Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

6 menit waktu bacaan

Intip Cara Baru Musisi Mendownload Duit di Era Digital

by Gito on 22 Februari, 2019

“Invasi digital” yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan teknologi telah berhasil masuk ke berbagai lini bisnis termasuk didalamnya juga industri musik. Untuk dapat terus menjaga eksistensi dan memastikan pundi uangnya terus terisi, para musisi juga ikut arus transformasi digital.

Bukan soal jenis musiknya, melainkan proses monetisasi uang dari karya yang dihasilkannya sudah beralih dari medium konvensional menjadi platform digital.

Memang jika membincang digitalisasi, mau tidak mau, suka tidak suka semua pelaku industri apa pun harus mempersilahkan masuk “barang anyar” itu menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup masyarakat.

Karena pada akhirnya masyarakat sendiri yang meninggalkan produk atau jasa pelaku bisnis yang masih mengedepankan jalur konvensional dan memilih menggunakan hasil  bisnis yang cepat, mudah dan juga efisien yang umumnya ditawarkan oleh perusahaan digital.

Lalu bagaimana dengan penerapan digitalisasi di industri musik? Tidak bisa dipungkiri, hal itu sukses mengubah budaya dan juga cara para musisi untuk menjual karyanya.

Jika dulu kesuksesan setiap pemusik ataupun pengarang lagu diukur dari berapa banyak penjualan album melalui compact disc (CD) ataupun piringan hitam, sekarang cukup dilihat berapa banyak jumlah pendengar musiknya di platform penyedia layanan streaming musik.

Ya, sekitar 5 tahun ke belakang, platform penyedia layanan musik streaming mulai bermunculan di dunia, dan semakin banyak penggunanya termasuk di Indonesia. Mulai dari Spotify, Joox atau MelOn yang menemani Itunes, besutan Apple yang sudah muncul lebih dulu berbarengan dengan penjualan ponselnya.

Hal itu masuk akal jika melihat data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), dimana pada tahun 2017 lalu dari 143,26 juta pengguna internet, 71,1% nya menggunakan internet untuk men-download musik.

(Baca juga: 5 Cara Paling Kekinian Untuk Dapat Uang Banyak dari Bermain Musik)

Maka, pantas saja jika akhirnya banyak musisi yang mulai menempatkan hasil karyanya di etalase digital. Bahkan penghasilan yang diperoleh si musisi juga tidak bisa dibilang sedikit loh.

Jika lagu miliknya sering diputar pengguna platform streaming musik tersebut, miliaran rupiah siap meluncur ke rekening si musisi. Namun perhitungan setiap platform berbeda-beda.

Semakin Populer, Semakin Tinggi Pendapatan

Salah satu penyedia layanan streaming musik, Spotify contohnya memberikan royalti kepada musisi sebesar 0,006 dolar AS hingga 0,0084 dolar AS untuk sekali streaming. Artinya, jika memang lagu yang ditempatkan merupakan lagu milik penyanyi ternama, maka tentunya semakin banyak pula uang yang mengalir.

Karena biasanya, semakin populer si artis, maka semakin besar pula kemungkinan karya-karyanya dicari dan diputar oleh khalayak. Maka tak heran, jika penyanyi papan atas seperti Taylor Swift, Adele, Dua Lipa dan artis kenamaan lainnya mampu meraup ratusan ribu dolar AS per bulan hanya dari streaming lagu.

Namun perlu diingat, nilai royalti yang diberikan bukan hanya untuk si penyanyi saja. Nilai tersebut akan dibagi lagi kepada para pemegang hak cipta, mulai dari label rekaman, produser, artis dan penulis lagu.

Nah disini peran pemasaran dan juga branding akan sebuah karya sangat dibutuhkan. Terutama bagi para musisi yang baru terjun ke industri musik. Karena karya yang baik jika tidak ditopang oleh pemasaran yang baik tentunya juga tidak akan menghasilkan output yang maksimal.

Khusus untuk industri musik di Amerika Serikat, besaran royalti untuk para pemegang hak cipta bakal berubah. Pasalnya Dewan Hak Cipta dan Royalti (CRB) dari Kongres Amerika telah menerbitkan aturan yang mengubah formula untuk menentukan besarnya pendapatan yang harus disalurkan oleh perusahaan streaming lagu kepada penulis lagu maupun perusahaan rekaman.

