Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Imlek, Kemeriahan Pergantian Tahun yang Sempat Dilarang di Indonesia

by Sindhi Aderianti on 25 Januari, 2019

Imlek tinggal menghitung hari. Berbicara mengenai tahun baru etnis Tionghoa ini, pastilah selalu identik dengan dekorasi serba merah dan emas. Tak hanya itu, atraksi barongsai dan tarian naga pun menjadi hal wajib yang disaksikan secara langsung.

Semua elemen khas Imlek tersebut belakangan sudah meramaikan beberapa pusat perbelanjaan yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Makna dari perayaan Imlek sesungguhnya adalah pergantian tahun.

Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian yang berarti kalender bulan (Im=bulan, Lek=penanggalan). Di luar, perayaan ini lebih dikenal dengan Chinese New Year untuk orang-orang Barat, sementara orang Tiongkok asli menamakannya “Guo Nian” atau “Xin Jia” yang berarti bulan baru.

Tahun ini Imlek jatuh pada 5 Febuari 2019. Karena merujuk pada kalender China yang mengikuti pergerakan bulan, jatuhnya Tahun Baru Imlek tidak pernah tetap. Namun umumnya, terjadi antara pertengahan Januari atau Februari.

Sempat Dilarang di Masa Orde Baru

Di Indonesia sendiri, Imlek menyimpan berjuta sejarah yang tak terlupakan. Jauh sebelum bisa diselenggarakan dengan meriah seperti sekarang, Imlek dulu sempat dilarang.

Hal itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Dengan dikeluarkannya Inpres tersebut, seluruh perayaan tradisi dan keagamaan etnis Tionghoa, termasuk Imlek, Cap Go Meh, Pehcun, dan lain sebagainya hanya boleh dirayakan secara tertutup.

Alasan dilarangnya Imlek saat itu, pemerintah tak ingin ada kebiasaan atau kebudayaan Tionghoa, termasuk agamanya karena dianggap berpotensi membuat jarak antara warga asli dan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Kebijakan diskriminatif ini pada akhirnya semakin mengukuhkan sentimen anti Tionghoa dalam kehidupan bermasyarakat. Puncaknya, ketika krisis ekonomi 1998 terjadi.

Kala itu, banyak warga Tionghoa yang terpaksa harus eksodus ke luar negeri.

(Baca juga: Lebih Sehat di Tahun Baru dengan Gaya Hidup Vegetarian)

Kebijakan Gus Dur

Seiring dengan berakhirnya rezim Orde Baru, instruksi soal larangan Imlek ini pun berubah. Tepatnya ketika Gus Dur diangkat menjadi Presiden ke-4, beliau dengan kebijakannya yang baru membuka kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek serta tradisi lain.

Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2001 yang diteken Gus Dur pada 9 April 2001 lantas meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif bagi yang merayakan.

Bahkan di bawah kepempimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri, Imlek bukan lagi bersifat perayaan fakultatif. Melainkan sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Kebijakan ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek tertanggal 9 April 2002.

Berbeda lagi ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai menjabat sebagai Presiden ke-6 Indonesia. Pria yang popular disapa SBY, menandatangani Keppres yang menghapus istilah China dan kembali ke istilah etnis Tionghoa.

Menurutnya, tidak adil apabila mereka yang sudah lahir, besar dan bekerja serta mengabdi di Indonesia masih mendapatkan stereotype dengan penyebutan istilah etnis China atau Cina.

Hingga kini, Imlek jadi tradisi warga keturunan Tionghoa yang dirayakan secara terbuka dan besar-besaran di Indonesia. Kehadirannya selalu disambut dengan suka cita.

Bukan hanya bagi mereka yang merayakannya saja, namun unsur atraksi barongsai dan angpaonya juga dinikmati masyarakat asli pribumi. Diskriminasi kini menjadi penggalan cerita lama, mengingat keberagaman etnis yang tak mungkin dieliminasi salah satunya.

(Baca juga: 8 Tradisi Unik Tahun Baru di Berbagai Negara)

Uniknya Imlek di Indonesia

Imlek dirayakan dengan sejumlah tradisi turun-temurun yang tak luput sampai detik ini. Secara ritual, perayaan Imlek yang sewajib-wajibnya dilakukan adalah sembahyang. Tujuan dari sembahyang Imlek ini tak lain sebagai bentuk pengucapan syukur, doa dan harapan.

Bagaimana dengan Angpao? Tentu saja masih menjadi “primadona” bagi para lajang ketika menyambut Imlek.

Namun selain itu, masih ada tradisi khas Imlek lain yang membuat Imlek hampa tanpanya. Berikut di antaranya:

  • Pulang Kampung

Seperti halnya tradisi mudik Lebaran yang dilakukan pemeluk agama Islam, Imlek sering kali dimanfaatkan warga keturunan untuk mengunjungi sanak saudara.

Semua dilakukan demi mempererat tali persaudaraan. Maka tak heran, menjelang tahun baru ini banyak pula warga Tionghoa yang berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Imlek bersama keluarga mereka.

  • Santapan 12 menu

Hidangan yang tersaji ketika imlek biasanya terdiri dari 12 macam masakan dan 12 kue. Angka tersebut melambangkan shio yang berjumlah sama dalam budaya Tionghoa.

Makanan khas seperti kue keranjang dan buah jeruk yang melambangkan kemakmuran merupakan jenis hidangan wajib di setiap perayaan Imlek.

  • Cap Go Meh

Berakhirnya tahun baru ini ditandai dengan momen Cap Go Meh. Sebagai penutup rangkaian Imlek, Cap Go Meh menyuguhkan jamuan besar dan berbagai kegiatan.

Di Pontianak misalnya, Cap Go Meh dirayakan dengan ritual Buka Mata Naga. Tujuannya untuk mengundang para naga turun dari kayangan untuk memberikan berkah dan keselamatan.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami