Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

INTERVIEW: Kenaikan Suku Bunga Acuan Jadi Langkah Strategis

by Gito on 16 November, 2018

Bank Indonesia (BI) baru saja menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada Kamis lalu. Dalam forum tersebut disepakati bahwa BI bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen dari posisi sebelumnya 5,75 persen. Simak alasannya di sini!

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - CekAja

Hal itu merupakan langkah strategis regulator. Yang pertama adalah, guna menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman. Kedua, kenaikan suku bunga tersebut juga untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas di perbankan, Bank Indonesia menaikkan porsi pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah rerata (konvensional dan syariah) dari 2 persen menjadi 3 persen.

Di samping itu, BI juga meningkatkan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial/PLM (konvensional dan syariah) yang dapat direpokan ke Bank Indonesia dari 2 persen menjadi 4 persen, masing-masing dari Dana Pihak Ketiga (DPK)

Untuk mengetahui lebih jauh arah kebijakan BI, berikut petikan wawancara dengan Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai RDG. Simak yuk!

(Baca juga: Suku Bunga Acuan Naik, Apa Saja Dampaknya?)

Apa alasan BI menaikkan GWM Averaging atau GWM rerata?

Kalau kita lihat secara keseluruhan, likuiditas perbankan maupun pasar uang berada di level cukup. Itu terlihat dari rasio likuiditas yang terjaga di posisi 19,2 persen pada bulan September, lebih tinggi dari posisi Agustus 18,3 persen.

Nah, GWM Averaging dinaikkan untuk meningkatkan fleksibilitas dari distribusi likuiditas antar bank.  maka itu dasar dari kami mengeluarkan ketentuan yang terkait dengan GWM averaging.

Sementara terkait dengan Penyangga Likuiditas Makroprudential (PLM), jumlahnya itu 4 persen dari Dana pihak ketiga (DPK). Nah dari jumlah tersebut, ketentuan selama ini hanya 2 persen yang bisa dijadikan underlying untuk melakukan Repo ke BI, akhirnya kami menaikkannya menjadi 4 persen.

Dengan demikian seluruh surat-surat berharga yang dimiliki bank sebagai pemenuhan PLM bisa digunakan sebagai underlying repo ke BI dan karenanya bsa meningkatkan fleksibilitas manajemen bank-bank

Sehingga bank-bank kalau memerlukan likuiditas bisa menggunakan 4 persen PLM untuk kemudian di repo ke Bank indonesia. Kalau GWM Averaging itu kita naikkan dari 2 persen menjadi 3 persen.

Banner Kartu Kredit Oktober 2018

BI menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, apa dasarnya? 

Keputusan kenaikan BI 7 days repo rate sebagai langkah lanjutan BI untuk memperkuat upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman.

Selama ini sudah efektif, tetapi kita ingin memastikan kedepannya defisit transaksi berjalan akan terus turun. Dan kita upayakan dengan pemerintah, tahun depan menurun menjadi sekitar 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Di mana tahun ini diperkirakan lebih rendah di bawah 3 persen dari PDB.

Ke depannya kebijakan yang diambil akan seperti apa, mengingat Bank Sentral Amerika (The Fed) akan menaikkan lagi suku bunganya di Desember 2018?

Kenaikan suku bunga tersebut juga untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik khususnya SBN. Maksudnya adalah agar imbal hasilnya tetap menarik dan bisa mendorong aliran modal asing masuk sehingga bisa menjaga stabilitas nilai tukar.

Dan kebijakan tersebut juga bentuk antisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

(Baca juga: Jenis Suku Bunga Kredit Bank dan Cara Menghitungnya)

Defisit transaksi berjalannya pastinya turun ke berapa?

Kuartal tiga ini defisit transaksi berjalan 8,8 miliar dolar AS. Untuk keseluruhan tahun 2018 itu diperkirakan dibawah 3 persen dari PDB. Oleh karena itu dalam pernyataan yang dibawah 3 persen dari PDB sudah memperhitungkan defisit neraca perdagangan yang hingga hari ini mencapai 1,8 miliar dolar AS.

Impor kita memang masih cukup tinggi, namun didalam kandungan impor banyak kandungan barang modal, hal itu terkait dengan importasi barang mentah terkait dengan pembangunan infrastruktur.

Dengan demikian memang, defisit transaksi berjalan kalau dilihat komponen produktif, karena banyak komponen barang modal dan bahan baku. Ini akan meningkatkan produktivitas ekonomi kita dan prospek ekonomi jangka menengah panjang

Masalahnya didalam jangka pendek aliran modal asing kondisi global sedang diliputi oleh ketidakpastian, oleh karena itu BI dan Pemerintah sepakat untuk menurunkan CAD menjadi 2,5 persen PDB.

(Baca juga: Apa Itu Suku Bunga Kredit dan Pengaruhnya pada Pinjaman?)

Bagaimana strateginya?

Kita menaikkan suku bunga, meningkatkan fleksibilitas dari nilai tukar. Dengan nilai tukar yang bergerak sesuai mekanisme pasar, tentu saja bisa mendorong ekspor, mengurangi impor dan mengurang defisit transaksi berjalan.

Dari sisi pemerintah sudah banyak yang dilakukan. Tentu saja pemerintah juga akan menempuh sejumlah langkah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan, hanya perlu waktu untuk bisa berdampak pada transaksi berjalan.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami