Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

INTERVIEW: Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah

by Gito on 7 September, 2018

Sudah hampir satu tahun, rupiah tampak begitu loyo terhadap dolar AS. Mata uang asal Negeri Paman Sam itu sukses mendorong nilai tukar rupiah jatuh sekitar 8,5 persen sepanjang tahun berjalan. Bahkan kemarin, nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp15.000 per dolar AS.

Beragam cara sudah dilakukan pemerintah untuk mengembalikan keperkasaan rupiah, mulai dari menggelontorkan dana sekitar Rp7,1 triliun untuk intervensi nilai tukar hingga membuat kebijakan kenaikan tarif pajak impor atau pph pasal 22 terhadap 1.147 barang.

Director for Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menuturkan langkah kebijakan itu memang perlu dilakukan agar rupiah tidak jatuh terlalu dalam . Disamping itu dengan adanya kebijakan baru berupan kenaikan tarif pajak impor maka bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Selain itu dirinya juga memaparkan lebih jauh bagaimana cara agar rupiah bisa kembali turun ke kisaran Rp14.000. Berikut petikan wawancara Budi Hikmat dengan CekAja.com.

(Baca juga: INTERVIEW: Kerja Keras Bank Indonesia Bangkitkan Nilai Tukar Rupiah)

Apa yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah?

Terdapat fenomena new normal dan kompleksitas yang membuat pemulihan rupiah tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Faktor eksternal juga ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar.

Faktor seperti kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memangkas pajak korporasi membuka peluang The Fed untuk menaikkan suku bunganya. Lalu terjadinya capital outflow, bahkan pada tahun ini merupakan kali pertama dalam 9 tahun, negeri ini mengalami outflow pada surat utang negara.

Berkurangnya aliran dana asing yang dulunya murah juga ikut memperburuk keadaan rupiah dan memicu repricing surat berharga.

Selain itu sentimen perang dagang AS dan China hingga perang suku bunga yang merupakan imbas dari krisis di Turki dan Argentina juga ikut mempengaruhi nilai tukar rupiah.

(Baca juga: Jangan Takut Krisis Meski Rupiah Sedang Jeblok, Ini Alasannya!)

Bagaimana dengan faktor internal?

Nah dari sisi internal, pelemahan datang dari perilaku konsumtif masyarakat. Hal itu terbukti dari banyaknya barang impor masuk ke Indonesia yang bersifat konsumtif. Bahkan karena kelakuan konsumtif kita, produktivitas kita juga berkurang.

Perilaku yang konsumtif dengan membeli produk-produk impor turut membuat defisit transaksi berjalan Indonesia terus membesar. Pada kuartal II tahun ini defisit transaksi berjalan RI sudah mencapai 3,04% terhadap PDB.

Impor juga turut membuat permintaan akan dolar Amerika Serikat (AS) membesar. Sehingga mendorong rupiah semakin melemah.

(Baca juga: Ini 5 Negara dengan Kredit Macet Tertinggi!)

Perilaku konsumtif juga menjadi salah satu alasan melemahnya rupiah?

Iya, perilaku seperti membeli gadget baru, bepergian ke luar negeri dan menggunakan barang impor, itu harus diperbaiki. Karena dengan begitu, membuat kebutuhan dolar meningkat.

Langkah apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan nilai tukar rupiah?

Salah satu caranya adalah dengan menurunkan nilai defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) hingga 40%. Kalau itu terjadi, rupiah bisa berada di kisaran Rp14.500. Tetapi kalau berbicara CAD, itu ada komponen ekspor dan juga impor, bagaimana kita bisa menekan impor.

Nah kebijakan pemerintah untuk menaikan tarif pajak impor atau PPH pasal 22 itu sudah tepat. Karena dengan begitu impor bisa tertahan dan diharapkan bakal mendorong ekspor.

Kebijakan itu kan mengatur tentang 1.147 komoditas, nah 218 itemnya itu masuk dalam kategori barang konsumsi. Beberapa dari barang tersebut juga sudah diproduksi di dalam negeri, memang harus ada yang dikorbankan jadinya.

(Baca juga: Tarif Impor 1.147 Barang Naik Demi Tahan Pelemahan Rupiah)

Karena dengan begitu pertumbuhan ekonomi pasti tidak akan maksimal. Karena dengan begitu daya beli akan terteken sehingga pertumbuhan ekonomi sulit untuk mencapai target yang diharapkan yakni 5,4 persen. Sampai di 5 persen sepertinya hingga akhir tahun. Memang harus ada yang dikorbankan untuk menahan penurunan.

Penurunan nilai tukar rupiah memang sedang menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Untuk itu beragam cara dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan mata uang negeri ini. Nah Anda sebenarnya juga dapat ikut berpartisipasi menggunakan produk dalam negeri.

Tentang Penulis

Jurnalis, penyuka musik britpop, sangat suka dengan dendeng kering.