(Baca juga: Mengintip Nasib RUU Permusikan yang Menuai Protes)

Dikabarkan, tarif yang akan dikenakan akan meningkat menjadi 15,1 persen dari tarif sebelumnya 10,5 persen. Hal itu tentu membawa angin segar bagi para musisi di negeri Paman Sam, karena dengan adanya aturan baru itu maka penghasilan para artis berpotensi bertambah besar lagi dari sekarang.

Ingin musik kamu ada di Spotify?

Meski belum memiliki album sendiri, kamu yang memiliki suara bagus atau berbakat memainkan alat musik juga bisa loh memajang karya musik kamu di Spotify. Siapa tahu, sedikit demi sedikit akan semakin banyak orang yang memutar lagu bagus buatan kamu di Spotify.

Simak cara mudahnya di bawah ini:

  • Buat akun Spotify

Kamu hanya perlu membayar sekitar Rp260.000 untuk membuat satu akun, dan itu berlaku selama 1 tahun.

  • Karya orisinal

Karya yang ditampilkan pastinya harus memiliki nilai orisinalitas yang tinggi dan tidak ada unsur plagiatisme sama sekali. Nah dari situ, masyarakat pecinta musik yang akan menilai apakah lagu kamu banyak dicari atau diputar oleh berapa banyak orang.

  • Manfaatkan medsos

Lagi-lagi, strategi pemasaran yang mumpuni tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Kamu juga bisa menyebarkan karya musik lewat media sosial yang ada.

  • Pakai kartu kredit

Tetapi jika kamu hanya ingin menikmati musik di Spotify, caranya mudah, kamu hanya perlu membayar Rp50 ribu untuk mendapatkan layanan premium di Spotify.

Kalian juga bisa membayarnya menggunakan kartu kredit loh. Jika belum memiliki kartu kredit, kamu bisa segera bandingkan dan pilih kartu kredit mana yang paling sesuai dengan kebutuhan di CekAja.com.

Di sana, kamu bisa melihat detil penawaran yang diberikan masing-masing penyedia kartu kredit, mulai dari iuran tahunan, suku bunga, promo dan banyak lagi fasilitas lain yang bisa kamu temukan hanya dengan mengakses CekAja.com.

Untung 94 juta Euro

Memulai bisnisnya di tahun 2006, Spotify saat ini bersaing dengan platform penyedia musik streaming lainnya, Joox. Namun khusus untuk Indonesia, tampaknya Joox lebih familiar dibanding aplikasi penyedia musik streaming lainnya.

Maklum, Joox sendiri masuk ke Indonesia melalui Tencent Mobile dan MNC Grup, konglomerasi media yang dimiliki Hary Tanoesoedibjo, taipan asal Surabaya. Sedangkan Spotify, melebarkan sayap bisnisnya melalui strategi Spotify Global.

Namun secara bisnis, Spotify merupakan raksasa dalam industri musik streaming. Pada kuartal IV tahun lalu, perusahaan asal Swedia itu berhasil mengumpulkan keuntungan sebesar 94 juta euro.

Capaian itu didapatkan melalui 207 juta pengguna aktif bulanan dan 96 juta pelanggan premium yang tersebar di 79 negara. Jumlah yang cukup besar itu tidak didapat dengan serta merta, Spotify harus rela menderita rugi berturut- turut selama hampir 13 tahun beroperasi.

Tetapi yang pasti, hadirnya platform-platform digital di industri musik mampu mendorong nilai karya sebuah seni menjadi lebih berarti dan dihargai.

Nah, buat kamu yang punya kemampuan mumpuni di bidang utak-atik aplikasi dan pecinta musik, tidak ada salahnya merintis perusahaan streaming musik dengan mengedepankan citarasa Indonesia di dalamnya. Siapa tahu startup kamu nanti bisa menyalip perolehan untung Spotify jika dikelola dengan baik.

Jangan jadikan alasan tidak punya modal sebagai penghambat tekad kamu itu. CekAja.com bisa kok bantu mencarikan pinjaman dengan bunga yang rendah. Coba saja isi formulir di bawah ini kalau tidak percaya!

Tentang Penulis

Jurnalis, penyuka musik britpop, sangat suka dengan dendeng kering.