Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

5 menit waktu bacaan

Ini 6 Alasan Pasangan Muda Gencar Beli Rumah

by Miftahul Khoer on 3 Oktober, 2018

Minat masyarakat membeli rumah semakin tinggi. Terbukti hampir di setiap daerah banyak pengembang yang membangun hunian untuk dipasarkan. Ada beberapa alasan masyarakat terutama pasangan keluarga lebih memilih membeli rumah ketimbang mengontrak atau tinggal bersama orang tua. Yuk cek!

beli rumah - CekAja.com

Kredit makin dipermudah

Sejak ramai wacana kredit rumah tanpa uang muka atau down payment (DP) beberapa waktu lalu, sebagian orang tidak percaya bahwa hal tersebut bisa berjalan. Sebab, pemerintah sendiri mematok besaran DP minimal 15 persen dari total pinjaman.

Aturan tersebut dibuat pemerintah untuk menekan angka kredit macet yang disebabkan pinjaman pembelian rumah. Namun, sejak Agustus 2018 aturan tersebut diubah. Pemerintah telah melonggarkan kebijakan pembayaran DP kredit rumah yang diserahkan kepada masing-masing bank.

Bahkan, Bank Indonesia mengizinkan perbankan untuk menawarkan KPR rumah pertama tanpa DP kepada masyarakat. Dengan demikian kebijakan tersebut akan menarik minat masyarakat untuk membeli rumah dengan cara kredit.

Selama ini, masyarakat mengeluhkan pembelian rumah selalu terhambat karena besaran uang muka yang ditetapkan perbankan terlalu memberatkan. Oleh karena itu, kebijakan uang muka yang diserahkan kepada perbankan diharapkan bisa menarik banyak masyarakat untuk memiliki hunian.

Konsumen tak pernah berkurang

Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer yang wajib dimiliki setiap orang. Maka dari itu konsumen properti tak pernah berkurang. Sebaliknya, minat masyarakat membeli rumah semakin bertambah.

Survei terbaru Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2-2018 menyebutkan sebanyak 6 dari 10 orang berniat membeli rumah pada sisa tahun ini.

Survei menyatakan sekitar 63 persen dari 1.000 responden tertarik membeli rumah hingga akhir tahun ini. Dari jumlah tersebut sebanyak 53 persen responden berasal dari golongan berpenghasilan gaji di bawah Rp7 juta per bulan, 30 persen berpenghasilan Rp7 juta – Rp15 juta dan sisanya berpenghasilan Rp15 juta.

Survei tersebut menyimpulkan ketertarikan masyarakat untuk membeli rumah terus meningkat. Mereka sebagian besar ingin membeli rumah pertama untuk ditempati. Sisanya dibeli untuk investasi masa depan.

(Baca juga: Tinggal di Kawasan Bising, Begini Tips Agar Rumah Hunian Tetap Tenang)
Keluarga muda baru makin bertambah

Hampir setiap harinya pasangan lelaki dan perempuan sah menjadi suami istri dan menjadi keluarga muda. Biasanya mereka yang belum memiliki hunian akan memilih untuk tinggal di rumah orang tua, ngontrak dan memutuskan untuk membeli rumah baik tunai atau kredit.

Namun, pilihan tinggal di rumah orang tua atau ngontrak biasanya tak bertahan lama. Mereka berpikir biaya ngontrak bulanan atau tahunan sama saja dengan biaya cicilan membeli rumah baru.

Dengan demikian banyak keluarga muda baru yang memutuskan untuk membeli rumah. Pasangan keluarga muda baru ini juga berpikir bahwa membeli rumah jauh lebih aman dan nyaman ketimbang tinggal bersama orang tua atau ngontrak.

(Baca juga: Tips Memanfaatkan Hunian Unik Sebagai Peluang Bisnis)
Harga semakin tinggi

Seseorang akan memutuskan untuk membeli rumah secepatnya karena sadar harga rumah semakin tinggi. Semakin menunda pembelian rumah, maka harga akan terus meningkat. Dengan demikian orang akan lebih membeli hunian sedini mungkin atau ketika rumah baru dibangun pihak pengembang.

Biasanya pihak pengembang akan memberikan harga menarik ketika hendak membangun perumahan. Pengembang juga akan memberikan promo atau diskon kepada calon konsumen.

Berbeda jika rumah tersebut sudah selesai dibangun dalam setahun atau dua tahun kemudian, maka harga yang ditawarkan akan lebih mahal ketimbang harga ketika saat dibangun.

Investasi menjanjikan

Di atas telah disinggung bahwa sebagian besar masyarakat membeli rumah untuk ditempati. Namun, ada juga yang membeli rumah untuk dijadikan investasi.

Golongan konsumen properti ini biasanya merupakan seorang yang telah memiliki hunian dan membeli hunian baru untuk dijual di masa mendatang. Harga jual rumah seperti kita ketahui berubah secara cepat.

Sebagai contoh, jika Anda membeli rumah pada tahun 2018 seharga Rp500 juta, maka dalam lima atau 10 tahun ke depan harga rumah tersebut akan naik dan Anda bisa menjualnya tentu lebih dari Rp500 juta.

Selain dijual, pembelian rumah tersebut juga dilakukan untuk investasi yang diberikan kepada anak atau cucu.

Mereka sadar jika membeli rumah pada masa mendatang harganya akan lebih mahal. Maka membeli rumah untuk diberikan kepada anak dan cucu dilakukan jauh-jauh hari mungkin.

(Baca juga: Mau Investasi Properti? Simak Kiatnya Yuk!)
Didukung pemerintah

Alasan berikutnya kenapa minat masyarakat membeli rumah makin tinggi yaitu adanya dukungan dari pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah tampak serius menggenjot pembangunan sejuta rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Rumah-rumah subsidi tersebut laku keras bak gorengan. Setiap ada pembangunan rumah subsidi, konsumen selalu antri bahkan banyak yang tidak kebagian seiring harganya dipatok di bawah Rp150 juta atau jauh lebih rendah dibandingkan harga pada umumnya.

Saat ini pemerintah bersama kalangan pengembang tengah mematangkan kebijakan baru terkait besaran rumah bersubsidi. Jika sebelumnya harga rumah dijual sekitar Rp130 jutaan, maka saat ini ada usulan dari pengembag untuk menaikkan harga rumah bersubsidi.

Nah, itulah beberapa alasan kenapa minat masyarakat membeli rumah terus meningkat. Apakah Anda salah satunya yang tertarik membeli rumah tahun ini?

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.