Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

3 menit waktu bacaan

Jika Menganggap Miliarder Kerjanya Cuma Senang-senang, Itu Salah

by Ariesta on 9 Februari, 2016

kehidupan miliarder - CekAja.com

Apa yang ada di pikiranmu bila mendengar kata miliarder? Seseorang yang mewarisi kekayaan dari orangtua dan bisa bersenang-senang sepanjang hari sambil main golf. Atau, seseorang yang bebas berlibur ke manapun dan membeli apapun yang mereka mau. Sebenarnya tidak demikian.

Rumput halaman tetangga lebih hijau dibanding rumput halaman rumah sendiri. Mungkin kalimat itulah yang bisa dipakai untuk mengambarkan hal tersebut, Karena hanya memandang kulit luarnya saja, sampai saat ini masih banyak orang yang masih salah kaprah memandang miliarder. Sosok miliarder dipandang sebagai orang yang penuh kesenangan dan tanpa perjuangan. Pandangan-pandangan tersebut di antaranya karena beberapa mitos-mitos berikut;

Mereka hanya mewarisi kekayaan orangtua

Coba kamu baca buku buku karya Thomas J. Stanley berjudul “The Millionaire Next Door: Rahasia Mengejutkan dari Kekayaan Amerika”. Dalam buku tersebut digambarkan jika hanya 20% dari  miliarder yang mewarisi kekayaan dari orangtua. Sedangkan 80% lainnya merupakan golongan yang disebut orang kaya baru alias membangun kekayaan sendiri. Banyak miliarder tidak mendapat kekayaan mereja dalam semalam, tapi mereka benar-benar berusaha keras untuk mewujudkannya.

(Baca juga: Alasan Kenapa Kamu Masih Miskin dan Tidak Bisa Menjadi Miliarder)

Mereka tidak pernah khawatir tentang uang

Dari luar, kamu akan berpikir bahwa para miliarder merasa kaya dan tidak punya kekhawatiran terhadap hidupnya. Kenyataannya tidak seperti itu. Sebab mereka pun khawatir dengan pensiun, dana kuliah anak-anak, dan utang seperti kebanyakan orang. Dan kekhawatiran terbesar para orang kaya baru adalah mereka takut jika kekayaan mereka diakusisi orang lain.

Mereka dibayar mahal untuk semua yang dilakukan

Menjadi karyawan yang mendapat gaji bulanan memang tidak salah. Namun faktanya, separuh dari para miliarder adalah wiraswasta yang memiliki bisnis sendiri. Pendidikan mereka pun tidak mencapai doktor. Paling penting adalah; mereka harus menggaji diri sendiri dengan uang yang mereka miliki.

Mereka selalu miliki mobil mewah

Tahukah kamu bahwa kebanyakan miliarder di Amerika mengendarai Ford. Bahkan, Ford masuk ke dalam daftar mobil paling disukai miliarder. Sedangkan, dikutip dari onmoneymaking.com, merek-merek mewah seperti Cadillac ada di urutan kedua, disusul oleh Lincoln di urutan ketiga.

Apa alasannya? Mobil merupakan investasi dengan keuntungan kecil. Inilah mengapa para miliarder di Amerika menghindari kendaraan mahal dan lebih memilih mobil ekonomis.

(Baca juga: Mental Miliarder yang Membuat Mereka Bisa Sukses Berbisnis)

Mereka malas bayar pajak

Di Amerika, diperkirakan para miliarder yang mencapai 1% dari total penduduk produktif membayar hingga 40% dari semua pajak. Perubahan peraturan pajak bahkan membuat pajak yang harus mereka bayarkan lebih besar. Jadi, pikir dua kali sebelum menuduh orang terkaya tidak membayar pajak. Tapi, bagaimana di Indonesia?

Mereka hang out di tempat golf setiap hari

Sebagai negeri penghasil miliarder dunia, hanya 20% dari miliarder di Amerika yang telah pensiun. Sisanya? Mereka masih produktif bekerja. Para miliarder ini tidak bersantai-santai, mereka justru sibuk bekerja untuk memperoleh kekayaan lebih banyak lagi.

(Baca juga: Jack Ma, Pemilik Alibaba Ternyata Lebih Bahagia Saat Miskin Daripada Setelah Jadi Miliarder)

Mereka adalah orang-orang elite

Kini kamu telah mengetahui bahwa mayoritas miliarder tidak mewarisi kekayaan dari orangtua, tidak bersantai-santai, mengendarai mobil ekonomis, dan tetap merasa khawatir akan masa tua. Tidak ada bedanya dengan kamu bukan? Memang ada miliarder yang berasal dari golongan darah biru. Namun faktanya kebanyakan dari mereka adalah pekerja keras yang pandai mengatur uang.

Intinya, kamu pun bisa seperti mereka asalkan bijak mengatur uang. Kebiasaan ini tentu saja membutuhkan disiplin. Tapi jika mereka bisa, kamu pun punya kesempatan yang sama.

Tentang Penulis