Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Kebakaran Hutan, Yuk Mengenal Teknik Rekayasa Hujan Buatan

by Gito on 25 September, 2019

Sudah hampir dua bulan wilayah Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dihantam kabut asap. Dengan dalih bisnis dan memberdayakan hasil bumi , para oknum pelaku pembakar hutan rela membiarkan hampir 1 juta orang terpapar polutan hasil kerjanya.

Sejatinya, permasalahan kebakaran hutan bukanlah barang baru di negeri ini. Di Riau contohnya, sudah hampir 22 tahun wilayah tersebut terpapar asap hasil pembakaran hutan. Baru 2 tahun terakhir saja wilayah yang juga disebut sebagai Bumi Lancang Kuning itu terbebas dari asap.

Bahkan menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), secara total terdapat 2.719 titik panas yang tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan juga Bali.

Luasan lahan yang terbakar juga sudah mencapai 328.724 hektar atau hampir mencapai 5 kali lipat dari luasan Jakarta.

Paparan asap juga sudah mencapai negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Pemerintah tidak tinggal diam, beragam cara dilakukan untuk memadamkan kobaran api agar tidak meluas. Ada yang menggelar sholat minta hujan dan ada juga yang membuat mekanisme hujan buatan.

Nah membincang hujan buatan, tidak hanya Indonesia yang membuat skema seperti itu. Di beberapa negara lain juga sering membuat mekanisme seperti itu dengan beragam tujuan, mulai dari untuk pengairan ataupun untuk menghijaukan lahan pertanian.

Berikut merupakan beberapa fakta tentang hujan buatan yang digunakan untuk memadamkan kebakaran hutan di Indonesia. Simak yuk!

(Baca juga: Darurat Kabut Asap: Pahami Dampak dan Bagaimana Cara Melindungi Diri)
Hujan buatan pertama kali ditemukan pada 1946

Proses pembuatan hujan buatan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1946 oleh ilmuwan asal Amerika Serikat (AS) Vincent Joseph Schafer. Hebatnya, teknik rekayasa hujan buatan tersebut diciptakannya secara otodidak.

Kala itu Schaefer yang tengah bekerja di laboratorium penelitian, bersama dengan teman-teman peneliti lainnya berhasil membuat badai salju pertama dan menyentak dunia penelitian selama ini.

Bakatnya terus berkembang hingga dia melakukan eksplorasi tentang teknik pembuatan awan.

Schaefer muda kemudian menggandakan efek dari pesawat terbang dengan menggunakan 27 kilogram bahan kimia kering yang dibuang keawan. Hasilnya menunjukan bahwa salju dan hujan buatan bisa dibuat.

Penelitian Schaefer tidak berhenti disitu, dia bersama temannya Bernard Vonnegut mengembangkan perak iodida sebagai benih awan yang kemudian terus berkembang hingga saat ini.

Namun hal tersebut ternyata menuai pertentangan dari beberapa pihak, karena diduga bisa mengganggu pola cuaca dan berakibat mendatangkan cuaca buruk.

Meski begitu, teknik rekayasa hujan buatan ini juga pernah digunakan untuk untuk membersihkan awan di beberapa bandara. Tujuannya agar jarak pandang dan juga perjalanan pesawat terbang menjadi lebih aman.

Menyemai awan dengan garam

Di Indonesia, rekayasa hujan buatan dibuat dengan menyemai awan dengan menaburi garam. Adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menggalakkan pembuatan hujan buatan guna mengurangi titik panas akibat pembakaran hutan.

Namun teknik itu bisa dilakukan di awan yang memiliki kadar potensi hujan minimal 70 persen. Setelah itu barulah kemudian BPPT menerbangkan pesawat khusus yang membawa garam atau NaCl untuk masuk ke awan dan menyebar garam.

Tujuannya adalah membuat awan tersebut matang dan akhirnya menurunkan hujan. Teknik tersebut sukses dilakukan di Riau dan juga Kalimantan.

(Baca juga: Ternyata, Tidak Hanya Kebakaran yang Dilindungi Asuransi Properti)
Berton-ton garam di turunkan

Khusus untuk wilayah Riau, pemerintah sudah mendatangkan garam berton-ton. Sudah ada 3 pesawat yang diterbangkan untuk mengangkut garam. Ada Cassa 212-200 dengan kapasitas 1 ton, kemudian CN 295 berkapasitas 2,4 ton dan Hercules yang berkapasitas 5 ton.

Melalui penyemaian garam tersebut, zat NaCl akan mengikat butiran aiar dalam awal yang kemudian menggumpal dan menjadi berat. Setelah itu terjadi diharapkan hujan bisa segera turun karena bobot air dalam awan sudah tidak tertampung lagi.

Kamu juga bisa membantu pemerintah untuk mengurangi titik api. Yakni dengan terus melakukan edukasi tentang penggunaan produk ramah lingkungan. Kalau kamu mau mencoba berwirausaha, lakukan dengan prinsip hijau dan tetap menjaga lingkungan.

Tetapi kalau butuh modal usaha, jangan segan untuk mengakses CekAja.com dan ajukan produk keuangan yang menurut kamu paling cocok.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami