Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Jangan Pernah Mikir Berbisnis Kalau Kamu Masih Punya Mental Seperti Ini

by Rafly Aditia on 29 Maret, 2017

Terjun ke dunia bisnis bukan hanya harus siap soal uang atau ide saja, tetapi juga soal mental.

Yup, kalau kamu ingin berbisnis pastikan hatimu sudah mantap dan siap mental karena dunia bisnis sangat keras dibandingkan dunia kerja karyawan kantoran. Namun, bila sukses hasilnya sangat manis karena kamu bisa membeli kendaraan impian atau rumah mewah.

Mental baja, tidak mudah putus asa, dan berani ambil risiko merupakan beberapa hal yang harus kamu miliki kalau ingin sukses berbisnis. Sementara jika kamu punya mental seperti di bawah ini, segera urungkan niatmu untuk usaha atau berbisnis deh.

Selalu merasa sulit dapatkan modal usaha

Kalau kamu masih punya pemikiran bahwa mendapatkan modal usaha itu sulit, lebih baik tidak usah berbisnis! Yup, sebenarnya banyak sekali sumber-sumber yang bisa kamu gunakan untuk mendapatkan modal usaha. Misalnya, kamu bisa mengajukan kredit dengan agunan atau KTA kredit tanpa agunan. Bahkan kalau pengajuan modal usaha atau pinjaman ditolak berkali-kali oleh bank, kamu jangan mudah menyerah!

Lihat saja kisah Top Ittipat, seorang pemuda asal Thailand pemilik brand makanan ringan Tao Kae Noi. Dia yang pada saat itu masih berusia belasan tahun tidak menyerah untuk mengembangkan bisnis dan harus berkali-kali mengalami penolakan dari bank saat ingin mengajukan pinjaman modal usaha.

Namun, berkat kerja keras dan kegigihannya, dirinya berhasil mendapatkan pinjaman dari bank dan pada usia 21 tahun Top memiliki 270000 karyawan di 100 cabang.

Tidak peka dengan pasar

Kalau kamu masih belum mengerti apa sih yang dibutuhkan pasar, sebaiknya urungkan niatmu jadi pebisnis. Karena untuk menjadi pebisnis sukses, kamu memerlukan produk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Kalau sudah mengerti apa yang dibutuhkan pasar, barulah terjun ke dunia bisnis.

Kisah Nick Woodman penemu GoPro Action cam dapat dijadikan inspirasi. Dirinya yang merupakan seorang traveler, merasa bahwa para surfer atau peselancar membutuhkan kamera khusus yang dapat mengabadikan momen saat menaklukan ombak. Woodman pun akhirnya membuat kamera GoPro dengan sejumlah uang yang dimiliki dan pinjaman dari orang tuanya.

Ketika diluncurkan ke pasaran, hasilnya kamera GoPro buatan Woodman berhasil terjual hingga US$ 150 ribu di tahun pertamanya yaitu tahun 2004. Bahkan di tahun 2006 dia mendapatkan keuntungan hingga US$ 800 ribu.

Kurang inovatif

Salah satu hal yang paling dibutuhkan dalam mengembangkan bisnis adalah inovasi. Kalau kamu hanya stuck dengan produk yang gitu-gitu saja tanpa adanya inovasi, maka risiko mengalami kegagalan dalam dunia bisnis cukup besar. Sementara, jika berani berinovasi justru peluang untuk mencapai kesuksesan menjadi lebih tinggi lagi.

Contohnya adalah kisah bisnis transportasi online, Uber. Di tengah-tengah kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat akan transportasi yang murah dan responsif, Travis Kalanick dan Garret Camp berani meluncurkan sebuah aplikasi transportasi online yang dapat menjawab hal tersebut. Kesuksesannya sudah tidak perlu diragukan, bahkan hingga saat ini banyak aplikasi lain yang mengadaptasi konsep Uber.

Masih takut rugi

Sudah deh, kalau bisnis takut rugi sih lebih baik tidak usah berbisnis. Namanya berbisnis, pasti ada risiko kerugian. Hanya saja kamu harus pintar dan bermental baja dalam menghadapikerugian.

Mengalami kerugian merupakan fase yang pasti terjadi dalam berbisnis. Jika mengalami kerugian, kamu harus bisa belajar dari kesalahan. Seperti yang dialami Walt Disney yang harus bangkrut pada tahun 1923 karena tidak mendapatkan pendanaan dari distributor.

Tetapi, Walt Disney tak kunjung menyerah dan terus berkreasi bahkan meninggalkan Kansas City untuk pergi ke Hollywood dengan tujuan membangun kembali bisnisnya. Hasilnya? Saat ini Walt Disney merupakan perusahaan raksasa di bidang film kartun..

Cuma bisa jadi follower

Duh, kalau cuma bisa jadi copycat tanpa ada sesuatu yang berbeda, unik dan punya nilai lebih sebaiknya tidak usah menjalankan bisnis. Sudah sangat banyak contoh perusahaan-perusahaan yang hanya menggunakan strategi bisnis copycat atau sekadar ikut-ikutan akhirnya bangkrut.

Terutama di bidang teknologi dan informasi, kamu pasti sering mendengar perusahaan-perusahaan startup yang bangkrut dalam usia dini. Kebanyakan dari perusahaan tersebut hanya menggunakan strategi copycat alias ikut-ikutan saja tanpa menambahkan nilai lebih pada produknya.

Tentang Penulis

Writer. Fitness enthusiast.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami