Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

3 menit waktu bacaan

Kata Siapa Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan?

by Ariesta on 3 Mei, 2016

pekerjaan akhir pekan - CekAja.com

Money can’t buy happiness, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Pepatah terkenal ini mengungkap seakan menekankan jika uang memang bukan segalanya. Kebahagiaan tidak selalu bergantung pada uang. Tapi benarkah demikian?

Studi yang dilakukan oleh Universitas Cambridge membuktikan jika orang yang membelanjakan uang untuk hal-hal yang mereka sukai terbukti lebih bahagia. Dalam studi tersebut, sebanyak 625 orang mengambil bagian dalam tes kepribadian. Setelah dianalisis, respons para responden rupanya cocok dengan transaksi keuangan selama enam bulan terakhir.

Terdapat total 60 kebiasaan menghabiskan uang sesuai dengan lima macam kepribadian: petualang, neurotic, mengusung gaya hidup sehat,  ektrovert, dan ramah. Para peneliti menemukan bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak uang untuk pembelian yang sesuai kepribadian mereka ternyata lebih bahagia.

Misalnya seseorang yang punya kepribadian ramah cenderung menghabiskan uang untuk beramal. Semakin banyak mereka membelanjakan uang untuk membantu orang lain, makin bahagia pula mereka. Lalu mereka yang berjiwa petualang tidak keberatan jika menghabiskan uang untuk traveling dan merasakan pengalaman baru meskipun mahal.

Kemudian mereka yang berkpribadian neurotic lebih banyak menghabiskan uang untuk di meja judi atau lotre dan mereka merasa puas meski merugi. Begitu juga dengan orang yang menerapkan gaya hidup sehat merasa tak masalah menghabiskan banyak uang untuk fitnes dan membeli makanan organik meskipun mahal. (Baca juga: Kenapa Orang Kaya Sering Tidak Sadar Kalau Mereka Kaya?)

Lantas benarkah uang bisa membeli kebahagiaan?

Easterlin paradoks (diberi nama sesuai dengan pencetusnya, profesor Richard Easterlin, dari University of Southern California) mengklaim jika orang kaya memang bisa lebih bahagia daripada orang miskin. Namun negara kaya belum tentu lebih bahagia dari negara miskin. Dan saat sebuah negara makin kaya, penduduknya belum tentu semakin bahagia. (Baca juga: Jack Ma, Pemilik Alibaba Ternyata Lebih Bahagia Saat Miskin Daripada Setelah Jadi Miliarder)

Adakah penelitian yang bisa membuktikannya?

Sebuah studi yang dilakukan oleh ekonom Justin Wolfers dan profesor Betsey Stevenson dari University of Michigan membuktikan sebaliknya. Dari 155 negara dengan 95 persen populasi dunia yang mereka pelajari, mereka menyimpulkan jika negara kaya diikuti dengan tingkat kebahagiaan penduduknya.

Saat kekayaan negara meningkat diikuti dengan perbaikan fasilitas umum, upah minimum, dan lapangan pekerjaan, penduduk pun semakin bahagia. Hubungan antara penghasilan dan kebahagiaan pribadi sangatlah kuat. Contohnya adalah Denmark, Swiss, Finlandia, dan Norwegia yang secara berturut-turut menempati posisi negara terkaya di dunia. (Baca juga: Daftar Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia)

Tapi ternyata bahagia itu memang sederhana…

Kondisi unik dialami oleh Islandia dan Irlandia yang keduanya mengalami krisis perbankan yang berefek langsung terhadap kondisi perekonomian mereka. Tapi apakah ini mempengaruhi tingkat kebahagiaan penduduknya? Jawabannya adalah tidak. Hal ini karena kedua negara tersebut memiliki support sosial yang bagus. Buktinya Islandia menempati posisi ke-19 negara terbahagia di dunia versi 2016.

Sebuah negara mungkin memiliki penduduk yang sangat kaya dan penduduk yang sangat miskin. Orang miskin tidak punya cukup uang untuk hidup layak sehingga tidak bahagia. Orang kaya punya banyak uang, tapi tidak punya support sosial, teman, atau hidup di negara yang pemerintahnya sangat korup, otoriter, sehingga pilihan untuk menggunakan uang tersebut sangat terbatas. (Baca juga: 5 Hal Ini Mudah Dilakukan Tapi Bisa Bikin Kamu Kaya Raya)

Easterlin paradoks memang mengemukakan jika negara kaya lebih bahagia daripada negara miskin. Namun Easterlin juga menegaskan bahwa meski penghasilan dan kebahagiaan saling berhubungan, kebahagiaan tersebut hanya bertahan sebentar. Hubungan tersebut perlahan menghilang seiring berjalannya waktu.

Contohnya kamu sangat senang saat gajimu naik. Tapi setelah dua atau tiga bulan berlalu, kamu merasa biasa saja. Toh harga-harga dan gaya hidup juga semakin mahal. Jadi benarkah uang bisa membeli kebahagiaan? Nampaknya jawaban yang paling tepat adalah tergantung bagaimana kamu bisa menjaga kebahagiaan itu. Setuju?

Tentang Penulis