Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Ini Beda Pemilu 2014 Dengan 2019!

by Sindhi Aderianti on 22 April, 2019

Pemilu 2019 akhirnya selesai dilaksanakan. Seluruh masyarakat telah menggunakan hak suaranya untuk memilih presiden dan wakil presiden masa depan Indonesia. Berdasarkan data termutakhir yang dirilis KPU, 192 juta orang terdaftar menjadi pemilih, dengan 2 juta di antaranya berada di luar negeri.

Hasil quick count dari 9 lembaga survey menunjukkan, pasangan Jokowi-Ma’ruf memenangi duel panas tersebut dengan persentase sekitar 54,43 persen. Selisihnya terpaut 10% jika dibandingkan kubu oposisi Prabowo-Sandiaga.

Meski perolehan quick count sembilan lembaga belum mencapai 100%, sampel yang tersisa kabarnya tidak akan mengubah posisi suara. Berikut rangkuman hasil quick count sembilan lembaga tersebut yang diolah dari berbagai sumber:

1. Litbang Kompas – Data 97 persen

Jokowi-Ma’ruf: 54,52 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,48 persen

2. Indo Barometer – Data 99,67 persen

Jokowi-Ma’ruf: 54,32 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,68 persen

3. Charta Politika – Data 98,6 persen

Jokowi-Ma’ruf: 54,32 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,68 persen

4. Poltracking Indonesia – Data 99,3 persen

Jokowi-Maruf: 54,87 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,13 persen

5. Indikator Politik Indonesia – Data 95,7 persen

Jokowi-Maruf: 53,91 persen

Prabowo-Sandiaga: 46,09 persen

6. SMRC – Data 97,11 persen

Jokowi-Maruf: 54,86 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,14 persen

7. LSI Denny JA – Data 99,5 persen

Jokowi-Maruf: 55,77 persen

Prabowo-Sandiaga: 44,23 persen

8. CSIS dan Cyrus Network – Data 98,15 persen

Jokowi-Maruf: 55,59 persen

Prabowo-Sandiaga: 44,41 persen

9. Median – Data 98,02 persen

Jokowi-Maruf: 54,57 persen

Prabowo-Sandiaga: 45,43 persen

Bagaikan de ja vu, pilpres kali ini tetap mempertemukan dua calon presiden yang sama. Jokowi dan Prabowo seolah mengulang kembali pertarungan sengit mereka untuk menempati kursi RI 1 lima tahun silam.

Namun, ada segelintir perbedaan yang juga menghiasi dinamika pemilu 2019. Berikut di antaranya:

(Baca juga: Banjir Diskon dan Promo Menarik Pemilu 2019)
Jumlah parpol peserta pemilu bertambah

Lima tahun lalu, pemilu diikuti oleh 12 parpol nasional yang meliputi Partai NasDem, PKB, PKS, PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Hanura, PBB, PKPI. Adapun, 3 parpol lokal Aceh yakni Partai Damai Aceh, Partai Nasional Aceh, dan Partai Aceh.

Tambahan 4 parpol di tingkat nasional itu adalah Partai Garuda, Partai Berkarya, Partai Solidaritas Indonesia, dan Partai Perindo. Untuk parpol lokal Aceh yang bertahan hanya Partai Aceh, sedangkan tiga lainnya pun tergolong baru yakni Partai SIRA, Partai Daerah Aceh, dan Partai Nangroe Aceh.

Berbarengan dengan Pileg

Baru tahun ini pula, pilpres dilakukan bersamaan dengan pileg di Indonesia. Mekanismenya, tidak hanya akan memilih presiden dan wakil presiden.

Namun termasuk juga anggota legislatif dan kepala daerah. Hal tersebut otomatis membuat kertas suara yang harus dicoblos menjadi lebih banyak.

Setidaknya ada 4-5 kategori, yaitu Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dari tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Kesemuanya pun dibedakan menjadi warna-warni yang berbeda.

Dana kampanye bertambah

Dalam penyelenggaraan pemilu 2019, besaran dana kampanye mengalami penambahan yang cukup signifikan. Jika di pemilu 2014 sumbangan dari perseorangan jumlah maksimalnya Rp 1 miliar, tahun ini dinaikkan menjadi Rp 2,5 miliar.

Begitupun sumbangan dari badan hukum atau korporasi paling banyak terkumpul sekitar Rp 7,5 miliar pada pemilu 2014. Namun tahun ini, lagi-lagi jumlah tersebut dinaikkan menjadi Rp 25 miliar.

Aturan itu bukan sembarangan, tapi sudah termaktub dalam Pasal 327 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

(Baca juga: Ini Dia Potret Pemilu 2019 di Berbagai Negara)
Material kotak suara

Secara logistik, material kotak suara pun memiliki perbedaan. Di pemilu 2014, kotak suara yang digunakan berbahan plastik dengan warna buram. Sedangkan tahun ini, penyelenggara lebih memilih kotak suara yang konon menghemat anggaran hinga 70%, yakni karton.

Alih-alih diklaim lebih ekonomis, kotak suara berbahan kartun itu menimbulkan kerusakan seperti yang terjadi pada kecamatan Tamansari dan Ciseeng, Kabupten Bogor.

Di dua lokasi tersebut ada 682 kotak suara yang rusak. Beruntung, mereka punya cadangan 7.000 kotak sebagai penggantinya.

Hoax dan kecurangan merajalela

Pemilihan umum di Indonesia telah dilaksanakan sebanyak 11 kali yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, 2014. Uniknya, pemilu tahun ini lebih banyak mengantongi hoax dan isu kecurangan.

Seperti hoax perolehan exit poll pemilu luar negeri, serta isu kecurangan di berbagai daerah dimana kertas suara salah satu pasangan calon (paslon) sudah tercoblos.

Bukan hanya jadi senjata untuk saling menjatuhkan antar kubu, dampak buruk kasus tersebut justru semakin menimbulkan opini negatif yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

ODGJ boleh memilih

Satu hal yang juga sempat menjadi sorotan pemilu 2019, tak lain adalah diperbolehkannya penyandang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) untuk ikut menyuarakan hak politik mereka.

Namun dengan catatan, masih bisa diajak komunikasi dan tidak dalam titik pikir yang berbeda dari realita. Sehingga menurut sejumlah psikiater, ODGJ dengan kondisi tersebut masih memungkinkan untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini.

Perolehan suara memang belum menyentuh hasil akhir. Satu-satunya yang menjadi patokan, hanyalah perhitungan real count dari KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Tak perlu gegabah berselebrasi atau saling tuduh curang. Cukup tunggu pengumuman resminya kurang lebih 35 hari ke depan. Siapapun presiden dan calon presiden yang terpilih, mereka lah yang terbaik untuk Indonesia!

Tentang Penulis

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.