisnis Christien tumbuh dari kebutuhan menyediakan hidangan sehat dan enak sesuai diet khusus dan rotasi makanan anaknya, Kay Saidpurnama Ismunara, yang mengalami autisme.

(Baca juga: Persiapan Finansial Ketika Memiliki Anak Pertama)

Ketika Kay harus berdiet, sulit untuk mencari makanan yang boleh dikonsumsi. Apabila ada makanan yang boleh dikonsumsi pun, biasanya itu merupakan produk impor dengan harga yang mahal, pilihan yang terbatas dan terkadang anak tidak disukai sang anak. Oleh karena itu, Christien memproduksi sendiri makanan untuk diet anaknya.

Setelah menjalani diet khusus tersebut selama dua bulan, Kay bisa tidur lebih tenang dan teratur serta sikap hiperaktifnya mulai hilang. Terapis Kay dan teman sesama orangtua anak penyandang autisme mendorong Christien untuk mengembangkannya menjadi usaha sehingga dapat menjangkau lebih banyak orang tua yang juga membutuhkan. Dari sinilah, Kainara mulai berkembang. 

Mulailah dengan kemampuan yang ada

Setelah memiliki alasan yang solid didalam mendirikan bisnis, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mulai pikirkan kemampuan apa yang dapat Anda lakukan untuk mewujudkan usaha tersebut.

Sebagian dari kita mungkin lebih pintar didalam mengelola keuangan dan memasarkan produk, namun sebagian yang lain lebih pandai dalam memasak.

Oleh karena itu, mulailah dulu dari kemampuan yang kita miliki dan lengkapi kekurangan kita dalam mendirikan usaha tersebut melalui kerjasama dengan anggota keluarga atau teman yang mempunyai latar belakang berbeda. 

Salah satu contoh bisnis yang sukses dibuat melalui kerjasama dengan anggota keluarga sendiri adalah Wonderland Bakery. Dikutip dari artikel Ibu dan Anak yang Sukses Berbisnis yang dimuat secara online oleh Kompas, merek dagang ini dikelola oleh seorang ibu bernama Sondra Ames, beserta anaknya Allyson Ames.

Keduanya menjalankan bisnis roti atau kue-kue dari mulai cupcake, cookies, serta kelengkapan bagi yang ingin mengadakan pesta.

Sukses dengan pembukaan toko yang pertama, mereka lalu melebarkan sayap dengan Allyson Wonderland Storytime Bear dengan produk buku masak, celemek, serta set perlengkapan masak. 

Jika ibu pandai dalam menjalankan manajemen bisnis, Allyson melengkapi kemampuan ibunya tersebut dengan keahlian memasak dan kulinernya. Kata mereka, meski ada hubungan personal, sesekali mereka berpikir untuk harus bersikap profesional.

(Baca juga: Siapkan Bisnis, Agar Tidak Tergantung Gaji)

Pisahkan keuangan bisnis dan keluarga

Seringkali, seorang ibu yang baru memulai bisnisnya masih mencampurkan aset bisnis dan keluarga. Walaupun sah-sah saja menggunakan barang milik keluarga, seperti kompor dan tabung gas, untuk kegiatan operasional bisnis, namun Anda harus mencatat penggunaan tersebut sebagai biaya sewa atau sejenisnya. Pencatatan ini diperlukan agar perhitungan keuntungan bisa dilakukan dengan tepat.

Misalnya, bisnis makanan yang dijalankan memiliki layanan pesan antar dan oleh karena itu, usaha ini membutuhkan kurir untuk mengantarkan pesanan. Tarif pengiriman normal adalah Rp450 ribu pengantaran sejauh 100 kilometer.

Untuk berhemat, Anda berniat untuk menggunakan kendaraan pribadi dengan total biaya bahan bakar sebesar Rp400 ribu. Padahal, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi adalah Rp5 juta per 10 ribu kilometer (Rp50 ribu per 100 kilometer) dan karena Anda perlu bolak-balik, biaya pemeliharaan kendaraan yang dikeluarkan sebenarnya adalah Rp100 ribu.

Dengan demikian, biaya total pengantaran dengan kendaraan sendiri adalah Rp500 ribu, lebih mahal Rp50 ribu dari tarif pengiriman normal.

(Baca juga: Wanita (Lebih) Butuh Asuransi Mobil, Benarkah?)

Siapkan waktu bersama keluarga yang fleksibel

Sebagai ibu rumah tangga, Anda tentu tidak ingin melewatkan momen kebersamaan dengan keluarga. Sebagai pebisnis, kesibukan yang meningkat akibat pendirian usaha bisa terjadi baik pada hari kerja maupun akhir pekan.

Oleh karena itu, tentukan pula waktu bersama keluarga yang fleksibel—tidak hanya ketika akhir pekan tetapi juga pada hari kerja—melalui diskusi dengan seluruh anggota keluarga. 

Baik Anda berencana untuk menjalankan bisnis tersebut dari gedung kantor maupun dari rumah, berikan perlindungan terhadap seluruh aset-aset perusahaan dan keluarga tersebut. Dengan demikian, waktu bekerja dan bersama keluarga bisa menjadi lebih berkualitas, tanpa cemas.

Tentang Penulis

Writer & Coffe Lover - Finansial dan ekonomi adalah makanan sehari-hari.