Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Kenapa Saat Belanja di Supermarket Sebaiknya Jangan Sering Bawa Anak?

by Ariesta on 26 April, 2017

belanja bulanan_kartu kredit - CekAja.com

Bagi wanita, belanja dianggap kegiatan yang menyenangkan. Berbelanja kebutuhan sehari-hari entah di pasar maupun di supermarket menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu para ibu.

Karena selain pada dasarnya wanita memang suka belanja, setelahnya bisa sekalian cuci mata atau ke salon. Tapi kegiatan belanja bisa berakhir pahit ketika melihat struk atau tagihan belanja melebihi anggaran.

Padahal mungkin kamu sudah belanja sesuai catatan. Ketika dirunut penyebabnya, ternyata kamu selalu membawa anak saat belanja. Selain bisa menyebabkan masalah finansial, membawa anak saat belanja juga sebabkan masalah kesehatan. Yuk simak penjelasannya.

Belanjaan makin mahal karena anak ikut belanja

Hayo, siapa yang saat di kasir tiba-tiba menemukan cokelat, buskuit, atau macam snack lainnya di keranjang belanja? Ternyata diam-diam si kecil memasukkan camilan kesukaannya ke keranjang belanja. Karena tidak ada waktu untuk menaruh kembali di rak atau tidak tega karena si kecil merengek, belanjaan pun jadi mahal. Padahal anak sudah diberi uang jajan terpisah.

Kalau ini sering terjadi padamu, tinggalkan anak di rumah atau titipkan sebentar pada kakek dan neneknya. Kalau tidak mungkin, belanjalah di akhir pekan sehingga bisa menjaga anak bergantian dengan suami. Dengan mematuhi catatan belanja, pengeluaran bulanan untuk kebutuhan sehari-hari tetap terkontrol.

Anak jadi sering jajan

Membiarkan anak memilih sendiri jajanannya membuat orangtua tidak bisa mengontrol asupan gizi si kecil. Di supermarket, anak bisa melihat beragam merek penanganan. Khawatirnya, semakin banyak tahu, semakin anak ingin beli ini itu.

Sama halnya seperti orang dewasa yang awalnya beli baju biasa-biasa saja. Namun, ketika semakin banyak tahu merek-merek branded, keinginan untuk beli pun makin besar.

Anak mencontoh pola belanja konsumtif orangtua

Lain lagi kalau kamu ternyata seorang yang boros atau konsumtif. Hanya butuh dua, tapi yang dimasukkan ke keranjang tiga atau empat. Stoknya masih ada di rumah, tapi malah beli lagi. Ketika si kecil melihat ini, dia bisa menganggap perilaku konsumtif yang dilakukan orangtua sebagai hal yang wajar.

Takutnya anak tidak bisa membedakan keinginan dengan kebutuhan. Bagaimanapun juga orangtua adalah contoh pertama bagi anak. Tidak mau kan saat dewasa nanti si kecil jadi konsumtif bahkan ketergantungan kartu kredit demi memenuhi hasrat belanja?

Meski demikian, kamu juga bisa menerapkan kebiasaan belanja yang baik dengan mengajak anak. Caranya dengan meminta anak mencari barang yang tertera dalam catatan belanja, sehingga pengeluaran tepat seperti yang diperkirakan. Tapi ini hanya berlaku untuk orangtua yang disiplin dalam belanja ya.

Rawan kecelakaan

Mungkin kamu pernah menonton satu dua video CCTV di mana anak hilang, diculik, atau bermain escalator lalu terjatuh dari lantai tinggi? Meski terdengarnya menakutkan, kejadian-kejadian tersebut benar-benar terjadi.

“Tapi kan anak saya aman karena didudukkan dalam troli?” Orangtua mungkin berpikir aman, namun risiko jatuh atau terjepit biasa saja terjadi. Perlu diingat, troli tidak dilengkapi alatg pengaman seperti pada wahana roller coaster. Bahkan menurut studi yang dilakukan Clinical Pediatrics Amerika, sebanyak 24 ribu anak dilarikan ke rumah sakit akibat jatuh dari troli setiap tahunnya alias 66 kasus anak terjatuh dari troli setiap harinya. Masih berpikir troli aman?

Anak jadi gampang sakit

Faktanya troli belanjaan disentuh dan dipakai banyak orang setiap hari. Dan sangat mungkin troli-troli di supermarket tidak pernah dibersihkan!

Tidak ada garansi semua yang menggunakan troli itu sehat atau tidak mengidap penyakit menular. Sangat mungkin virus-virus berbahaya menempel di troli dan dapat menyebabkan penyakit serius. Apalagi anak suka memasukkan tangan ke mulut. Ketika tangannya habis menyentuh besi-besi lalu memasukan tangan ke mulut, infeksilah yang terjadi.

Daya tahan anak berbeda dengan orang dewasa sehingga anak lebih rentan terhadap virus. Hal ini ada buktinya lho. Dalam kisah yang menjadi viral di Facebook, seorang ibu bernama Vivienne Wardop harus membawa anaknya ke rumah sakit karena putranya Logan sakit parah.

Logan mengalami muntah-muntah dan diare akut. Ternyata, tubuh Logan terserang banyak virus seperti adenovirus, rotavirus, salmonella, dan meningitis yang mengharuskannya diopname selama 10 hari. Setelah diusut, virus-virus ditemukan di troli yang dipakai Vivienne untuk belanja dan menududukkan Logan.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami