Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Jokowi dan Kampanye Hi-Tech

by Gito on 8 April, 2019

Kontestasi politik tahun ini tampak sangat dinamis dan juga unik. Banyak sekali kejutan-kejutan yang muncul dari masing-masing peserta. Mulai dari adanya istilah tol langit hingga digunakannya hologram 3 Dimensi (3D) sebagai media komunikasi politik.

Ya, dalam Karnaval Indonesia Satu yang dilaksanakan oleh salah satu pasangan peserta pemilihan umum (pemilu) 2019, Joko Widodo – Ma’ruf Amin pada minggu lalu (7/4), muncul hologram yang serupa dengan penampilan Joko Widodo.

Penampakan hologram itu sejatinya bukanlah baru pertama kali dimunculkan. Pada bulan Maret lalu saat kampanye yang digelar di Sukabumi, Hologram Joko Widodo juga muncul untuk menjelaskan program-programnya.

Salah satu karya anak bangsa itu memang sengaja ditampilkan untuk wilayah-wilayah yang kebetulan tidak bisa dihadiri oleh pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dalam agenda kampanyenya. Jadi seakan – akan Joko Widodo hadir di wilayah tersebut dan memberikan informasi tentang programnya.

Selain itu, digunakannya hologram sebagai salah satu media komunikasi massa dalam kampanye Jokowi-Ma’ruf memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah unsur kebaruan.

Ya, penggunaan hologram memang baru pertama kali digunakan oleh pasangan Jokowi – Ma’ruf selama kampanye pemilu 2019 berlangsung. Melalui media komunikasi seperti itu maka pesan yang disampaikan dapat lebih baik dan sempurna karena hologram dapat bergerak lincah, cepat dan fleksibel layaknya manusia.

Keunggulan lainnya adalah kehadiran hologram juga mampu menghadirkan kegembiraan, karena konten hologram yang dikemas sebagai pertunjukkan. Jadi masyarakat bisa mendengarkan program sekaligus terhibur.

Nah bagi generasi Z, kehadiran hologram diharapkan dapat dijadikan landasan untuk memilih pasangan calon nomor urut 01 itu karena mengedepankan gaya kekinian juga teknologi tinggi. Ya, generasi Z memang terkenal dengan gaya hidupnya yang sarat akan sentuhan teknologi dan juga digitalisasi dalam segala aspek kehidupan.

(Baca juga: 10 Merchandise Star Wars Termahal yang Pernah Dijual)
Hologram Bukan Baru Pertama Digunakan dalam Politik

Namun jika menilik kebelakang, langkah serupa sebenarnya juga pernah dilakukan oleh Calon Perdana Menteri India pada tahun 2014 lalu, Narendra Modi yang menggunakan hologram 3D sebagai medium berpidatonya yang disiarkan di sekitar 50 kota.

Efisiensi tempat dan juga waktu juga menjadi salah satu alasan Modi hingga akhirnya memilih Hologram sebagai media komunikasi politiknya. Lalu bagaimana hasilnya?

Dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia, langkah yang dilakukan oleh Modi tampaknya berhasil, dan dia sukses menduduki posisi Perdana Menteri India.

mpanye dengan teknik serupa dilakukan juga oleh Jean-Luc Melenchon, salah satu Calon Presiden dalam pemilihan di Perancis 2017 lalu. Namun bukan hologram 3D yang digunakan oleh Melenchon, melainkan hologram versi 2D yang menyerupai dirinya.

Dia berkampanye di dua kota yang berbeda pada saat yang sama. Kala itu Melenchon dijadwalkan melakukan pidato di Lyon, namun di saat yang sama dia juga hadir di depan ribuan pendukungnya di Kota Paris.

Di negara tetangga, Malaysia, penggunaan hologram juga sudah digunakan saat kampanye. Pada 2018 lalu, Koalis Barisan Nasional menggunakan hologram untuk mendapatkan simpati dari pemilih muda.

Di Indonesia sendiri penggunaan hologram oleh pemerintah juga bukanlah hal baru, karena pada tahun 2016 lalu Walikota Semarang Hendrar Pridadi pernah menggunakan teknologi tersebut di gedung Pusat Informasi Publik (PIP) Balai Kota Semarang.

Namun yang dilakukan oleh Hendrar bukan bertujuan politik, melainkan untuk mengenalkan profil kota Semarang kepada masyarakat luas. Itu mengapa dalam Pilpres 2019, penggunaan hologram disebut-sebut pertama kali digunakan oleh pasangan Joko Widodo – Ma’ruf.

(Baca juga: Mengenal Kartu Pra Kerja, Janji Baru Joko Widodo)
Tol Langit

Salah satu unsur kebaruan dan berbau teknologi tinggi dalam Pilpres 2019 adalah adanya istilah tol langit. Ya, dalam acara debat yang diikuti oleh kedua Calon Wakil Presiden (Cawapres), istilah tersebut dilontarkan oleh Ma’ruf Amin, cawapres nomor urut 01.

Istilah tol langit sendiri merujuk pada penggunaan istilah yang menggambarkan sambungan tanpa batas bagi sinyal internet yang menghubungkan seluruh wilayah di Indonesia.

Ya, selama ini, jaringan internet hanya menyambungkan sebagian wilayah di Indonesia, terutama di kota-kota yang banyak penduduknya.

Sedangkan bagi wilayah terpencil di Indonesia yang jarang penduduk, masuk dalam kategori “susah sinyal” bahkan blankspot. Untuk itu, pemerintah saat ini menggagas Palapa Ring, yakni sambungan jaringan kabel optik sepanjang lebih dari 22 ribu kilometer yang meng hubungkan titik blankspot tersebut.

Dengan adanya Palapa Ring, maka Indonesia akan sepenuhnya menyatu melalui fiber optik. Itulah yang dinamakan tol langit, jadi maksudnya adalah internet bebas hambatan di seluruh Indonesia.

Nah bagi kamu pebisnis yang membutuhkan jejaring internet yang terkoneksi di semua wilayah, hal itu tentu membawa hal positif. Terutama untuk kemajuan bisnis kamu.

Jangan takut modal habis untuk bisnis, ajukan Kredit Tanpa Agunan (KTA) saja di CekAja.com. Dan temukan produk keuangan yang cocok untuk kamu.

Tentang Penulis

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami